Breaking News

Menurut Pakar, Utang Pemerintah Yang Membengkak Dinikmati Oleh Segelintir Orang-Orang Ini

Pakar Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing.

Para penikmat utang pemerintah yang kian membengkak harus dibongkar. Sebab, utang itu kian menjadi persoalan yang tidak bisa dijelaskan oleh pemerintah saat ini.

 

Pakar Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menyampaikan, tuduhan tuduhan kepada pihak tertentu sebagai penikmat utang harus dibongkar dan dibuktikan secara riil. Oleh karena itu, dia pun meminta pemerintah untuk terbuka agar tidak menjadi bola liar di masyarakat.

 

“Kritik membengkaknya utang tersebut seolah mengarah hanya kepada presiden, tentu itu tidak salah, tetapi tidak seluruhnya benar. Oleh karena itu, wacana membengkaknya utang tersebut  merupakan pandangan yang belum membumi karena melihat persoalan hanya di permukaan, tidak membongkar  siapa sesungguhnya pelaku utama,” tutur Emrus Sihombing, di Jakarta, Minggu (18/03/2018).

 

Menurut Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner itu, isu perbicangan publik tentang membengkaknya utang pemerintah  per Februari 2018 akan terus bergulir jika tidak mendapat penjelasan yang riil.

 

Bahkan, lanjut Emrus, di berbagai media memuat pembengkakan utang pemerintah menembus angka Rp 4.034,8 triliun atau 29,24% terhadap produk domestik bruto (PDB).

 

Memang harus jujur diakui, kata Emrus, dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2017 nominalnya meningkat 13,46%. Utang tersebut belum termasuk pinjaman swasta Indonesia.

 

“Sejumlah kalangan berpendapat bahwa membengkaknya utang pemerintah seolah hanya ditujukan kepada Presiden Jokowi. Bahkan ada sebagian kecil relawan berbalik, yang sebelumnya pendukung pemerintah, melakukan demonstrasi menolak membengkaknya utang tersebut,” katanya.

 

Lihat saja sebagai contoh, kata dia, eks Ketua DPR RI Setya Novanto yang seharusnya menjadi pendekar anti korupsi di negeri ini karena melekat pada dirinya dan lembaga yang dipimpinnya melakukan fungsi pengawasan,  tetapi malah diduga kuat sebagai pelaku korupsi yang sudah menjadi terdakwa di KPK.

 

“Bukankah perilaku koruptif yang masif di negeri ini berkorelasi langsung dengan membengkaknya utang pemerintah?” ujarnya.

 

Bila dirunut lebih mendalam, menurut Emrus, membengkaknya utang pemerintah tersebut akan ditemukan pelaku-pelaku utama.

 

Menurut Emrus,para pelaku langsung dari aktor-aktor tertentu-lah yang membuat hutang membengkak, yakni; Pejabat Pemerintah dan   Negara yang Koruptif; Pengusaha yang  main mata dengan pejabat pemerintah dan negara; Pengemplang Salah Satu atau Semua Bentuk Pajak; Pelaku Illegal Fishing; Pelaku Illegal Mining; Pemarkir Kekayaan di Luar Negeri; Mereka yang Pola Hidupnya Konsumtif; Orang yang Suka Berpangku Tangan dan Hidup Serba Instan; Mereka yang Belum Siap Berdiri di  Kaki Sendiri, dan lain sebagainya.

 

“Dengan demikian, menurut saya, terjadinya kelemahan pengelolaan negara kita, termasuk membengkaknya utang pemerintah, terletak pada krisis integritas pada diri pemimpin yang terdapat di semua bidang dan semua lini,” kata Emrus.

 

Untuk itu, dia menyampaikan, di sisa masa jabatan presiden Jokowi yang kurang dua tahun ke depan, Emrus mengusulkan diwujudkan revolusi mental yang dia gelorakan selama ini, sehingga semua pejabat publik kerja-kerja dengan tulus dan jujur.

 

“Bila tidak, krisis integritas pemimpin di republik ini bisa jadi terus terjaga ke depan dan lestari,” pungkasnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*