Breaking News

Main Politik Masa Kini, Jangan Sepele Dengan Generasi Milenial

Main Politik Masa Kini, Jangan Sepele Dengan Generasi Milenial.

Pengamat Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menyarankan, agar para kandidat di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 tidak menyepelekan pemilih milenial. Karena jumlah mereka terhitung cukup besar dan berpotensi akan menentukan kemenangan.

 

“Saya pikir pemilih milenial sangat luar biasa. Mereka dari segi suara adalah 30 persen dari total pemilik hak suara. Jadi kalau suara mereka diperebutkan oleh pasangan paslon mereka kemungkinan akan menang karena mereka akan menjadi penentu pemenang di Pilkada nanti,” katanya di Jakarta, Kamis (12/01/2018).

 

Sebagai pemilih rasional, lanjut Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner ini, kelompok milenial cenderung lebih cerdas dengan melakukan analisa dengan berdasarkan pertimbangan komentar publik.

 

Hal tersebut karena akses media dalam jaringan (daring) ada digenggaman mereka. Untuk itu, Emrus menyarankan agar para kontestan di Pilkada nanti memberikan isi kampanye yang menarik bagi mereka. Mengingat, pemilih milenial tidak mudah terikat oleh ideologi politik tertentu.

 

“Pemilih pemula ini belum ada terikat dengan kelompok kepentingan. Jadi para kontestan harus menunjukan kampanye politik yang menyenangkan, performanya bisa membuat mereka tertarik, baik itu bergaya swafoto ala-ala anak muda, walaupun kandidat nya orang-orang tua dari sisi usia,” ujar.

 

Gaya seperti itu, sambung Emrus, akan menjadi daya tarik tersendiri bagi pemilih milenial untuk memilih calon yang dianggap sesuai dengan harapan mereka.

 

Saat ini, kata Emrus, pemilih milenial, cenderung kritis terhadap para kandidat. Karena mereka bisa langsung menganalisa rekam jejak dari setiap kandidat. Adanya anggapan pemilih milenial apatis terhadap politik merupakan kesalahan.

 

Dia mengatakan, anggapan tersebut terbentuk karena partai politik, para kandidat maupun penyelenggaraan pemilu, tidak mampu menawarkan sesuatu yang mendekati dan menganalisa kebutuhan mereka.

 

“Yang salah itu adalah partai dan kandidat karena mereka tidak mampu menawarkan sesuatu yang baik dan mampu memenuhi kebutuhan mereka jangan salahkan mereka kalau misalkan tidak datang ke kotak suara jadi bagaimana partai politik atau pun kandidat ini mampu menawarkan sesuatu yang memenuhi kebutuhan mereka,” pungkasnya.(JR)

 

Leave a comment

Your email address will not be published.


*