Breaking News

Makin Tergantung Pada Utang, Pemerintahan Jokowi Kok Tak Mau Berubah

Makin Tergantung Pada Utang, Pemerintahan Jokowi Kok Tak Mau Berubah.

Koalisi Pemantau Pembangunan Infrastruktur menyebutkan ketergantungan terhadap utang memang merupakan masalah yang besar Indonesia. Kondisi defisit anggaran merupakan penyebab menumpuknya utang. Oleh karena itu pemerintah dituntut segera mencari terobosan untuk mengatasi masalah utang dan defisit anggaran.

 

Deputi Direktur Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam), Andi Muttaqien, menerangkan sebagaimana diatur UU no. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, setiap tahunnya pemerintah dan DPR menetapkan defisit dalam APBN tidak lebih dari 3 persen. Sementara rasio utang pemerintah dibatasi pada level 60 persen terhadap PDB.

 

“Kedua indikator inilah yang selalu dijadikan klaim pemerintah bahwa keuangan negara masih dianggap aman dan terkendali walaupun tumpukan utang negara untuk menutupi defisit setiap tahunnya semakin meningkat dan mengkhawatirkan,” katanya dalam siaran persnya, Senin (26/02/2018).

 

Menurut dia, sejak penerapan anggaran defisit, utang merupakan kata kunci dalam pengelolaan APBN. Utang sebagai sumber pembiayaan menutup defisit dijadikan faktor penentu bagi keberlanjutan fiskal, yakni keberlanjutan atas penerimaan dan pengeluaran pemerintah, baik pada sisi rencana maupun realisasi. Maka keberlanjutan fiskal sangat bergantung pada kemampuan pengelolaan utang pemerintah.

 

Namun kondisi ini sangat rentan bagi keuangan negara, dan jelas akan menyengsarakan warga negara. “Pada kenyataannya kemampuan pengelolaan utang pemerintah terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Dengan kata lain, kemampuan penerimaan ekspor untuk membayar utang luar negeri semakin lama semakin berkurang,” tuturnya.

 

Sementara membengkaknya defisit keseimbangan primer menginsyaratkan bahwa APBN telah kehilangan kemampuannya untuk membayar bunga utang dari hasil penerimaan negara. Pemerintah dipaksa mencari utang baru hanya untuk membayar bunga utang lama. “Situasi ini membuat utang Indonesia terus membengkak dan semakin sulit keluar dari jeratannya,” imbuh Andi.

 

Peningkatan utang untuk menutupi defisit anggaran terjadi sangat signifikan. Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri Indonesia mencapai US$ 352,2 miliar atau sekitar Rp4.773 triliun per akhir Desember 2017. Jumlah tersebut naik 10,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

 

Manager Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Edo Rahman, mengatakan untuk mengatasi defisit keseimbangan primer yang terus meningkat, pemerintah hanya memiliki dua opsi, yaitu meningkatkan penerimaan atau memangkas belanja.

 

“Namun peningkatan penerimaan jelas sangatlah sulit apalagi jika mengingat prinsip defisit anggaran adalah mematok penerimaan yang lebih rendah daripada anggaran belanja,” katanya. Di sisi lain, ambisi pemerintah terhadap berbagai pembangunan infrastruktur yang menyedot anggaran juga tidak bisa dibendung.

 

Pihaknya mengingatkan agar pemerintah segera mengakhiri defisit dan utang yang menggerogoti APBN. Pemerintah harus berani membuat terobosan dalam pengelolaan anggaran negara dengan menerapkan kebijakan anggaran surplus, dimana belanja ditekan sedemikian rupa hingga mencapai angka dibawah penerimaan.

 

“Selain itu, pembiayaan proyek pembangunan infrastruktur yang membebani porsi APBN juga harus dikurangi. Hal ini sebenarnya telah dicantumkan dalam amanat Nawa Cita untuk membangun kemandirian,” sebutnya.

 

Sementara dalam konteks negosiasi utang, pemerintah seharusnya memiliki keberanian untuk merenegosiasi utang yang telah terbukti berdampak buruk terhadap lingkungan (utang ekologis), bertentangan dengan konstitusi, dan utang yang dibuat untuk memperkaya diri/rezim penguasa.

 

“Defisit dan utang tidak akan pernah membawa bangsa ini mencapai kemandirian. Maka kewajiban utama Jokowi untuk mengakhiri defisit termasuk didalamnya mendorong alternatif renegosiasi utang dalam kebijakan fiskal Indonesia. Keengganan memperbaiki sistem keuangan negara adalah pengingkaran terhadap Nawa Cita,” tandasnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*