Breaking News

Marak Teror, Pegiat Anti Korupsi Perlu Dilindungi

Marak Teror, Pegiat Anti Korupsi Perlu Dilindungi.

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) melihat teror berupa penyiraman air keras kepada penyidik senior KPK Novel Baswedan ditujukan untuk menyurutkan semangat para penggiat anti-korupsi.

 

Aksi-aksi teror seperti ini juga sudah sering terjadi, hanya saja pelakunya tak kunjung diungkap.

 

Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai menyayangkan masih adanya aksi-aksi teror yang bertujuan untuk mengerdilkan semangat para penggiat anti-korupsi. Apalagi, kali ini teror ditujukan langsung kepada salah satu penyidik KPK yang sehari-hari memang bertugas menangani kasus-kasus korupsi di Indonesia.

 

“LPSK berharap penyidik dari Polri dapat mengungkap motif dan menangkap pelakunya untuk kemudian diproses hukum,” katanya di Jakarta, Rabu (12/04/2017).

 

Menurut dia, bentuk-bentuk teror terhadap para penggiat anti-korupsi sudah sangat sering terjadi namun tidak pernah diungkap.

 

Semendawai mencontohkan kasus penembakan terhadap salah seorang aktivis korupsi di Bangkalan, Madura. Kemudian yang terbaru adalah penyiraman air keras terhadap salah seorang aktivis Jaringan 98 dan istrinya di Palembang, dan banyak lagi bentuk-bentuk teror yang dilayangkan pihak tertentu kepada mereka yang vokal menyuarakan penyimpangan.

 

Salah satu kasus yang mendapat sorotan publik adalah kasus penganiayaan yang menimpa aktivis ICW Tama S Langkun. Kejadian yang menimpa Tama tersebut diduga kuat karena terkait aktivitasnya yang keras menyuarakan anti-korupsi.

 

“Bila teror-teror ini tidak terungkap, akan menyurutkan semangat untuk berjuang melawan korupsi. Jangan sampai terkesan negara membiarkan kasus-kasus semacam ini berlalu tanpa ada pelaku yang bias diproses secara hukum,” kata Semendawai.

 

Sementara untuk perlindungan saksi dan korban, termasuk dalam penanganan kasus korupsi, negara sudah memberikan mandatnya kepada LPSK. Berdasarkan UU Perlindungan Saksi dan Korban, LPSK bias memberikan perlindungan terhadap saksi, pelapor, maupun ahli dalam suatu tindak pidana.

 

Perlindungan dimaksud mulai dari fisik hingga pemberian bantuan baik medis maupun psikologis. “Kita imbau masyarakat untuk memanfaatkan layanan yang disiapkan negara melalui LPSK,” tandasnya.

 

Sebelumnya, Ketua KPK Agus Rahardjo mengutuk keras teror dan perbuatan keji yang dilakukan terhadap Novel. Dia memastikan, KPK tidak akan surut dan terpengaruh atas teror tersebut. Agus menegaskan, seluruh pimpinan dan pegawai KPK akan terus berjuang dalam pemberantasan korupsi dengan terus melanjutkan proses penanganan perkara-perkara yang sedang ditangani KPK.

 

Jika tujuan teror itu berkaitan dengan penanganan kasus perkara, Agus menyebutnya itu salah sasaran. “Kamilah sebagai pimpinan KPK yang bertanggung jawab terhadap setiap langkah upaya penanganan perkara pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh penyidik-penyidik KPK, termasuk Novel, bekerja berdasarkan perintah kami. Dan, kami mengambil alih dan siap menanggung semua risiko,” ujarnya.

 

Seperti diberitakan sebelumnya, penyidik senior KPK Novel Baswedan terkena siraman air keras ketika selesai menunaikan ibadah sholat Subuh di masjid di dekat kediamannya di Kepala Gading, Selasa (11/4) pagi. Sesaat setelah kejadian, Novel langsung dilarikan ke RS Mitra Keluarga Kepala Gading. Diduga pelaku penyiraman berjumlah dua orang dengan mengendarai sepeda motor dan mengenakan helm.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*