Breaking News

Masyarakat Kampanye Anti Deforestasi

Masyarakat Kampanye Anti Deforestasi.

Perusakan hutan atau deforestasi membuat masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari hutan, semakin terdesak. Menyikapi kondisi ini, Rainforest Action Network (RAN) meluncurkan situs kampanye ‘Beyond Paper Promises,’ atau Lebih Dari Sekedar Janji-janji Kertas. Kampanye ini mengusung kondisi masyarakat adat dan kelompok masyarakat yang masih hidup dalam konflik berkelanjutan dengan perusahan kertas dan pulp.

 

Juru Kampanye Hutan Senior RAN, Brihannala Morgan, menuturkan situs kampanye BeyondPaperPromises.org mengangkat potret nyata dan kutipan wawancara langsung anggota masyarakat yang menceritakan kisah deforestasi dan perampasan lahan. Kampanye baru ini berusaha untuk menekankan pada fakta bahwa meskipun sebagian besar perusahaan telah berkomitmen untuk menghapuskan deforestasi di seluruh rantai pasok, pelanggaran atas hak asasi manusia dan kepemilikan lahan masih terjadi dalam kegiatan operasional.

 

“Hanya sedikit perubahan yang dirasakan oleh masyarakat yang berada di garis depan krisis deforestasi di Indonesia. Dampak deforestasi bagi masyarakat dan hutan di lapangan adalah ukuran nyata dimana komitmen perusahaan harus diukur,” ujarnya dalam siaran persnya, Jumat (26/05/2017).

 

Brihannala menyebutkan, janji untuk mengakhiri deforestasi dan mengatasi konflik hak-hak tanah yang telah berlangsung puluhan tahun hingga sekarang hampir semuanya terlihat baik dan bagus. “Namun faktanya sejauh ini kita hanya melihat sedikit perubahan di lapangan,” ujarnya.

 

Konflik antara masyarakat dan perusahaan sudah berlangsung lama, ditandai dengan intimidasi, protes, penangkapan, bahkan pembunuhan. Di provinsi Jambi dan Sumatera Utara, perusahaan-perusahaan yang memproduksi kertas dan bubuk kertas berusaha memperluas perkebunan komersial untuk pasar komoditas internasional. Sementara masyarakat setempat malah dianggap menjadi penghalang.

 

Dia menekankan, nasib hutan Indonesia sudah menjadi kekhawatiran internasional selama beberapa dekade. Deforestasi, yang sebagian besar didorong oleh pengembangan industri perkebunan kayu pulp dan kelapa sawit telah membuka kawasan hutan hujan yang lebat beserta lahan gambut kaya karbon.

 

“Penggundulan hutan dan pengembangan perkebunan komoditi yang sedang berlangsung di Indonesia menyumbangkan emisi gas rumah kaca global yang besar, menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil emisi terbesar ketiga di dunia, setelah Amerika Serikat dan China,” kata Brihannala.

 

Perwakilan komunitas masyarakat Aek Lung, Sumatra Utara, Rentina Nababan, menuturkan pada Januari 2017 lalu, untuk pertama kali dalam sejarah pemerintah, melalui Presiden Jokowi, mengakui hak masyarakat atas wilayah adat. Pemerintah bahkan mengeluarkan lahan masyarakat adat Pandumaan-Sipituhuta di Sumatra Utara dari perkebunan Toba Pulp Lestari (TPL).

 

Menurutnya, langkah ini merupakan langkah positif. Namun, langkah pemerintah daerah masih lamban untuk mengakui hak atas wilayah yang sama di tingkat lokal, menyebabkan masih banyak masyarakat yang menunggu lahan mereka dikembalikan kepada mereka. “Kami meminta pemerintah untuk melindungi kami dan mengembalikan tanah adat kami,” tegas Rentina.

 

Diterangkanya, lahan tersebut ini adalah sumber mata pencaharian warga, sekaligus tabungan agar anak-anak mereka bisa sekolah. “Kami juga meminta pemerintah untuk mengakui tanah kami yang sudah diwariskan secara turun temurun, jadi kami tidak takut lagi untuk berkebun di tanah kami sendiri,” katanya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*