Breaking News

Marak Pekerja Cina, Rakyat Indonesia Gigit Jari, Buruh Harus Melawan

Ketua Umum Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Prof Dr Muchtar Pakpahan: Kebijakan (membiarkan pekerja Cina masuk ke Indonesia) itu membuat rakyat Indonesia gigit jari alias jadi penonton saja. Buruh harus bangkit bergerak, melawan. Kalau kita diam, akan tetap menderita.

Maraknya para pekerja asing asal Cina yang masuk ke wilayah Indonesia, secara legal maupun ilegal harus dilawan. Para pekerja asing itu dianggap sebagai bentuk kebijakan Pemerintahan Jokowi yang sudah tak berpihak kepada Rakyat Indonesia.

Ketua Umum Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Muchtar Pakpahan menyampaikan, serbuan pekerja asal Cina ke Indonesia sudah membuat rakyat Indonesia kehilangan penghidupan dan hanya bisa gigit jari.

“SBSI keberatan akan kebijakan pemerintah yang seperti itu. Dan SBSI melawan kebijakan seperti itu. Karena kebijakan itu membuat rakyat Indonesia akan gigit jari alias jadi penonton saja. Buruh harus bangkit bergerak, melawan. Kalau kita diam, akan tetap menderita,” ujar Muchtar Pakpahan, di Jakarta, Selasa (19/07/2016).

Tokoh Buruh Senior itu mengatakan, salah satu janji Jokowi semasa berkampanye di Pilpres adalah menerapkan Trisakti. Trisakti adalah berdikari atau kemandirian ekonomi, atau berdiri agar rakyat Indonesia sendiri bisa menikmati kekayaan alam Indonesia.

“Ternyata, pemerintahan ini mengundang investor Cina untuk menguasai sumber ekonomi kita. Cina membawa modal sedikit, membawa manajer, membawa produk dan membawa buruh ya ke Indonesia. Pulang-pulangnya nanti membawa keuntungan besar dari Indonesia, dan ditinggalkannyalah kotoran di Indonesia,” ujar Muchtar Pakpahan.

Karena itu, untuk menolak kebijakan Pemerintahan Jokowi yang sudah tidak berpihak kepada buruh Indonesia sendiri, maka Muchtar Pakpahan menyerukan kepada SBSI dan seluruh buruh dan pekerja Indonesia di Tanah Air untuk melakukan protes dan penolakan terhadap pekerja Cina yang menjamur memasuki Indonesia.

“Kita gelar aksi protes di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Selain melakukan aksi unjuk rasa atau protes di seluruh Indonesia, Muchtar Pakpahan juga akan memajukan proses hukum atas kebijakan Jokowi itu.

“Kita majukan gugatan ke pengadilan,” ujarnya.

Selanjutnya, masyarakat harus terus disadarkan bahwa kekayaan alam dan hartanya telah perlahan diserahkan dan dikuasai oleh asing.

“Kalau rakyat, tidak rela hartanya dikuasai asing. Menurutmu apa yang terjadi selanjutnya? Ya, revolusi,” pungkas Muchtar.

Kemarin, Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri mencoba mengklarifikasi dan membantah isu bahwa Indonesia kebanjiran tenaga kerja asal Cina di sejumlah media massa.

Menurut Hanif, berdasarkan data yang ada, jumlah pekerja asal Cina setara dengan jumlah pekerja asing dari negara lainnya yang bekerja di Indonesia.

“Bohong besar jika dikatakan akan ada 10 juta pekerja asing asal China yang masuk Indonesia. Kemungkinan, angka itu diolah dari target kunjungan wisatawan mancanegara,” ujar Hanif dalam keterangannya, Minggu (17/7/2016).

Menurut Hanif, pekerja asal Cina jumlahnya fluktuatif, sekitar 14.000 orang-16.000 orang dalam periode satu tahun.

Sebagaimana pekerja asing lain di Indonesia yang totalnya 70.000-an orang, pekerja asal Cina keluar dan masuk dalam periode satu tahun tersebut.

Dengan kata lain, setiap tahun pekerja asal Cina jumlahnya hanya sekitar 20-22 persen.

Hanif mengatakan, jumlah pekerja asing di Indonesia berada di kisaran 70.000-an orang (dari semua negara) atau sekitar 0.027 persen, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 257 juta.

Atau sekitar 0.05 persen jika dibandingkan dengan angkatan kerja Indonesia tahun 2016 yang sekitar 128 juta.

Selain itu, jika dibandingkan dengan tahun 2011, 2012 dan 2013, jumlah pekerja asing pada tahun 2014, 2015 dan 2016 cenderung menurun.

Berikut data lengkap pekerja asing di Indonesia dari tahun 2011-2016:

Tahun 2011: 77.307 orang
Tahun 2012: 72.427 orang
Tahun 2013: 68.957 orang
Tahun 2014: 68.762 orang
Tahun 2015: 69.025 orang
Tahun 2016 hingga bulan Juni 43.816 orang.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*