Breaking News

Nasib Buruh Kian Sengsara, Kuli Bangunan Minta Kesejahteraan

Nasib Buruh Kian Sengsara, Kuli Bangunan Minta Kesejahteraan.

Ribuan buruh yang bekerja sebagai Kuli Bangunan atau Tukang Bangunan meminta pemerintah memperhatikan nasib mereka. Selain tidak pernah dianggap sebagai pekerja yang selayaknya, buruh bangunan ini jumlahnya sangat banyak namun nasibnya tragis.

 

Ketua Serikat Kuli Bangunan Pasuruan, Jawa Timur, Imron mengungkapkan, sebagai pekerja yang tenaga dan keahliannya dimanfaatkan oleh pemilik kerja tanpa perlindungan yang memadai, para kuli bangunan yang jumlahnya puluhan juta jiwa tersebar di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari sangat terancam.

 

“Bayangkan, kami hanya diupah seratus ribu rupiah per hari, kotor. Itu upah kotor, tidak dikasih makan, dan tidak ada jaminan apa-apa. Itu kalau kerjanya langsung ke owner dapat seratus ribu. Kalau kerja lewat mandor atau pemborong malah enggak sampai seratus ribu upah yang kami peroleh per hari. Enggak cukup untuk membeli kebutuhan hari-hari yang harganya terus meningkat tinggi,” tutur Imron, Kamis (01/03/2018).

 

Dia mengungkapkan, untuk wilayah Lamongan, Jawa Timur saja, begitu banyak perusahaan-perusahaan besar ber-skala internasional yang beroperasi. Jika dibandingkan dengan penggajian buruh di perusahaan dan pabrik-pabrik itu, kata dia, kesejahteraan Buruh Kuli Bangunan sangat amat memprihatinkan.

 

“Padahal, kami tidak melulu hanya mengandalkan tenaga saja, tetapi juga keahlian. Dari zaman ke zaman, kami para kuli bangunan terus dicari dan dibutuhkan, namun nasib kami dan kesejahteraan kami tak pernah dianggap, tak pernah diperhatikan,” tutur Imron.

 

Jika diminta mencari pekerjaan lain, lanjut Imron, kuli bangunan mau saja. Faktanya, kata dia, hari ini pun tidak tersedia lapangan pekerjaan lainnya yang memadai dan tersedia bagi para kuli bangunan.

 

“Di jaman Pak Jokowi ini, kok nasib kami kian terpuruk dalam kesusahan. Tidak ada perhatian, tidak cukup kami untuk makan. Jika sehari saja, misalnya, harus membiayai 5 anggota keluarga, beras satu liter saja anggap saja sepuluh ribu rupiah, maka sehari untuk beras saja harus keluar tiga puluh ribu rupiah, sisanya buat ongkos, kontrakan, obat kalau sakit dan lain-lain. Kami sangat susah Pak,” tutur Imron.

 

Imron pun berharap ada kemauan dan keseriusan dari pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk mendengar dan melihat kondisi riil para kuli bangunan itu, untuk selanjutnya dibantu meningkatkan penghasilan demi kesejahteraan para kuli bangunan.

 

“Kami saja cemburu dengan buruh di pabrik, di sini, di Lamongan sini, seorang buruh tukang sapu saja di pabrik memperoleh upah di atas UMK, lah kami para kuli bangunan, malah sangat jauh dengan kecukupan dari UMK itu,” ujar Imron.

 

Dia mengatakan, hampir di seluruh Indonesia, tersebar para kuli bangunan. Sayangnya, tidak ada pihak yang sungguh peduli akan kesejahteraan mereka.

 

“Kami meminta agar kesejahteraan bagi para kuli bangunan juga diberikan,” ujarnya.

 

Imron yang kini berusia 43 tahun itu mengaku belum menikah, dikarenakan kesulitan hidup yang menderanya.

 

“Ini cerita sedih, setiap saya berkenalan dengan seorang perempuan, kalau sudah masuk ke pertanyaan, apa pekerjaan saya? Saya katakan kuli bangunan, pasti banyak argumentasi untuk menerima saya. Mungkin, di benak mereka, saya takkan bisa memberi makan anak isteri nantinya jika hanya bekerja sebagai kuli bangunan,” pungkas Imron.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*