Breaking News

Menghentak Nurani, Buku Lonceng Kematian Nekolim

Menghentak Nurani, Buku Lonceng Kematian Nekolim.

Nekolim atau Neo-Kolonialisme masih bercokol di Indonesia hingga saat ini. Belum ada upaya serius dari Bangsa Indonesia untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan gaya baru itu.

 

Ketua Umum Serikat Rakyat Indonesia (Serindo) Jones Batara Manurung menyampaikan, persoalan rakyat Indonesia sebetulnya berujung pangkal dari adanya Nekolim hingga saat ini.

 

Namun sayangnya, kesadaran untuk membuat pola-pola perlawanan melindungi masyarakat dari gempuran Nekolim belum terlihat.

 

“Kesengsaraan rakyat kita disebabkan oleh Nekolim itu benar adanya. Nah, pertanyaannya sekarang adalah apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi “Nekolim”ini? Belajar dari Bung Karno di dalam menghadapi Nekolim, ia mencanangkan gerakan berdikari dan menyuarakan prinsip kepribadiaan nasional,” tutur Jones Batara Manurung, usai diskusi buku yang diterbitkan oleh Serikat Rakyat Indonesia (Serindo) bersama Ut Omnes Unum Sint Institute di Jakarta,  Senin (24/04/2017).

 

Buku berjudul ‘Lonceng Kematian Nekolim’ itu, menurut dia, merupakan hasil penyerapan kondisi riil masyarakat yang dikaji dan dituangkan dalam era kekinian, untuk memberikan pemahaman baru kepada seluruh masyarakat Indonesia, bahwa hari-hari ini, Indonesia pun sedang terbelenggu oleh kekuasaan Nekolim.

 

Buku Lonceng Kematian Nekolim ditulis oleh Soenarno T Hardjono dan diterbitkan oleh Ut Omnes Unum Sint Institute bersama Serikat Rakyat Indonesia (SERINDO) pada April 2017. Buku setebal 179 halaman itu sangat menghentak nurani sebagai bangsa dan negara.

 

Dalam buku itu, Soenarno T. Hardjono kembali mengingatkan semua pihak tentang bahaya laten “Neokolonialisme-Neoimperialisme”.

 

“Suatu rezim penghisap yang dengan wajah cerianya, telah membodohi dan menciptakan ketergantungan bagi negara-negara berkembang. Seperti yang disampaikan oleh Bung Karno, ‘Selama rakyat belum mencapai kekuasaan politik atas negeri sendiri, maka sebagian atau semua syarat-syarat hidupnya, baik ekonomi, sosial, maupun politik diperuntukkan bagi kepentingan-kepentingan yang bukan kepentingannya, bahkan berlawanan dengan kepentingan rakyat’,” ujar Jones mengutip buku itu.

 

Lebih jauh, lanjut dia, Bung Karno sudah mengingatkan Bangsa ini bahwa Nekolim itu adalah bentuk baru dari kolonialisme-imperialisme. Hanya saja, kolonialisme bentuknya terlihat dengan segala panca indera, yakni Hindia Belanda yang berpusat di Batavia (Jakarta).

 

“Sedangkan Nekolim, wujudnya sungguh-sungguh tidak terlihat. Pun, keduanya bagai sekeping uang logam yang berbeda sisi, namun bertujuan merampok kekayaan kita dengan kerja-kerja silumannya. Kerajaan tersebut, selain berwujud siluman, kekuasaannya pun mengglobal,” urainya.

 

Menurut penulis buku, Kesengsaraan rakyat Indonesia disebabkan oleh Nekolim itu adalah sungguh benar adanya.

 

“Kita harus terus membumikan ajaran Bung Karno,” ujarnya.

 

Perjuangan politik Bung Karno adalah mewujudkan gambaran Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadiaan dalam kebudayaan yang harus termanifestasikan melalui bangunan struktur masyarakat Indonesia yang dicirikan oleh gotong royong dan musyawah mufakat.

 

Namun, bangsa ini kembali bahwa perjuangan itu tidaklah mudah. Politik devide et impera terus bekerja, dan posisi Indonesia yang strategis dan kaya akan sumber daya alam menjadikan Indonesia sebagai rebutan kepentingan asing.

 

Diterangkan Jones Batara, kemiskinan yang masih dialami masyarakat dapat diatasi dengan watak kekuasaan yang membebaskan. Hal itu dapat diwujudkan dengan mempraktikkan Pancasila dalam karakternya yang progresif dan revolusioner.

 

Realitas kemiskinan yang terjadi di Indonesia harus didekati dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila 1 Juni 1945 dan Konstitusi UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 melalui jalan Trisakti.

 

“Karena itulah mengapa petani-petani Indonesia harus berdaulat agar Indonesia bisa berdikari dalam pangan. Dan ingat pula bahwa watak seorang pemimpin hanya terlahir, apabila seluruh gerak perjuangannya menyatu dengan rakyat,” ujar pria yang juga Direktur Nasional Rumah Tani Indonesia (RTI) itu.

 

Dia melanjutkan, teristimewa kini masyarakat Indonesia dan jajaran pemerintahan harus terlibat total dalam membangun martabat wong cilik untuk hidup lebih baik, sebagai manusia merdeka yang berdaulat.

 

“Hal demikianlah yang dicita-citakan oleh Bung Karno,” pungkasnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*