Breaking News

Nelayan Terpencil Nantikan Pengadaan Kapal Puskesmas Keliling

Ketua Maritim dan Nelayan Projo, Siswaryudi Heru.

Pemerintah diharapkan segera mewujudkan pengadaan Kapal Pusat Kesehatan Masyarakat Keliling (Kapal Puskesmas Keliling) bagi masyarakat nelayan di daerah-daerah terpencil dan pesisir.

Pelayanan kesehatan yang teramat sulit dengan kebutuhan biaya yang sangat mahal adalah keseharian para nelayan terpencil. Sedangkan lokasi dan jarak tempat tinggal mereka jauh dan terpencil.

Ketua Maritim dan Nelayan Projo Siswaryudi Heru mengatakan, pengadaan Kapal Puskesmas Keliling bagi nelayan terpencil merupakan solusi yang sangat rasional, untuk memberikan pelayanan yang terjangkau bagi mereka.

Sama halnya dengan Puskesmas di darat, Kapal Puskesmas Keliling itu dilayani oleh tenaga medis dengan peralatan dan obat-obatan bagi masyarakat, layaknya Puskesmas.

“Hanya bedanya, Puskesmas Keliling di laut bagi pulau-pulau terpencil atau terisolir serta sulit dijangkau itu adalah berupa kapal yang didesain dan dimodifikasi sesuai standar Puskesmas layaknya seperti yang ada di daratan,” tutur Siswaryudi Heru, di Jakarta, Sabtu (23/06/2018).

Dengan Kapal Puskesmas Keliling, lanjut dia, keterjangkauan pelayanan kesehatan yang memadai dapat dilakukan dengan mobilitas kapal yang berlayar dari satu pulau ke pulau lainnya, atau ke wilayah-wilayah pesisir yang jauh dari jangkauan peradaban daratan.

Lebih lanjut, menurut  Koordinator Bidang Hubungan Antar Lembaga Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) ini, kondisi perekonomian nelayan terpencil yang sangat lemah turut memperburuk kesadaran akan pelayanan kesehatan bagi mereka dan keturunannya.

“Mereka tidak punya uang, ekonomi lemah, jauhnya jarak tempuh untuk pelayanan kesehatan dan perobatan sangat tak terjangkau, yang akhirnya banyak yang hanya berpasrah diri pada takdir, tidak sanggup berbuat apa-apa dengan kondisi kesehatan yang memburuk yang dialaminya,” tutur Siswaryudi.

Dengan pengadaan Kapal Puskesmas Keliling dari pemerintah bagi para nelayan terpencil itu, lanjutnya, akan mampu mengubah kehidupan nelayan itu semakin baik.

Nelayan yang sehat, kata Siswaryudi Heru, akan mampu melaut dan melakukan usaha-usaha perekonomiannya menjadi lebih baik, serta menjangkau pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak mereka.

Siswaryudi yang juga Ketua Bidang Kelautan dan Perikanan Dewan Ekonomi Indonesia Timur (DEIT) itu menyampaikan, program-program pemerintah bagi nelayan harus segera diwujudkan untuk mendongkrak kesejahteraan.

Dia mengatakan, sebaran nelayan terpencil tersebar di pulau-pulau yang agak terisolir dan daerah pesisir. Dengan kehadiran Kapal Puskesmas Keliling, lanjutnya, pelayanan kesehatan menjadi dekat dan terjangkau.

Wakil Ketua Komite Tetap Hubungan Antar Lembaga Kamar Dagang Dan Industri Indonesia (Wakomtap Kadin) ini melanjutkan, pelayanan kesehatan yang baik adalah salah satu parameter mengukur keberhasilan pemerintah bagi masyarakatnya, serta sebagai tolok ukur peningkatan kesejahteraan nelayan.

“Karena itulah, keluhan dan persoalan nelayan terpencil ini bias segera ditangkap oleh pemerintah dan diwujudkan. Nelayan kita menunggu realisasinya,” tutup pria yang merupakan Fungsionaris Badan Pengurus Pusat Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang  dan Distributor Indonesia (BPP Ardin) Indonesia ini.

Kelompok nelayan di Tanah Air perlu mendapatkan perhatian khusus dalam upaya pembangunan kesehatan 2010-2014. Data BPS tahun 2011 menunjukkan bahwa di Indonesia terdapat sekitar 8.090 desa pesisir yang tersebar di 300 kabupaten/kota pesisir. Dari 234,2 juta jiwa penduduk Indonesia, ada 67,87 juta jiwa yang bekerja di sektor informal, dan sekitar 30% diantaranya adalah nelayan. Data lainnya, 31 juta penduduk miskin di Indonesia, sekitar 7,87 juta jiwa (25,14%) di antaranya adalah nelayan dan masyarakat pesisir.

Contoh pengadaan Kapal Puskesmas Keliling ini sudah dimulai di Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara. Dinas Kesehatan Tapteng menyiapkan kapal puskemas keliling untuk meningkatkan pelayanan kesehatan untuk masyarakat di pulau-pulau terpencil di daerah tersebut.

“Sasaran utamanya kapal itu untuk pelayanan kesehatan di pulau dan daerah terpencil di pesisir pantai Tapanuli Tengah yang selama ini memang tidak terjangkau,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Tapanuli Tengah Freddy L Situmeang.

Beberapa daerah sasaran Puskesmas ini diantaranya Pulau Mursala di Kecamatan Tapian Nauli, Danau Pandan Kecamatan Pinangsori, Sijago-jago di Kecamatan Badiri serta daerah pesisir lainnya di Kabupaten Tapanuli Tengah.

“Dinas Kesehatan berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat, dengan adanya kapal puskesmas keliling tersebut masyarakat yang ada di pulau dan pesisir mendapatkan akses lebih mudah untuk berobat,” tambahnya.

Sementara Boibe Manurung selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengadaan kapal tersebut mengatakan, anggaran untuk penyediaan Pusling Perairan itu sebesar Rp1,2 miliar dari APBD Tapanuli Tengah Tahun Anggaran 2017.

Kapal tersebut untuk pelayanan kesehatan telah diterima pada 12 Desember 2017 lalu. “Jika ada KLB di pulau terpencil kita sudah cepat tanggap dengan adanya fasilitas ini. Kapal Puskesmas keliling milik Pemkab Tapteng ini bernomor lambung J.15 No.507/BKS,” katanya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*