Breaking News

Marak Ancaman Intoleransi, Mahasiswa Kelompok Cipayung Ingatkan Tugas Jokowi

Marak Ancaman Intoleransi, Mahasiswa Kelompok Cipayung Ingatkan Tugas Jokowi.

Para aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Cipayung Plus Jakarta menilai pemerintahan Jokowi belum hadir untuk menegakkan hukum dan menciptakan toleransi Indonesia.

 

Karena itu, para  mahasiswa mendesak pemerintahan Jokowi untuk menjamin kerukunan dan toleransi di dalam masyarakat, demi membangun kembali semangat gotong royong untuk membangun Indonesia serta mewujudkan cita-cita Indonesia Merdeka.

 

Juru Bicara Kelompok Cipayung Plus Jakarta Agung Tamtam Sanjaya Butar-Butar menyampaikan, masyarakat Indonesia, khususnya di Jakarta, saat ini sedang menantikan konsistensi Jokowi mewujudkan janji-janji politiknya di Pilpres lalu, yaitu Nawacita.

 

Namun sayangnya, menurut Tamtam, malah benturan intoleransi dan hantaman ketidakrukunan masyarakat yang dipermainkan.

 

“Karena itu, kami dari Kelompok Cipayung Plus Jakarta mendesak pemerintah untuk serius mewujudkan cita-cita Indonesia Merdeka, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan Pancasila,” ujar Tamtam Butar-Butar, dalam konferensi pers, di Jakarta, Jumat (19/05/2017).

 

Lebih lanjut, Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Jakarta ini mendesak segera diwujudkannya Nawacita yang sudah digembar-gemborkan Jokowi sejak Pilpres lalu.

 

“Mendesak pemerintah untuk serius merealisasikan Nawacita  demi kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia,” ujarnya.

 

Senada dengan Tamtam, Ketua Koorkom Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Negeri Jakarta Aan Yusufianto meminta pemerintah untuk menindak tegas setiap ormas yang berhaluan anti Pancasila.

 

“Tindak tegas ormas-ormas yang mengancam persatuan dan kesatuan. Pemerintah harus menegakkan hukum seadil-adilnya tanpa memandang latar belakang primordial tertentu,” ujar Aan.

 

Dalam kesempatan itu, Kelompok Cipayung Plus Jakarta yang terdiri dari Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Jakarta Agung Tam Tam Sanjaya Butar-butar, Ketua Koorkom Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Negeri Jakarta Aan Yusufianto, Ketua Cabang Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Jakarta Pusat John Paul Arianto , Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Timur Yohana Maris Budianti R, Ketua Pengurus Cabang Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (Hikmahbudhi) Jakarta Timur Abhinyano, Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Wilayah Jakarta Pusat dan Barat (Kammi Pusbara) Izharuddin, menyatakan diri sebagai mitra kritis pemerintah.

 

“Akan selalu memberikan kritik dan masukan bagi pemerintah agar tetap sadar terhadap tugas dan tanggung jawabnya,” ujar Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Timur Yohana Maris Budianti R.

 

Oleh karena itu, para mahasiswa juga menyatakan akan melawan setiap kelompok yang merusak organisasi mahasiswa demi kepentingan segelintir orang, yang kerap terjadi belakangan ini.

 

“Kami mengutuk dengan keras kelompok-kelompok yang mencatut nama organisasi kami untuk kepentingan demo tanggal 20 Mei besok, yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan saat ini,”  tegas Ketua Cabang Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Jakarta Pusat John Paul.

 

Dalam seruannya, Kelompok Cipayung Jakarta Plus mengakui, bahwa setelah 71 tahun Indonesia merdeka, rakyat tak kunjung sejahtera.

 

Kemiskinan masih menjadi momok menakutkan, usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa masih jauh dari kata berhasil, ketimpangan ekonomi masih menghiasi wajah bangsa Indonesia, Indonesia yang rukun dan damai masih sekedar jargon yang terucap tanpa pernah bisa benar-benar diwujudnyatakan.

 

“Bangsa kita ternyata masih gemar mempersoalkan perbedaan suku dan agama ketimbang sibuk mempersiapkan diri menghadapi dunia global yang kian maju ini,” ujar Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Wilayah Jakarta Pusat dan Barat (Kammi Pusbara) Izharuddin.

 

Bagaimana mungkin keadilan sosial yang berdasarkan kemanusiaan yang adil dan beradab akan terwujud jikalau sesama anak bangsa melihat perbedaan sebagai sebuah beban dan bukannya kekayaan?

 

“Ini kelemahan sekaligus ancaman serius yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia di usianya yang tidak belia lagi ini. Perkelahian sesama anak bangsa jelas tidak memberikan ruang kepada akal sehat untuk melihat secara objektif kebijakan-kebijakan pemerintah yang berpihak kepada rakyat. Kita tak punya Kesempatan untuk mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat karena kita sibuk mencari musuh,” ujar Ketua Pengurus Cabang Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (Hikmahbudhi) Jakarta Timur Abhinyano menimpali.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*