Breaking News

Pelaksanaan Eksekusi Digantung-Gantung, Nasib Terpidana Mati Mengerikan

Pelaksanaan Eksekusi Digantung-Gantung, Nasib Terpidana Mati Alami Mengerikan.

Jelang dieksekusi para terpidana mati di Indonesia mengalami banyak penderitaan. Selain menanti waktu eksekusi yang belum ditentukan, mereka kerap kali tidak mendapatkan pendampingan yang layak hingga akses terhadap keluarganya.

 

Peneliti dari Komnas Perempuan, Yuni Asri, menuturkan para terpidana mati dan keluarganya mengalami banyak penderitaan. “Yang belum banyak di-highlight dan diketahui oleh publik adalah bagaimana di belakang eksekusi mati, bagaimana keluarganya, masa menanti yang menyiksa dan dampak-dampaknya,” katanya di Jakarta, Senin (09/10/201).

 

Komnas Perempuan sendiri telah melakukan upaya pemantauan dalam bentuk wawancara mendalam dengan buruh migran terpidana mati, baik di dalam maupun di luar negeri, dan keluarga mereka sejak 2015. Pemantauan tersebut menemukan fakta bahwa terpidana mati tidak hanya mati secara fisik tetapi juga dimatikan secara sosial.

 

“Bahkan ada kasus di mana perempuan buruh migran terpidana mati di China punya anak masih kecil dan di-brainwash kembali oleh neneknya, untuk melupakan ibunya,” ungkapnya.

 

Kebanyakan terpidana mati perempuan yang punya anak putus komunikasi dengan keluarga, termasuk dengan anak mereka. Tidak ada narasi dan komunikasi apapun dengan anak mereka dan wali yang memelihara anak tidak akan memberi informasi mengenai ibu mereka.

 

Komnas Perempuan juga menemukan fakta bahwa kebanyakan perempuan terpidana mati adalah tulang punggung keluarga sehingga ketika mereka dipenjara, keluarga tidak memiliki tumpuan yang jelas untuk menghidupi keluarga. Menurut Yuni, keluarga sangat membutuhkan informasi yang jelas terhadap status terpidana mati.

 

Bahkan ada keluarga terpidana mati datang ke Jakarta untuk menanyakan ke berbagai lembaga pemerintah, lalu ke kabupaten hingga Pemda. Bahkan Pemda sendiri tidak memiliki database status mengenai terpidana mati tersebut.

 

“Yang krusial itu adalah informasi, mereka tidak mendapatkan informasi atau update apapun mengenai si terpidana mati, ini jadi gelombang penyiksaan baru dalam hal kepastian hukum,” sebutnya.

 

Anak dari terpidana mati Merry Utami, Devy Christa, menceritakan dirinya mengetahui ibunya bakal dieksekusi mati pada Juli 2016 melalui televisi. Sementara pemerintah tidak memberi informasi apa pun mulai dari sang ibunda, Merry Utami, dipindahkan ke Nusakambangan hingga masuk daftar eksekusi.

 

“Di benak saya, mama sudah berapa di peti dan beliau akan dipakaikan baju pengantin sesuai permintaannya jika ia mati,” ujarnya.

 

Merry Utami dihukum mati karena tertangkap membawa 1,1 kilogram heroin di Bandara Soekarno-Hatta pada 31 Oktober 2001. Saat ini dia sudah berada di Pulau Nusakambangan, tempat eksekusi terpidana hukuman mati. Namanya sempat masuk dalam daftar tetapi tidak jadi dieksekusi pada Juli 2016.

 

Pendamping rohani terpidana mati di Nusakambangan, Romo Carolus, menceritakan dirinya pernah mendampingi terpidana mati asal Nigeria, Hansen Antonius Nwaolisa dan Samuel Iwuchukwu Okoye yang dieksekusi pada 26 Juni 2008 di Nusakambangan.

 

“Setelah ditembak, mereka sempat merasakan kesakitan selama 7-8 menit. Jadi mereka tidak langsung meninggal, mereka mengerang kesakitan,” ungkapnya.

 

Sementara dalam eksekusi mati terhadap warga negara Brazil, Rodrigo Gularte, pada April 2015, sang terpidana tidak menyadari dirinya akan dieksekusi. “Saya melihat betul bahwa ia sakit jiwa. Karena ketika ingin dieksekusi, dia masih tidak mengerti bahwa dia akan ditembak mati. Dia hanya tahu bahwa dia akan dikirim kembali ke Brazil,” kata Romo Carolus.

 

Untuk diketahui, berdasarkan data Medical Certificate yang dikeluarkan dokter neurologi dan bedah syaraf, Erasto Cichon, Rodrigo mengalami cerebral dysrhythmia sejak 1982. Penyakit ini membuat Rodrigo melakukan tindakan agresif dan kurangnya kontrol kepada diri sendiri.(JR)

 

Leave a comment

Your email address will not be published.


*