Breaking News

Padahal Bisa Diberdayakan, Lahan Bekas Tambang Memakan Korban Lagi, Pemerintah Jangan Buta Tuli Dong

Padahal Bisa Diberdayakan, Lahan Bekas Tambang Memakan Korban Lagi, Pemerintah Jangan Buta Tuli Dong.

Pembiaran lahan bekas tambang kian menjadi masalah. Kini, lahan bekas tambang memakan korban lagi.

Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Merah Johansyah mengungkapkan, sudah ada 30 orang kehilangan nyawa atau tewas di lahan eks tambang.

Yang terbaru adalah tewasnya seorang remaja berusia 16 Tahun bernama Alif Alfaroci di lubang tambang batubara, Kalimantan Timur.

Dia mengatakan,Alif yang masih menjadi siswa SMK itu meregang nyawa di lubang tambang PT Trias Patriot Sejahtera di Kutai Kartanegara.

“Alif tenggelam di lubang. Di lokasi perusahaan tambang yang diduga melanggara hukum. Lahan itu tidak direklamasi dan mengancam keselamatan warga,” tutur Merah Johansyah, dalam keterangan persnya, Selasa (23/10/2018).

Dikatakan Merah Johansyah, selain merampas tanah dan menghancurkan sumber pangan warga, tambang batu bara di Kalimantan Timur juga telah melelan korban tewas sebanyak 30 orang.

“Entah berapa korban lagi supaya membuat pemerintah buka mata dan telinga. Yang jelas, tidak ada penegakan hukum dan pemulihan. Eksploitasi batu bara terus berlangsung,” ujarnya.

Dikabarkan, lubang eks galian tambang batu bara kembali memakan korban. Kali ini siswa SMK Geology Tenggarong, di Rapak Lembur, Kutai Kartanegara (Kukar) pada Minggu (21/10/2018).

“Betul, kita dapati informasi adanya korban tenggalam di lubang eks tambang, yang berada di wilayah Kukar. Sejak tadi malam, Unit Siaga SAR Samarinda sudah menuju lokasi guna menghimpun informasi dari saksi-saksi, dan pagi ini langsung melakukan pencarian,” ujar Kepala Kantor Pencarian & Pertolongan Kelas A Balikpapan (Kaltimra) Gusti Anwar Mulyadi, melalui Kasie Operasi & Siaga Octavianto, Senin (22/10/2018).

Diinformasikan, Alif sebelum kejadian, tengah memancing bersama lima orang temannya di lubang eks tambang batu bara.

Namun, karena tidak kunjung mendapatkan ikan, korban bersama empat temannya memutuskan untuk berenang, sedangkan seorang temannya lagi tidak ikut berenang dan memilih menunggu di darat.

Saat sedang asik berenang, korban tiba-tiba tenggelam diduga karena keram saat berenang. Teman-teman korban pun langsung menghubungi BPBD Kukar guna dilakukan pencarian terhadap korban.

“Dalamnya lubang bekas tambang ini sekitar 10-15 meter. Dan pagi ini akan dilakukan penyelaman oleh personel kita, bersama BPBD Kukar,” katanya.

Pencarian juga dilakukan bersama dengan unsur relawan, warga sekitar, dan keluarga korban. Hingga pukul 07.50 Wita, Senin (22/10) pagi masih dilakukan pencarian.

Pakar Ekonomi, Teknologi dan  Energi dari Universitas Parahyangan (Unpar) FX Husin  menyampaikan, persoalan demi persoalan yang diakibatkan lahan bekas tambang yang tak diurusi akan terus terjadi.

Padahal, menurut FX Husin, pemerintah memiliki otoritas dan kewenangan untuk menggarap lahan-lahan eks tambang agar produktif. “Bisa kok jadi lahan untuk pangan. Sumber pangan dan sumber energi. Sekarang pemerintah mau atau enggak? Atau malah membiarkan begitu saja?” ujar Husin.

Dia setuju agar pemerintah segera mengusut persoalan-persoalan yang terjadi di lahan eks tambang seperti itu.

Selain itu, Husin meminta pemerintah segera bertindak melakukan upaya memberdayakan lahan-lahan eks tambang itu untuk pemenuhan kebutuhan pangan, sandang dan papan warga masyarakat.

“Tidak kurang dari 4 juta hektar lahan eks tambang saat ini tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Dan itu bisa dikelola, diberdayakan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jangan malah jadi sumber bencana,” ujar Husin.

Husin menegaskan, hanya kemauan dan political will pemerintah saja yang ditunggu masyarakat untuk mengelola dan memberdayakan lahan eks tambang itu agar berguna dan bermanfaat bagi masyarakat dan negara.

“Kalau dibiarkan, ya jadi bencana. Pemerintah harus segera bertindak. Itu juga bisa disulap dan dipergunakan untuk tanaman pangan, agar kita surplus pangan,” pungkas Husin.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*