Breaking News

Pasca Referendum dan Keluar dari Uni Eropa, Isu Rasialisme Merebak di Media Sosial Inggris

Pasca referendum dan menyatakan Inggris keluar dari Uni Eropa, isu rasialisme dan anti warga kulit berwarna merebak di media jejaring sosial Inggris.

Setelah referendum digelar dan menyatakan Inggris Raya atau Britania Raya resmi keluar dari persekutuan Negara-negara Eropa yakni Uni Eropa, kini isu rasialisme merebak di media-media sosial di Inggris.

Keluarnya Inggris dari Uni Eropa, oleh sebagian warga Inggris dianggap ssebagai pemicu bencana keretakan social, dengan merebaknya rasialisme atau penolakan terhadap kulit berwarna di negerinya Ratu Elizabeth itu.

Dikabarkan, sejumlah insiden telah terjadi, dimana orang-orang telah membuat sentimen terhadap Warga Negara asing melalui media jejaring sosial.

Seperti yang dilansir pada BBC, Senin (27/02/2016), banyak beredar postingan di media sosial Twitter yang menceritakan sejumlah orang-orang mengalami permusuhan karena warna kulit dan latar belakang etnis.

Seperti yang dituliskan pada sebuah akun Twitter @ Heavencrawley yang menyatakan, “this evening my daughter left work in birmingham and saw group of lads corner a muslim girl,”tulisnya dalam akunnya tersebut.

Tidak hanya itu, akun Twitter @Luketrinder, yang mempertanyakan hasil dari referendun Brexit yang dilakukan pada Jumat lalu mengahasilkan masalah seperti ini.

“Tidak jelas apakah hasil referendum telah membawa peningkatan permusuhan, atau jika itu adalah hanya kasus sentimen yang sedang disorot sejak Jumat, dan tentu saja yang tidak pernah terjadi sebelum referendum,”

Kelompok organisasi Polandia disebut menjadi sasaran para haters yang sentimen dan dituding membuat perbedaan terhadap orang berkulit hitam dan kelompok minoritas di Inggris.

Selain itu, mantan calon anggota parlemen dari Partai Konservatif, Shazia Awan juga diminta untuk berkemas dan pulang setelah hasil referendum keluar Jumat (24/06) lalu.

“Hasil referendum melegitimasi kebencian rasial. Walaupun mereka tidak mayoritas, namun mereka tidak toleran dan bersuara keras dan ini melukai semua komunitas,” kata Awan.

Menurutnya, hasil dari referendum yang memutuskan keluarnya Inggris dari Uni Eropa menjadi awal dari kekacauan ini.

“Apa yang terjadi di negara kita? Kita seperti kembali lagi ke masa silam, sebagai masa gelap di Inggris. Saya merasa kita mundur ke belakang,” tambahnya.

Saat ini Polisi sedang menyelidiki sejumlah isu rasialisme itu, terutama yang terjadi di bagian Inggris Timur yang beredar tulisan, “Tak ada lagi kutu Polandia” yang disebarkan ke rumah-rumah penduduk setempat.(Tornando)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*