Breaking News

Menurut Mantan Mentan Ini: Bulan Januari-Februari Masa Kritis, Impor Beras Bisa Saja Terjadi

Menurut Mantan Mentan Ini: Bulan Januari-Februari Masa Kritis, Impor Beras Bisa Saja Terjadi.

Mantan Menteri Pertanian Anton Apriyantono menyampaikan, kebijakan impor beras tidak serta merta salah.

 

Memang, menurut Anton, Bulan Januari dan Februari jika dilihat dari siklus tahunan adalah bulan dimana produksi lebih rendah dari konsumsi, terjadi defisit secara nasional.

 

“Jadi mengandalkan stok bulan-bulan sebelumnya. Panen yang cukup baru dimulai bulan Maret. Januari dan Februari itu adalah bulan kritis dimana keputusan impor atau tidak dipengaruhi pergerakan harga,” ujar Anton Apriyanto, dalam siaran persnya, Senin (15/01/2018).

 

Menurut dia, jika harga naik terus dan melebihi batas toleransi (berapa batasnya selalu menjadi perdebatan) maka harus ada upaya untuk meredamnya.

 

“Jika bulog memiliki stok banyak maka harus segera dikeluarkan stoknya,” ujarnya.

 

Sewaktu masih ada raskin, lanjut dia, penggelontoran raskin membantu menekan kenaikan harga karena yang beli ke pasar langsung berkurang. Ketika raskin ditiadakan maka semua membeli beras ke pasar, sementara itu supply berkurang, akibatnya harga naik.

 

Cara kedua adalah dengan impor beras dengan tujuan menambah stok dan secara psikologis mampu menekan para spekulan untuk tidak menaikkan harga.

 

“Sebetulnya jumlah 1 juta ton itu tidak besar karena hanya mampu memenuhi kebutuhan 10 hari secara nasional,” ujar Anton.

 

Tapi, dampak psikologisnya yang besar, terutama mempengaruhi persepsi. Pertama, ada hipotesis yang sebetulnya saat ini sudah tidak selalu benar, jika ada impor beras harga beras akan turun, harga gabah di tingkat petani akan turun.

 

“Dulu benar karena impornya besar-besaran, untuk saat ini harga naik terus atau minimal stabil walaupun ada impor beras, itu karena jumlah impor tidak besar,” ujarnya.

 

Yang kedua, dapat memberikan dampak mengurangi kenaikan harga baik secara psikologis maupun secara real, jika pemerintah mampu memanfaatkan beras impor tersebut untuk segera digelontorkan ke pasar.

 

Persoalannya, lanjut Anton, dalam situasi apapun akan selalu saja ada pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan.

 

“Ini sebetulnya yang selalu menjadi masalah, kebijakan apapun, benar sekalipun, selalu dicurigai, apalagi harga beras di negara pengekspor beras jauh lebih murah dari harga beras di Indonesia,” ujarnya.

 

Sekarang pilihannya, kata Anton, Indonesia tidak impor beras dengan resiko harga akan semakin naik dan walaupun nanti ada panen.

 

“Harga tidak akan turun drastis seperti dulu lagi. Lihatlah tren 5 tahun terakhir. Kemudian, di akhir tahun akan semakin kekurangan supply dan harga akan semakin naik lagi. Atau, impor beras, bulog punya stok, bisa digunakan untuk secara psikologis dan real menekan harga dan sekaligus membantu menambah supply secara nasional,” ujarnya.

 

Persoalannya adalah ketika ini diributkan terus, menurut Anton, maka keluarlah berbagai subyektifitas yang mengakibatkan keributan nasional yang tidak perlu jika diketahui situasi perberasan yang sesungguhnya.

 

Memang, lanjut dia, persoalan besar di Indonesia adalah data produksi dan konsumsi yang seringkali tidak akurat, akibatnya menyulitkan dalam mengambil kebijakan.

 

Masalah utamanya, dalam metode pengambilan data itu yang masih jauh dari ideal. “Dulu masih lebih baik karena di tingkat bawah masih ada mantri tani dan mantri statistik, sekarang mantri tani sudah langka seiring dengan berubahnya sistem pemerintahan,” ujarnya.

 

Menurut dia, pengumpulan data luas panen masih sebatas kira-kira, padahal saat ini perubahan luas sawah cepat sekali, cepat berkurangnya akibat konversi lahan sawah. Sementara itu, mantri statistik juga berkurang sejak era otonomi.

 

“Padahal mereka harus bekerjasama dengan mantri tani untuk melakukan ubinan atau produksi per petak uuntuk menentukan produksi per hektar. Belum lagi ada dorongan untuk tidak mau disebut tidak berprestasi, maka bisa dibayangkan bgm data tersebut jadinya,” ujarnya.

 

Oleh karena data tidak bisa dijadikan pegangan sepenuhnya, lanjut dia, maka pergerakan harga dan supply di pasar yang lebih dijadikan dasar. Jika harga beras naik terus maka itu menunjukkan supply yang berkurang.

 

“Secara perkiraan, kita memang kesulitan memenuhi kebutuhan beras karena sawah berkurang terus sementara penduduk naik terus,” katanya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*