Breaking News

NU dan Muhammadiyah Sepakat Perangi Terorisme di Tahun Politik

Dialog Publik, Bedah Buku dan Aksi Mahasiswa Tolak Radikalisme, Deradikalisasi Menimbang Perlawanan Muhammadiyah dan Loyalitas Nahdatul Ulama, yang diselenggarakan Trias Politika bersama Relawan Padamu Negeri, di Kampus UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Kamis (19/04/2018).

Dua ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah bersepakat meluruskan faham radikalisme, dan berikrar perang melawan aksi-aksi terorisme di tahun politik.

Hal itu terungkap dalam Dialog Publik, Bedah Buku dan Aksi Mahasiswa Tolak Radikalisme, Deradikalisasi Menimbang Perlawanan Muhammadiyah dan Loyalitas Nahdatul Ulama, yang diselenggarakan Trias Politika bersama Relawan Padamu Negeri, di Kampus UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Kamis (19/04/2018).

Peneliti Trias Politika Lukman Hakim menyampaikan, Indonesia yang mengalami tahun politik 2018 dan 2019 berpotensi terjadi gesekan dan kekerasan berbau terorisme.

“Jadi,  gerakan terorisme merupakan ancaman bagi keutuhan dan persatuan bangsa. Apalagi di tahun 2018 ini kita memasuki tahun politik, tentu tensi yang meningkat di masyarakat perlu diredam dengan pesan-pesan persatuan,” tutur Lukman.

Dia pun menegaskan bahwa saat ini dibutuhkan perhatian semua pihak agar kejadian-kejadian buruk dan tindak kekerasan tidak terulang. Bagi Lukman, terlalu besar harga yang harus ditanggung akibat aksi terorisme.

Untuk tujuan itulah pihaknya melakukan dialog publik, bedah pemikiran, bedah buku dan aksi mahasiswa melawan terorisme dengan menghadirkan para pemikir dari NU dan Muhammadiyah.

Dalam kegiatan ini, dijelaskan Lukman, dibedah pemikiran tokoh Muhammadiyah, Saefudin Zuhri,  yang menulis buku Deradikalisasi Terorisme. Sebagai peneliti di Maarif Institute, Saefudin mengulas pemikirannya melawan faham radikalisme dan terorisme di Indonesia.

Selanjutnya, hadir juga Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama DKI Jakarta (FKUB) K.H Ahmad Syafi’i Muhfid , juga mengulas persoalan radikalisme dan terorisme itu.

Selain kedua tokoh itu, dua tokoh muda NU dan Muhammadiyah lainnya yang urun rebug adalah Direktur Said Aqil Siradj (SAS) Dr M. Imdadun Rahmat dan Direktur Yayasan Jalin Perdamaian Yudi Zulfahri.

“Toleransi harus terus digaungkan setiap waktu. Kita patut mengucapkan banyak terima kasih kepada dua ormas terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah. Komitmen dua ormas ini dalam menangkal paham radikal tidak diragukan lagi,” tutur Lukman.

Sementara itu, Aktivis Relawan Padamu Negeri, Fatih menambahkan, setiap Warga Negara Indonesia  harus bersatu padu dan bergandengan tangan, agar terjadi interaksi pemikiran terhadap penganut paham terorisme.

“Meluruskan kembali pemahaman agama adalah salah satu kiat, sehingga agama tidak dipahami sesuai dengan keinginan hawa nafsu. Kedua ormas NU dan Muhammadiyah bahu membahu mencegah terorisme baik pada level aksi maupun teologi,” ujar Fatih.

Fatih juga  berharap, di 2018 ini aksi-aksi terorisme atau kekerasan tidak terulang lagi. Faktor pemicu aksi radikalisme dan terorisme, lanjutnya, seperti ujaran kebencian, hoax, black campaign tidak perlu ditampilkan.

Kata dia, energi bangsa ini harus diarahkan pada hal yang produktif, untuk pembangunan manusia maupun pembangunan ekonomi. Di tahun politik ini, lanjut Fatih, semua pihak wajib menjaga kondusifitas, sehingga perdamaian dan persatuan selalu terjaga dan hajat Pilkada Serentak bisa terselanggara secara aman.

“Semoga apa yang kita lakukan bersama ini memiliki efek yang positif dalam upaya meluruskan paham radikalisme di tahun politik,” tutup Fatih.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*