Breaking News

Melanggar Konstitusi, Putusan Kongres 36 GMKI Tidak Sah

Kata Siapa Kongres GMKI Konstitusional & Sukses? Segera Bereskan Ketidakberesan Sahat MP Sinurat dkk di Kongres 36 GMKI!

Penyelenggaraan Konggres ke 36 Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) tidak sah, lantaran pelaksanaannya dipaksakan dengan melanggar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) GMKI.

Selain itu, dalam proses penyelenggaraan, terjadi aksi massa dan kerusuhan para peserta yang menyebabkan terjadinya luka-luka dari para peserta dan pengunjung Konggres, yang digelar di Hotel Green Forest, Batutulis, Jawa Barat itu.

Calon Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) Charles Hutahaean menuturkan, sejak semula proses persiapan dan penyelenggaraan Konggres 36 GMKI itu sudah banyak persoalan yang tidak diselesaikan oleh Pengurus Pusat GMKI pimpinan Sahat Marthin Pilips Sinurat.

“Putusan Kongres 36 GMKI itu tidak sah. Banyak aturan AD/ART yang dilanggar, proses dipaksakan dan cacat,” tutur Charles Hutahaean, di Jakarta, Kamis (20/09/2018).

Menurut mantan Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Jakarta (GMKI Jakarta) itu, terlihat sekali ada upaya meng-kanalisasi aspirasi peserta kongres oleh Ketua Umum PP GMKI Sahat MP Sinurat bersama Panitia Pelaksana Kongres yang dipimpin Sterra Pieters.

Pemaksaan demi pemaksaan itu terus berlanjut sehingga menimbulkan sumbatnya penyampaian aspirasi peserta kongres yang berasal dari berbagai daerah Indonesia.

“Terjadi proses persidangan kongres yang tidak fair, penyampaian aspirasi yang di-kooptasi oleh panitia dan oknum-oknum Pengurus Pusat. Alhasil, terjadi gesekan yang menimbulkan tawuran peserta, kisruh dan saling pukul-pukulan. Itu tidak terjadi sekali, tetapi beberapa kali. Namun mereka tetap memaksakan proses kongres harus diteruskan,” tutur pria yang berprofesi sebagai advokat itu.

Sebagai peserta forum kongres GMKI, Charles dan kawan-kawannya sesama peserta kongres pun menjadi korban pemukulan dan aksi massa yang sudah dipengaruhi minuman keras oleh peserta yang mabok dan orang-orang yang tak dikenal di area penyelenggaraan kongres.

“Disinyalir, orang-orang mabok dan telah disuguhi minuman keras itu adalah orang-orang suruhan panitia, orang-orang suruhannya Sterra Pieters dan Sahat MP Sinurat,” tutur Charles.

Pada hari terakhir pelaksanaan kongres yakni Rabu (19/09/2018), sebagian peserta sudah diungsikan ke sejumlah lokasi di sekitar areal kongres. Menurut Charles, hal itu dilakukan untuk pengkondisian.

Sementara sebagian peserta kongres lainnya tetap dipaksakan mengikuti persidangan sejak pagi hari Selasa (18/09/2018) hingga Rabu malam, tanpa istirahat. Kondisi itu turut memancing sejumlah peserta yang kelelahan, kelaparan dan kehausan mudah tersulut emosi.

“Sebagian lagi sepertinya disuguhi minum minuman keras. Bau mulut mereka sangat berbau alhokol, termasuk orang-orang yang memukuli saya dan kawan-kawan, sudah dipengaruhi minum minuman keras. Di lokasi juga ditemukan botol-botol minuman keras, sudah diserahkan ke aparat kepolisian yang berjaga di lokasi,” ungkapnya.

Sementara itu, salah seorang peserta Kongres 36 GMKI, Rossano J Tabaga mengungkapkan, dirinya yang mengikuti persidangan kongres di dalam Aula Hotel Green Forest  itu kaget dengan tiba-tiba merangseknya sejumlah orang yang tidak dikenal ke dalam arena kongres.

Rossano yang masih hendak melakukan interupsi kepada Pimpinan Majelis Persidangan agar kongres di-skors sementara melihat kondisi yang sudah tidak memungkinkan itu, tidak digubris.

“Malah saya didatangi Panitia Kongres dan Ketua Umum Sahat MP Sinurat, dan menuduh saya hendak menghentikan kongres. Padahal itu situasinya sudah tidak memungkinkan meneruskan persidangan. Malah saya yang diancam dan ditunjuk-tunjuk oleh mereka,” tutur Rossano.

Peserta Kongres dari utusan GMKI Cabang Jakarta ini pun mengaku tidak bisa berbuat apa-apa sebab bangku-bangku, kursi-kursi sudah dilempari ke dalam ruangan persidangan. Para peserta kocar kacir dan histeris.

“Lampu ruangan kongres sempat padam. Gelap gulita. Suasana chaos. Suara-suara teriakan, bentak-bentak, berlarian dan histeris, suara benda-benda jatuh karena dilempar pun terjadi,” ungkapnya.

Anehnya, lanjut Rossano, beberapa saat kemudian proses persidangan dipaksakan dilanjutkan dengan agenda pemilihan Ketua Umum dan Sekretaris Umum. Padahal, agendanya belum ke tahap itu.

“Ada upaya pemaksaan dengan melompati agenda kongres. Sampai subuh kita masih membahas Komisi Lembaga-lembaga Bentukan, di urutan ke tujuh agenda. Kok mendadak Majelis Persidangan melompati dan memaksa pembahasan agenda Komisi Kriteria (Kriteria Pengurus Pusat GMKI), dan usai chaos langsung digelar pemilihan. Aneh dan melanggar,” tutur Rossano.

Karena itu, dia pun mempertanyakan proses Kongres 36 GMKI. “Apa putusannya sah? Kan enggak,” ujarnya.

Akibat kerusuhan serta aksi massa dan tawuran yang terjadi di lokasi kongres, tidak kurang dari enam orang anggota GMKI Jakarta yang merupakan peserta kongres mengalami luka serius harus dilarikan ke rumah sakit. Mereka yang menjadi korban adalah Charles Hutahaean, Michael Nababan, Jepri Johannes Pangaribuan, Wira Leonardi Sinaga, Bangun Tri Anugrah Sitorus dan Kristofel Manurung.

Rossano menyampaikan, Pengurus Pusat GMKI bersama Panitia Pelaksana Kongres harus bertanggung jawab terhadap para korban yang mengalami luka-luka itu. “Kongres ini tidak sah. Mereka harus bertanggung jawab,” pungkas Rossano.(JR)

2 Comments on Melanggar Konstitusi, Putusan Kongres 36 GMKI Tidak Sah

  1. Kalau semua informasi itu betul, saya sebagai senior ikut prihatin atas perjalanan gmki ke depan.

  2. Belajar dari kenyataan, jika memang benar saya sebagai peserta kongres kenapa tidak tau hal itu.
    Pertanyaannya, apakah bapak ada dalam lingkup kongres?

Leave a comment

Your email address will not be published.


*