Breaking News

Pebisnis Jalan Tol Seenaknya Naikkan Tarif, Pasca Lebaran Masyarakat Hadapi Penjajahan Gaya Baru

Pebisnis Jalan Tol Seenaknya Naikkan Tarif, Pasca Lebaran Masyarakat Hadapi Penjajahan Gaya Baru.

Masyarakat pengguna jalan tol menghadapi kenaikan tarif tol hingga Rp 11 ribu. Sekali masuk tol, pengguna membayar dengan uang Rp 15 ribu. Pasca lebaran, kehidupan masyarakat dianggap kian sulit lantaran menghadapi jenis penjajahan gaya baru di jalan tol.

Koordinator Aliansi Lembaga Analisis Kebijakan dan Anggaran (Alaska) Adri Zulpianto mengungkapkan, pemerintah dan pengelola jalan tol dianggap ugal-ugalan hendak meraup uang sebanyak mungkin dengan mengorbankan pelayanan kepada masyarakat.

Pasalnya, kenaikan tarif tol diberlakukan ketika pemeliharaan jalan tol tidak baik, bahkan diberlakukan pada saat pendapatan jalan tol sedang naik.

“Seharusnya kenaikan pendapatan perusahaan jalan tol  tersebut dapat digunakan untuk biaya pemeliharaan jalan. Kenaikan tarif tol ini sebetulnya sebagai bentuk penjajahan baru perusahaan pengelola jalan tol. Perusahaan pengelola jalan tol memperkosa Negara untuk menaikan tarif tol dengan seenak saja. Sungguh terlalu,” tutur Adri, Selasa (19/06/2018).

Dia menuturkan, tercatat, pendapatan jasa marga pada tahun 2017 sebesar Rp 2,2 triliun, naik dari tahun 2016 sebesar Rp 1,88 triliun. Pendapatan untuk tol dan usaha lainnya sebesar Rp 8,92 triliun, naik dari tahun 2016 sebesar Rp 8,83 triliun.

“Kami meminta kepada DPR untuk segera turun tangan atau melakukan intervensi untuk membatalkan kenaikan tarif jalan tol tersebut. Karena kenaikan tarif jalan tol merupakan kado pil pahit idul fitri buat pengguna jalan tol,” ujar Adri.

Dia juga menyampaikan, ada hal aneh bagi publik, sebab Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) malah menjadi perpanjangan tangan bagi perusahaan jalan tol untuk menaikan tarif sesuka hati, tanpa memperhatikan kepentingan rakyat.

Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memberlakukan perubahan tarif Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) mulai Rabu (20/6/2018) pukul 00.00 WIB.

Setelah perubahan itu, nantinya kendaraan golongan 1 berupa sedan, jip, pikap/truk kecil, dan bus dikenai tarif Rp 15.000, sedangkan golongan 2 dan 3 tarifnya Rp 22.500, serta golongan 4 dan 5 tarifnya Rp 30.000.

Tarif sebelumnya untuk golongan I sebesar Rp 9.500, golongan II Rp 11.500, golongan III Rp 15.500, golongan IV, Rp 19.000, dan golongan V Rp 23.000.

Tarif baru ini berlaku di ruas-ruas Tol JORR, seperti Penjaringan-Kebon Jeruk, Kebon Jeruk-Ulujami, Ulujami-Pondok Pinang, dan Pondok Pinang-Taman Mini.

Selain itu, Tol Taman Mini-Cikunir, Cikunir-Cakung, Cakung-Rorotan, jalan tol menuju Tanjung Priok, Rorotan-Kebon Bawang, dan Pondok Aren-Bintaro Viaduct-Ulujami.

Pemberlakuan tarif baru juga diiringi dengan integrasi sistem transaksi yang bisanya bisa sampai dua kali kini dipangkas menjadi satu kali saja

Dengan demikian, akan ada titik transaksi baru yaitu pada akses masuk Bintaro Viaduct yang mengarah ke Bintaro dan tidak terdapat transaksi pada beberapa gerbang tol antara lain, GT Meruya Utama, GT Meruya Utama 1, GT Semper Utama, GT Rorotan dan GT Pondok Ranji (Sayap menuju Bintaro).

Integrasi tersebut diharapkan bisa memangkas waktu tempuh pengguna jalan tol yang melakukan perjalanan menuju SS Penjaringan dan Kebon Bawang maupun arah sebaliknya.

Kepala BPJT Herry Trisaputra Zuna menuturkan, BPJT mengubah pemberlakuan kenaikan tarif tersebut mulai Rabu (20/6/2018) pukul 00.00 WIB. Perubahan masa berlaku itu disepakati  BPJT bersama para pengelola Tol JORR untuk menambah waktu sosialisasi agar semakin banyak masyarakat yang mengetahuinya.

“Integrasi tarif ini memiliki beberapa tujuan,” ujar Herry.

Pertama, mendorong kendaraan angkutan barang untuk mematuhi aturan muatan dan dimensi.

Menurut dia, selama ini, biaya pemeliharaan jalan yang ditanggung BUJT justru lebih besar karena pelanggaran yang dilakukan kendaraan atau truk angkutan barang tersebut.

“Pendapatan yang diperoleh dari gerbang tol sekarang memang lebih besar, tapi biaya perbaikan jalannya malah lebih besar,” ujarnya.

Tujuan kedua, lanjut Herry,  yakni waktu tempuh yang dijalani pengguna jalan tol menjadi lebih singkat karena gerbang tol yang dilewati berkurang. Hal itu juga berhubungan dengan sistem transaksi yang lebih simpel.

“Waktu tunggu di gerbang tol yang seharusnya tidak terjadi itu dikurangi, jadi pengguna tidak perlu menunggu lebih lama,” kata Herry.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*