Breaking News

Mafia Impor Gula Yang Dikenal Sebagai 7 Samurai Hendak Matikan Industri Gula Rafinasi Nasional, Indonesia Harus Lawan!

Mafia Impor Gula Yang Dikenal Sebagai 7 Samurai Hendak Matikan Industri Gula Rafinasi Nasional, Indonesia Harus Lawan!

Masyarakat Indonesia diminta untuk bahu membahu melakukan pembongkaran terhadap mafia impor gula putih ke Indonesia. Jika pemerintah dan aparat penegak hukum sudah tidak bisa dipercaya untuk melakukan pengusutan, maka masyarakat sendiri akan bergerak melakukan pemberantasan terhadap mafia impor gula itu.

Indonesia Developmet Monitoring menyampaikan, untuk mafia impor gula ke Indonesia, dikenal dengan operasi 7 Samurai Importir Gula.

Direktur Eksekutif Indonesia Development Monitoring (IDM) Bin Firman Tresnadi menyampaikan, dari investigasi Indonesia Development Monitoring  ke pedagang pasar  di kota-kota  yang terjadi rembesan gula rafinasi, ditemukan dari pedagang yang mengatakan membeli gula rafinasi yang di-packing dalam karung tanpa merek  dari mobil yang berkeliling.

“Hal ini tentu sangat merugikan  Industri Gula rafinasi Nasional,” ujar Bin Firman Tresnadi dalam keterangan persnya, di Jakarta, Senin (11/04/2016).

Dia mengungkapkan, ada Operasi Senyap Mafia Importir Gula Kristal Putih yang sengaja dilakukan sebagai black campaign terhadap industri gula rafinasi di Indonesia.

Dia menjelaskan, cara kerja mafia itu yakni, pertama mengadu domba antara petani tebu bersama pabrik gula putih kristal  dengan Industri Gula rafinasi  yaitu dengan cara mengunakan usaha makanan dan minuman fiktif untuk membeli gula dari Industri rafinasi, kemudian gula rafinasi tersebut dijual kembali atau dirembeskan  ke pasar-pasar. Hal ini terbukti dengan investigasi tim pencari fakta Serikat Tani Nasional ke daerah seperti di Cimahi, Purwokerto,  Banjarnegara, Gunung Kidul, Surabaya, Garut, Tasikmalaya, Bogor, Bekasi, Depok,  dengan harga yang sangat murah  bila dibandingkan gula pasir tebu.

Dengan begitu, lanjut dia, Industri Gula Rafinasi Nasional akan dituduh menjual gula rafinasi langsung ke pasar, dan dijadikan sebagai musuh bersama petani tebu.

Patut diduga, kata Bin, kejadian ini seperti operasi kontra intelejen yang dilakukan oleh mafia impor gula putih dan para peyelundup gula putih kristal untuk menghancurkan  industri gula rafinasi yang masih sangat diperlukan untuk memasok industri makanan dan minuman.

“Karena itu, patut dicurigai ada upaya  besar dari para mafia impor gula putih yang terkenal dengan sebutan Tujuh Samurai Importir Gula, yang sudah dicabut izinnya saat pemerintahan SBY- Budiono. Akibat ulah Tujuh Samurai Importir Gula Putih Kristal itu, selalu meyebabkan harga gula yang tinggi, dan telah menyebabkan inflasi pangan,” ungkap dia.

Sebelumnya, sekitar 6 bulan yang lalu Menko Maritim Rizal Ramli sudah mensinyalir akan adanya gerakan 7 Samurai Gula putih impor yang akan masuk lagi ke Indonesia tanpa melalui proses rafinasi di Indonesia. Rizal Ramli berjanji akan menumpas 7 Samurai Gula putih impor itu.

Oleh sebab itu, Indonesia Development Minitoring mengingatkan Presiden Jokowi agar jangan sampai akibat Rekomendasi Panja Gula DPR tertipu oleh ulah 7 samurai importir Gula  putih. Sebab, hal ini seperti ada benang merah antara pernyataan Wakil Ketua Panja Gula DPR Abdul Wahid  yang meminta pemerintah mencabut 9 Izin Industri Gula rafinasi dengan operasi agenda setting oleh Tujuh Samurai Importir Gula putih yang ingin mendapatkan Izin impor Gula putih Kristal.

“Itulah yang selalu merugikan masyarakat dan petani tebu,” ujar Bin.

Bin juga menyangkan sikap Abdul Wahid yang kurang mengerti tentang tata niaga gula nasional. Sikapnya itu, menurut Bin, tidak berpihak pada masyarakat yang menjalankan Usaha Kecil Menengah di sektor makanan dan minuman yang membutuhkan produk industri gula rafinasi.

“UKM   merupakan cerminan ekonomi kerakyatan. Sebaiknya Partai Gerindra memanggil Abdul Wahid dan menariknya dari panja gula DPR karena akan telah membuat masyarakat tidak simpatik,” ujarnya.

Indonesia Development Monitoring juga mendesak aparat penegak hukum untuk menindak para pengacau tata niaga gula di pasar, yang didalangi oleh 7 samurai gula dengan sengaja merembeskan gula rafinasi ke pasar-pasar agar terjadi black propaganda pada industri gula rafinasi.

Sebagai catatan, lanjut Bin, gula putih kristal yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik gula dalam negeri dari tebu perkebunan rakyat dan perkebunan perusahaan /BUMN  hanya bisa mencapai 2 juta per metrik ton kebutuhan untuk tahun 2016.

“Sedangkan kebutuhan komsumsi Gula Nasional mencapai 5.97 juta metrik ton,” ujar dia.

Karena itu, lanjut Bin, keberadaan industri gula rafinasi sangat dibutuhkan untuk menjaga angka inflansi nasional dari sektor harga komsumsi gula nasional.

“Dan, di sisi lain, industri gula rafinasi jauh lebih memberikan efek trickle down komsumsi ekonomi nasional, karena gula rafinasi atau raw sugar diproses di dalam negeri untuk dijadikan gula putih,” pungkas Bin.(JR-1)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*