Breaking News

Loh, Katanya Defisit Anggaran, Kok Istana Malah Beli Mobil VVIP Buat Jokowi

Anggaran dipotong, penegakan hukum memble.

Sekretariat Negara membeli mobil Very Very Important Person (VVIP) bagi Presiden. Loh, katanya negara sedang defisit anggaran, namun pengeluaran untuk hal-hal yang tidak prioritas terus dilakukan.

 

Langkah Setneg yang membeli mobil VVIP untuk Jokowi itu dianggap tidak tepat, sebab, negara saat ini sedang konsern melakukan pemangkasan anggaran yang dianggap tidak prioritas untuk mengurangi defisit anggaran di APBN-P 2016.

 

Direktur Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi mengatakan, pada tahun 2016 atau dalam APBN-P 2016, defesit masih sangat besar senilai yakni sebesar 296,7 triliun rupiah. Dengan defisit tersebut pemerintah mengambil langkah dengan melakukan pemangkasan anggaran di Kementerian atau lembaga negara.

 

“Presiden Jokowi itu, kalau bicara amputasi anggaran di publik selalu enak dan tegas. Lihat saja, pada tahun 2016, semua kementerian atau lembaga negara diamputasi gara gara bukan disebabkan penghematan anggaran, tetapi penerimaan negara yang sedang jeblok karena kegagalan pemerintah sendiri,” ujar Ucok dalam keterangan persnya, Rabu (24/08/2016).

 

Uchok memaparkan, tahun 2016 sesuai dengan dokumen rencana umum pengadaan, Setneg akan melakukan pengadaan kenderaan bermotor Roda 4 untuk kenderaan VVIP Kepresidenan dengan nilai sebesar 26.372.500.000 rupiah untuk 2 unit kenderaan. Yang artinya, satu kenderaan VVIP kepresidenan, memiliki pagu alokasi anggaran yang disediakan sebesar 13.186.250.000 rupiah.

 

“Jadi sangat aneh, walaupun terjadi defisit anggaran dalam APBN-P 2016, dan amputasi anggaran Setneg seperti ngotot ingin beli mobil mewah. Ada apa ini?” ucapnya.

 

Menurut Uchok, pembelian mobil VVIP Kepresidenan tersebut bukan hanya pemborosan anggaran dalam APBN, tetapi telah merusak akal sehat publik yang seenaknya membeli mobil VVIP tanpa melihat pendapatan rakyat yang semakin menurun dratis dan miskin.

 

“Jadi, batalkan pembelian mobil VVIP itu. Ngapain Presiden atau pihak istana pakai mobil VVIP kalau rakyat tambah miskin. Dan Presiden Jokowi harus konsisten dengan pernyataannya, kalau menyatakan penghematan seharusnya dimulai dari diri pribadi Presiden Jokowi dong, bukan lebih dulu melakukan amputasi anggaran pada tiap Kementerian atau lembaga negara,” tegasnya.

 

Selain itu, kata Uchok, dia meminta Komisi II DPR agar mendesak Setneg untuk membatalkan pembelian mobil VVIP kepresidenan tersebut.

 

“Dari pada beli mobil mahal akan lebih baik beli mobil esemka yang harga satu unit sebesar 75.000.000 rupiah maka pihak istana bisa beli mobil esemka sebanyak 352 unit,” ujarnya.(Richard/Jimmi)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*