Breaking News

‘Palu Arit di Ladang Tebu’, Sejarah Pembantaian Massal Yang Terlupakan (Sebuah Resensi Buku)

Palu Arit di Ladang Tebu, Sejarah Pembantaian Massal Yang Terlupakan (Sebuah Resensi Buku).

Judul : Palu Arit di Ladang Tebu, Sejarah Pembantaian Massal yang Terlupakan (Jombang-Kediri 1965-1966)

Penulis : Prof. Dr. Hermawan Sulistyo,APU

Alih Bahasa : Suaedy; Uchi Sabirin dan Syafiq

Penyunting : Candra Gautama

Edisi Pertama: Penerbit  Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Cetakan Pertama: Juni 2000,

Cetakan Kedua:Januari 2001

Cetakan Ketiga: Agustus 2003

Edisi Kedua: Penerbit  Pensil 324

Cetakan Pertama: Agustus 2011

Tebal : Isi 384 hal dan Romawi xx hal.

Ukuran  : 14,8 X 21 cm

 

Isi Resensi

Keseluruhan isi buku memuat skema susunan berikut. Pertama, isi buku diawali dengan menyajikan pengantar penerbit Pensil324 pada cetakan pertama di tahun 2011. (Buku ini pernah diterbitkan Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia dengan beberapa kali cetak ulang). Isi pengantar buku ini cukup menghantar pembaca kepada cetakan pertama tahun terbit 2011. Kemudian  pembaca dapat menelusuri pengantar penulis yang menggambarkan alasan dan tujuan dan metode pendekatan penulisan buku tersebut.

Penulis memulai isi buku dengan mengupas latar belakang sejarah tragedi horror dalam peristiwa G30S PKI. Untuk dapat menjelaskan setting in life terjadinya  horror berdarah,  penulis menguraikan istilah gestapu dan gestok, revolusi belum selesai: prolog gestapu; akumulasi peristiwa penting dan ketegangan di kalangan Angkatan Bersenjata dan di kalangan PKI serta peristiwa pembunuhan massal pasca gestapu. Bab pertama ditutup dengan pemaparan table perkiraan jumlah korban tanpa analisis dan penjelasan mengapa data itu perlu dilampirkan. Mungkin penulis hanya memberikan sebagai gambaran dan membuka kesempatan pembaca mencari kesimpulan atau mencari konfirmasi ulang dan mengkaji untuk kepentingan ilmiah lain.

Bab Kedua diuraikan historigrafi gestapu, siapa pelaku utama. Menurut penulis ada lima scenario pelaku utama gestapu. Pertama, pelaku utama peristiwa gestapu adalah PKI. Kedua, karena terjadi masalah internal dalam tubuh Angkatan Darat. Ketiga, Soekarno adalah tokoh yang bertanggungjawab dibalik semua horror berdarah itu. Keempat, Soeharto adalah figure sentral dibalik gestapu. Kelima, jaringan intelijen dan CIA. Penulis juga melengkapi pembaca dengan beberapa wacana dan diskursus sebagai pertimbangan studi-ilmiah berkaitan dengan siapa dalang dan pelaku utama gestapu, sumber-sumber dan penelitian ilmiah berkaitan dengan gestapu dan diakhiri dengan pengukuhan argumentasi bahwa horror dan pembantaian massal yang terjadi serentak di seluruh Indonesia adalah sejarah yang hilang entah kemana dan dimana sumber-sumber tertulis itu disimpan. Peristiwa gestapu sudah terjadi tapi seakan pada sesi ini kita berada di lorong zaman batu dimana masyarakat Indonesia masih hidup dalam kegelapan sumber tertulis sehingga sesuatu yang ada, terjadi tapi tidak nyata dengan kelangkaan sumber tertulis hingga saat sekarang.

Bab ketiga menguraikan setting in life perkebunan tebu di Jombang-Kediri dimana ladang tebu berlumuran darah oleh para pelaku bersarung putih. Secara emosional and pasti anda akan terlibat mengambil jarak yang “menggetarkan” karena penulis berhasil menghadirkan film horror dalam tulisannya. Bab keempat mengungkapkan situasi ibu pertiwi  Republik Indonesia yang sedang hamil tua. Terjadi konfrontasi yang parah dalam bidang budaya, ekonomi, politik dan masalah pertanahan. Bab kelima menjabarkan sikap dan reaksi kaum revoluusiner terhadap PKI dalam operasi awal, oporasi pembantai serentak serta dampak politik, psikologi dan penjelasan singkat para algoju pembantaian. Bab keenam adalah suatu point retrun dari klimaks kebencian dan pembantaian kepada kaum PKI karena terjadi upaya operasi penghentian pembantaian, operasi penyembuhan luka dan memasuki era pemilu tahun 1971. Bab ketujuh, penulis menyingkap beberapa istilah berkaitan dengan pembunuhan massal. Istilah amok dalam penjelasan kultural, provokasi, konflik agama dan perang suci Islam, konflik kelas, konflik aliran, integrasi nasional, ledakan akibat tekanan ekonomi, balas dendam tentara dan genocide oleh Negara.

Ketujuh bab tersebut mengalir cukup lancar membawa pembaca pada halaman masa lampau dengan gaya bahasa yang naratif-deskriptif. Pada tingkat analisis terhadap data dan uraian serta penjelasan table yang disertakan penulis dalam mendukung tulisan nampaknya juga terasa cukup argumentatif dan logis. Penulis cukup setia dengan data dan fakta dan hasil wawancara untuk membuka tabir masalah dalam latar sosial, kultur dan situasi politik dan perkembangan ekonomi masyarakat waktu itu pada  jaman “demokrasi terpimpin”. Peta pemikiran yang digambar cukup luas mengangkat nuansa kompleksitas masalah “rakyat kecil” pada lingkungan masyarakat  daerah Jombang-Kediri yang merupakan basis utama pendukung dan simpatisan PKI. Gambaran luas itu berkaitan dengan empat kelompok pelaku utama yang sering terjadi konflik social sebelum pembantaian massal. Keempat kelompok pelaku tersebut adalah(1) kelompok pegawai  loji (pabrik gula), (2) pegawai kelas dua dan buruh loji (3) pesanteren,(4) masyarakat umum di pedesaan.  Karena  sudah sering terjadi konflik dan kekerasan  di antara keempat kelompok dalam masa waktu yang lama sehingga membentuk pola sikap, pemikiran yang terkotak-kotak dalam proses panjang di seluruh bidang kehidupan masyarakat pada  seluruh lapisan sosial  dari tingkat elit, pejabat, aparat keamanan Negara.

Buku ini ditutup dengan riwayat sang penulis. Catatan kaki (foot note) buku ini ditempatkan pada akhir setiap bab sehingga terdapat  ada tujuh kelompok catatan kaki. Yang menjadi pertanyaan adalah  bagaimana kalau pada pengantar terdapat catatan kaki? Mungkin jawaban, alasan teknis belaka dimana karena halaman buku semakin tebal dengan pilihan jenis huruf dan point size gendut yang menambah halaman; tapi untuk alasan aspek keterbacaan sangat baik pilihan tersebut.(***)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*