Breaking News

Masyarakat Tak Dilibatkan Berantas Narkoba, BNN Diminta Tidak Sesumbar

Masyarakat Tak Dilibatkan Berantas Narkoba, BNN Diminta Tidak Sesumbar.

Masyarakat jangan dipersalahkan karena pemberantasan narkoba yang tidak pernah efektif dan malah banyak tipu-tipunya.

 

Wakil Sekretaris Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama, PBNU Djoko Edhi Abdurrahman mengatakan, hebohnya kasus psikotropika Diskotik MG International Club dengan menyalahkan masyarakat karena apatis sehingga MG bisa beroperasi 2,4 tahun, tak terendus Badan Narkotika Nasional (BNN), adalah tidak tepat.

 

Anggota Komisi III DPR 2004 – 2009 ini mengatakan, ada yang salah dari Humas BNN. “Jika tak salah adalah pernyataan Kombes Sulis. Berani bertaruh salah berat si Sulis. Mengapa masyarakat yang jadi keliru? Sejak kapan masyarakat diikutkan dalam operasi perang narkoba?” tutur Djoko Edhi, dalam siaran persnya, Kamis (21/12/2017).

 

Djoko Edhi mengatakan, sejak 2005, dirinya jadi Ketua Dewan Penasihat SIAN BNN. Ini ormas pertama di bawah BNN ketika Kapolrinya Jenderal Sutanto dan didirikan oleh Sutanto.  SIAN adalah akronim dari Seniman Indonesia Anti Narkoba, didirikan sewaktu Jenderal Mangku Prastika jadi Kalahar BNN.

 

“SIAN BNN itu hidup tak mau, matipun segan, karena setelah Sutanto, masyarakat tak dilibatkan dalam operasi pemberantasan narkoba. Yaitu, biaya perang terhadap narkoba internasional itu, ditambah aset rampasan dari BD (bandar), tak cukup untuk sekadar dibagi-bagi di internal. Apalagi mengikutkan masyarakat,” ujarnya.

 

Menurut dia, sebagian besar pejabat BNN memang jadi kaya raya, tapi partisipasi masyarakat kian tak ada. Lembaga itu pun kian eksklusif, tanpa idealisme.

 

“Tinggal urusan bagi-bagi. Mengapa sekonyong-konyong masyarakat yang jadi tertuduh? Salah berat si Sulis,” ujarnya.

 

Menurut Djoko, mustahil 1000%, BNN tak tahu soal MG dini hari. Aneh saja jika sekelas BNN tidak mengetahui hal itu.

 

Dengan gamblang Djoko mengatakan, mana ada pesta triping ratusan orang tak ketahuan cepu kalau bukan piaraan? Mengada-ada! Mana ada triper yang mampu menutup mulutnya setelah pakau? Mana ada diskotik yang tak ada cepunya, apalagi di Jakarta Barat.

 

“Bikin cerita saja tak beres. Belajar dari penulis skenario, setidaknya tidak paradoks. Piaraan disebut rahasia, berkamuflase,  ayak-ayak wae BNN.  Lalu, pemiliknya kabur pula. Padahal TO-nya menangkap ratusan orang. Pasti restiknya baru keluar kardus dong lalu jadi penjaga ATM. Ong-boongan, kata orang Madura,” ujarnya.

 

Tadinya, kata dia, masyarkat masih menaruh percaya dengan kepemimpinan Jenderal Buwas (Budi Waseso) di BNN. “Sekarang tidak lagi. Rezim BNN ini sudah persis sama tipologinya dengan kekuasaan Jenderal Gores Mere, yang kini jadi pembisik Presiden Jokowi,” katanya.

 

Menurut analisis Djoko, kekuasaan itu dua putaran diganti kekuasaan Jenderal Anang Iskandar yang diametral habis dengan Goris Mere. Lalu masuk Jenderal Buwas, yang lebih mirip Jenderal Ronin.

 

“Banyak harapan disandangkan ke Buwas yang awalnya idealis, bahkan pemakai yang adalah victim mau ia hukum mati pula. Ohh, lone wolf. Darah segar. Berani lawan Tommy Winata dan Iwan Bule adalah prestasi sendiri. Yakinlah kita, dramaturgi narkoba dapat diakhiri sang Jenderal Ronin,” ujarnya.

 

Dia mengatakan, data Narkoba lebih miris. Tak ada narkoba berkurang sama sekali. Malah kian banyak di pasar.

 

“Padahal di TV, yang ditangkap banyak banget. Barang bukti kembali ke pasar, sampai bongkok pun, takkan ada narkoba yang berkurang. Sudah masanya mencari Jenderal Ronin baru, agar Buwas bisa jadi Cawapres saja daripada rusak semua!” pungkasnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*