Breaking News

Meski Sibuk Urus Pencapresan, Buruh Harus Tetap Tagih Janji Penetapan UMP Yang Layak

Meski Sibuk Urus Pencapresan, Buruh Harus Tetap Tagih Janji Penetapan UMP Yang Layak.

Perpolitikan nasional pasti sangat mempengaruhi kebijakan yang dilakukan untuk menetapkan Upah Minimum Provinsi (UMP) yang layak bagi buruh.

Karena itu, di tengah sibuknya para pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden, seperti yang dilakukan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta Sandi Salahuddin Uno, buruh pun tetap menagih janji agar UMP yang layak bagi buruh tetap dilakukan.

Sekretaris Jenderal Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (Sekjen Opsi) Timboel Siregar menyampaikan, buruh jangan sampai kecewa lagi dengan berbagai sepak terjang politik yang dilakukan para pemangku jabatan, yang seharusnya mengurusi upah layak bagi buruh.

“Bagi kalangan Serikat Pekerja/Serikat Buruh, yang pernah sangat kecewa dengan Anies-Uno, ketika mereka memutuskan kenaikan UMP DKI berdasarkan pasal 44 PP no.78 tahun 2015, saat ini juga lagi ditunggu sikapnya. Apakah kecewa dengan pilihan Prabowo tersebut karena pernah merasa dikhianati Mas Uno? Atau memang sudah melupakan kekecewaan tersebut karena masih berharap duduk di Garot Subroto?” tutur Timboel Siregar, di Jakarta, Jumat (10/08/2018).

Memang, lanjut dia, di dalam politik seharusnya tidak ada sikap kecewa. Dalam hitungan satu menit pun, dalam politik segala sesuatu bisa berubah.

“Demi tujuan kekuasaan harusnya kekecewaan tidak perlu ada. Biarlah sikap hidup fleksibel berdasarkan kepentingan menjadi hal yang utama. Sudah lupakanlah ideologi yang sering anda sebut-sebut itu,” ujarnya.

Di kubu petahana, menurut Timboel, sikap baik dari Mahfud MD menjadi pelajaran bagus bagi politisi lainnya. “Pak Mahfud tidak kecewa walaupun sudah diminta currculum vitae (cv) dan mengukur baju untuk mendaftar di KPU. Sikap mementingkan bangsa dan negara dilontarkan Pak Mahfud untuk merespon pilihan Pak Jokowi tersebut. Malah, Pak Mahfud dengan sikap positifnya bilang tanpa Mahfud pun Pak Jokowi memenangi pilpres ini. Memang baik sikap Pak Mahfud. Semoga, bila Pak Jokowi menang, Pak Mahfud masuk kabinetnya,” ujarnya.

Timboel menjelaskan, dari pandangan politik buruh, di kubu Prabowo, kekecewaan ada. Sangat beda dengan sikap Mahfud MD, pihak Partai Demokrat sangat kecewa karena merasa dikhianati.

“Sebutan Jenderal Kardus terlontar untuk mengartikan Prabowo enggak mikir dan hanya mentingin uang,” ujarnya.

Menurut dia lagi, PKS dan PAN yang awalnya terus ngotot mencalonkan kadernya, ternyata tidak kecewa dengan kehadiran Mas Uno mendampingi Prabowo. Rekomendasi Itjimah Ulama teranulir, pun kedua parpol tersebut tidak kecewa juga.

“Capres dan cawapres yang berasal dari satu partai menjadi hal yang sangat tidak biasa, mengingat koalisi yang dibangun terdiri dari beberapa partai yang juga ikut menentukan president threshold. Faktanya, Gerindra tidak bisa maju sendiri di pilpres saat ini, butuh PAN dan PKS untuk mencapai minimal 20 persen,” ujar Timboel.

Drama di kubu Prabowo, lanjut dia, mementahkan analisis politik dari para pengamat politik yang biasa muncul di televisi. Memang, menurut Timboel, agak membingungkan bila melihat semangat awal PAN dan PKS, yang akhirnya dengan mudah menerima Sandiaga Uno.

“Karena kecewa, Andi Arief mensinyalir suntikan dana dari Uno untuk ketiga parpol tersebut menjadi penyebab utama pilihan jatuh ke Mas Uno. Ya, sikap paragmatis tentang dana memang ada benarnya juga. Bukankah uang sangat diperlukan untuk kampanye dan operasional lainnya di pilpres dan pileg nanti? Sehingga, perlu diingatkan, untuk Pilpres kali ini, buruh pun jangan sampai kecewa berkali-kali,” katanya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*