Breaking News

Mulai Rencana Bangun Gedung Baru, Bangun Alun-Alun Demokrasi Hingga Perpustakaan Terbesar Se-Asia, Itu Proyek Akal-Akalan DPR. Pemborosan, Hentikan Semua itu!

Banyak persoalan hukum, kok Jokowi Santai-santai saja kerjanya.

Wacana membangun Perpustakaan DPR dianggap hanya akal-akalan semata. Direktur Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi menjelaskan, saat ini saja, alokasi anggaran untuk pembangunan gedung baru Dewan Perwakilan Rakyat ditetapkan sebesar 570 miliar pada APBN 2016. Itu anggaran yang tidak sedikit.

Rencana pembangunan gedung baru itu pun banyak ditolak masyarakat. Bahkan, pemerintah pun menolak rencana itu dengan membuat moratorium atau menghentikan pembangunan yang berbentuk fisik.

“Tampaknya DPR kita tidak mau putus asa dengan banyaknya penolakan pembangunan gedung baru ini. Setelah kedatangan cendekiawan ke DPR.  Ade Komarudin (Ketua DPR) seperti mendapat amunisi baru dan kembali bersemangat untuk mencari akal-akalan baru untuk pembangunan gedung baru,” kata Uchok, di Jakarta.

Tapi kali ini, lanjut Uchok, agar lebih intelektual dan mendapat dukungan dari masyarakat luas, DPR mewacanakan untuk membangun perpustakaan termegah di asia.

“Judulnya  bukan lagi gedung baru, melainkan pembangun perpustakaan termegah se-asia,” ujar dia.

Uchok mengatakan, wacana membangun perpustakaan itu sebagai wujud ketidakkonsistenan Ketua DPR.

“Bisa-bisanya ucapan selalu berubah-ubah, seenaknya sesuai seleranya. Baru kemarin mau melakukan moratorium, hari ini berubah lagi. Sekarang ingin melanjutkan pembangunan gedung DPR, degan judul perpustakaan untuk dugaan ingin mengelabui publik,” ujar Uchok.

Uchok menyayangkan, kalau publik setuju dan mendukung dengan adanya perpustakaan, maka pembangunan degan gedung perpustakaan hanya pemborosan uang dan tidak bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Saat ini saja perpustakaan sudah bagus kok. Tapi sayang, perpustakaan sekarang saja jarang dikunjungi oleh anggota dewan. Pada males ke perpustakaan karena perpustakaan itu gudang ilmu, bukan gudang duit, sehingga anggota saja pada males berkunjung ke sana,” ujar Uchok.

Selain itu, kata Uchok, rencana ketua DPR hendak membangun gedung perpustakaan itu hanya untuk dijadikan proyek saja.

“Asyik dong ada proyek, ada duitnya. Mumpung jadi ketua DPR, bukan lagi ketua Fraksi Golkar,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, integritas dan penilaian publik terhadap seseorang pejabat negara bisa diukur dari konsisten atau tidaknya ucapannya ketika  berbicara di depan publik.

“Jadi kok pejabat pulik yang seenaknya berubah-ubah dalam berucap malah dianggap hal biasa-biasa saja,” ujar Uchok.

Untuk itu, lanjut Uchok, pihaknya meminta DPR segera menghentikan niatnya untuk membangun perpustakaan DPR itu. Juga, beberap rencana pemborosan anggaran lainnya seperti penambahan ruangan di DPR, membangun  alun-alun demokrasi, dan lainnya.

“Segera kembalikan alokasi anggaran sebesar 570 miliar rupiah ke kas negara,” tegas Uchok.(Jimmi)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*