Breaking News

Masih Lamban, Menkopolhukam Minta Percepatan Pembahasan Revisi UU Terorisme

Indonesia Masih Dalam Ancaman Terorisme

Pembahasan Revisi Undang Undang Terorisme Masih Lamban

Indonesia disebut masih mengalami ancaman serangan terorisme dalam waktu dekat ini. Karena itu, pembahasan revisi Undang Undang Terorisme yang sudah masuk di DPR hendaknya diselesaikan dengan segera. Pembahasan revisi UU Teroris itu masih terkesan lamban.

Dalam Rapat Gabungan bersama sejumlah menteri dan pejabat terkait penanggulangan terorisme yang dipimpin Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan, didesak adanya percepatan revisi UU Terorisme.

“Revisi UU Teoririsme semoga bisa cepat, revisi kita agak lemah dari Malaysia dan Singapura, kita bisa mendapatkan wewenang dari pre-emtif, kelompok melakukan koordinasi bisa kita tangkap selama 7 hari. Jadi kita bisa dapat data untuk tahu jaringannya,” ungkap Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (15/2/2016).

Luhut meminta DPR mempercepat dalam merevisi UU Terorisme yang konsepnya telah diberikan pemerintah. “Agar penaggulangngan terkait teroris dapat ditingkatkan,” ujarnya.

Dia bahkan memingatkan, serangan teroris diperkirakan masih ada dalam waktu dekat ini, namun belum dapat terdeteksi untuk saat ini. Pemerintah melalui aparat terkait terorisme tetap melakukan antisipasi terhadap kelompok teror.

“Bukan dalam waktu dekat, tapi bisa saja terjadi ada ancaman teroris di waktu-waktu ke depan ini. Terus kita kejar, tadi pagi polisi dapat satu lagi, ditembak mati di Bima, namanya Fajar. Terlibat dengan jaringan Poso dan penembakan polisi,” jelas Luhut.

Menurut Luhut, jika kewenangan ini diatur dalam UU, Polisi dan BIN bisa bekerjasam dengan baik untuk memantau gerak-gerik pelaku teror untuk mempersempit tindakan awal terhadap deteksi ancaman serangan terorisme.

“Polisi bisa kerjasama dengan BIN. Polisi bisa bekerjasama dengan baik. Terorisme pasca bom Thamrin, kita nggak akan mungkin (berhasil) dengan negara (saja yang bergerak). Kita harus sama-sama masyarakat. Tindak pidana terorisme, preemtif. Kita roadshow, deradikalisasi,” ungkapnya

Luhut juga menyarankan pembenahan terhadap LP Nusakambangang yang slama ini masih kurang ketat dalam mengantisipasi teorisme. Sebab, menurut dia, beberapa teroris yang saat ini berada di dalam LP masih dapat berkomunikasi dengan rekan-rekan mereka.

“Kita dengan BIN dan Kapolri, lihat ke Nusa Kambangan. Terlalu bebas di sana, ada komunikasi antara tahanan dengan mereka (teroris), lalu masuk ke tanah air. Kita buat agar komunikasi itu nggak bisa dilakukan. Kita buat sistem. Di sana ada banyak handphone dan email, sedang diperiksa anak buahnya pak Badrodin,” tegas luhut.

Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti juga beranggapan hal yang sama. Menurut Badrodin, Indonesia kini masih berada dalam ancaman teroris.

“Ancaman terorisme ini akan terjadi, karena banyak kelompok yang masih berhubungan sama Bahrun Naim, mereka lakukan motivasi dan jihad, mereka ajarin buat bom, terus siapapun yang siap akan dikirim biayanya,” terang Badrodin.

Selain itu, lanjut dia,  di Indonesia ada terdapat 9 kelompok yang terkait dengan teroris yang mendukung ISIS dan 21 kelompok di Singapura. Termasuk dengan kejadian Bom Thamrin, sebanyak 17 orang terkait lansung dengan kejadian tersebut.

Kelompok pertama, lanjut dia, berasal dari jaringan Hendro telah mendapatkan dana dari Yordania, Irak dan Turki sebesar Rp 1,3 miliar. Dana tersebut juga dialokasikan ke Poso dan Filipina secara kes.

“Mereka punya 9 puncuk senjata api dari Lapas Tangerang, cuma pelurunya nggak ada. Kedua, kelompok Helmi ini rencananya pakai bom mobil untuk membom Polda Metro Jaya, ditangkap di sumedang. Ketiga, kelompok Indramayu, sasarannya anggota Polri di jalan raya caranya nusuk pake sajam dan besi,” katanya.

Rencana kelompok itu, diungkapkan Badrodin, akan melancarkan aksinya pada perayaan malam tahun baru lalu. Namun kepolisian berhasil mencegahnya sebelum kejadian.

“Kita lakukan penangkapan Abu Musyak di Bekasi, itu kelompok sendiri. Tadinya mau beraksi di malam tahun baru. Bom ini biayanya sangat minim, mereka kekurangan biaya, cuma Rp 900 ribu,” ujar Badrodin.(Nando)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*