Breaking News

Pelaku Hoaks Adalah Manusia Anti Pancasila

Pelaku Hoaks Adalah Manusia Anti Pancasila.

Hoax atau berida dan informasi bohong merusak bangsa dan anti Pancasila. Hal itu disampaikan Koordinator Nasional Indonesia GAGAH (Gabungan Gerakan Anti Hoaks), Nanang Qosim dalam siaran persnya, Jumat (16/03/2018).

 

Nanang menyampaikan, tidak ada hoaks atau hoax yang positif, karena hoax itu berita bohong yang bermaksud jahat. Banyaknya berita bohong (hoaks) beredar melalui media massa dan jejaring sosial yang telah berdampak signifikan, karena pengguna media sosial tidak mengetahui secara benar dan akurat terhadap suatu berita.

 

“Tetapi pengguna media sosial sudah membenarkan berita tersebut dengan cara ikut menyebarkan kembali. Sedangkan pembuat hoax, kemungkinan tidak berpikir dampak yang diakibatkannya,” ujar Nanang.

 

Selama ini, lanjut dia,  sudah banyak korban dari dampak berita hoax, instansi, tokoh-tokoh dan elemen bangsa lainnya pernah menjadi sasaran tembak bagi pembuat hoax. Fenomena ini tanpa disadari sudah menjadi sebuah isu yang meresahkan dan mengancam ketertiban situasi negara.

 

“Kadang tanpa sadarkonten hoax sangat meyakinkan, apalagi disertai data yang terlihat akurat, pengguna media sosial yang tidak berpikir kritis meramu berita hoax untuk disebarkan, akhirnya disseminasi hoax diterima khalayak ramai,” tutur Nanang.

 

Bahkan, lanjut dia, hoax telah melenyapkan nalar publik terhadap situasi yang semestinya berlaku. Kemungkinan penyebar dan pembuat hoax tidak berpikir bahwa negara ini harus dirawat dengan penuh kehati-hatian, karena sifat kemajemukan bangsa ini, sangat rentan terhadap sebuah isu yang berakibat kerusuhan atau kekacauan dalam kehidupan sosial.

 

Adakalanya, sambung dia, penyebaran berita hoax atas dasar kepentingan elit politik tertentu untuk memenangkan kelompoknya dalam lingkup pemerintahan baik skala kecil maupun luas, sebenarnya bermaksud merebut dukungan publik, namun sering berdampak memecah belah persatuan, baik dalam lingkup kecil maupun negara yang sudah terjalin dalam prinsip keberagaman dengan nilai dan norma yang telah disetujui bersama oleh seluruh komponen bangsa Indonesia.

 

Tidak dapat dipungkiri, negara ini bisa hancur hanya dengan sebuah berita hoax yang terus menerus disebar, apalagi terkait dengan etnis dan kepercayaan yang berbeda. Publik disuguhi isu-isu yang berisi kebencian terhadap ras, etnis dan kepercayaan tertentu yang bisa memancing kekisruhan dalam kehidupan masyarakat.

 

“Sangat memungkinkan akibatnya akan merontokkan segala sesuatu kekuatan bangsa ini sampai hancur sehancur hancurnya sehingga anak cucu kita tidak pernah mengenal Indonesia sebagai bangsa yang besar dan hebat,” ujarnya.

 

Hoaks itu tidak terbantahkan dilakukan oleh pegiat media sosial demi keuntungan secara finansial maupun menarik perhatian publik dengan cara memanfaatkan ketidaktahuan dan ketidakpedulian publik untuk memeriksa akurasi berita.

 

Kemudian, lanjut Nanang, sejalan dengan waktu penyebaran berita hoaks meluas kadang kala memercik kebencian sesama anak bangsa. Indonesia dengan keberagaman ras, etnis dan kepercayaan sangat rentan untuk kerusuhan atau kekacauan hanya dengan hoax yang tidak begitu penting tersebar secara luas dan terbuka.

 

“Karena itu, kami dari Koordinator Nasional Indonesia GAGAH (Gabungan Gerakan Anti Hoaks) perang terhadap pelaku hoaks atau berita bohong “Say No To Hoax”. Pelaku hoaks itu anti Pancasila. Kami menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menggunakan media sosial dan jejaring sosial secara cerdas dan cermat,” ujarnya.

 

Nanang juga menyerukan kepada aparat berwenang untuk lebih cepat dan tepat merespon berita-berita hoaks yang mengancam keutuhan NKRI.

 

“Kami siap bekerja sama dengan Kepolisian Republik Indonesia dan lembaga-lembaga terkait untuk melakukan pencegahan meluasnya penyebaran hoax,” pungkasnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*