Breaking News

Lima Korporasi Sudah Jadi Tersangka Suap Pengurusan Pajak, Kejagung Garap Calon Tersangka Berikutnya

Status Barang Rampasan Dipertanyakan, Kejaksaan Agung Membantah; Kapuspenkum: Tanah dan Rumah di Pondok Indah Masih Diblokir.

Tim penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan lima perusahaan sebagai tersangka korporasi dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi suap kepada pejabat Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Semarang berinisial PAW untuk pengurusan pajak miliaran rupiah.

Kelima perusahaan itu yakni  PT Zebit Solution, PT Roda Nusantara, PT Jafpa Santori, PT Citra Panji Manunggal dan PT Sinar Meadow Internasional Indonesia.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum)Kejaksaan Agung (Kejagung) Mukri mengungkapkan, saat ini penyidik masih terus memeriksa saksi-saksi dari tersangka korporasi tersebut untuk mengembangkan kasus ini.

“Kita telah menetapkan lima tersangka korporasi. Ini pengembangan dari perkara sebelumnya, masih terus dikembangkan oleh penyidik,” kata  Mukri, di Jakarta, Senin (12/11/2018).

Dia menjelaskan, penetapan tersangka kelima korporasi ini sebagai pengembangan kasus dugaan korupsi suap yang dilakukan Mantan Pejabat Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Kebayoran Lama, yang kini bertugas di KPP Semarang berinisial PAW dan mantan PNS di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Wilayah Jakarta Selatan Jajun Junaedi dan mantan Pejabat Kantor Pelayanan Pajak Madya Gambir Jakarta Pusat Agoeng Pramoedya.

“Ini sebagai pengembangan kasus sebelumnya, ada dugaan kuat tindak pidana korporasi dalam perkara ini,” jelasnya.

Mukri menegaskan, bukan tidak mungkin nantinya penyidik akan menetapkan tersangka lain, jika dalam pengembangan penyidikan ditemukan adanyan bukti kuat keterlibatan pihak-pihak lain dalam kasus ini.

“Kalau soal tersangka baru, nanti kita lihat pengembangannya, jika ada buktinya bisa saja,” tegasnya.

Pada Selasa (6/11/2018) lalu, penyidik pidana khusus Kejaksaan Agung menangkap tersangka SFW yang merupakan istri tersangka mantan Pejabat Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Kebayoran Lama, yang kini bertugas di KPP Semarang, berinisial PAW.

Penangkapan terkait kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) hasil korupsi yang diduga dilakukan suaminya PAW.

Tersangka SFW ditangkap tanpa perlawanan di rumahnya di Jalan Taman Tlogomulyo, Kelurahan Tlogomulyo Rt 001 Rw 007, Kecamatan Pedurungan, Semarang, Jawa Tengah. Penangkapan dilakukan karena yang bersangkutan tidak kooperatif selama proses penyidikan berlangsung.

Penangkapan tersangka didasarkan surat perintah penangkapan Nomor:Print-03/F.2.1/11/2018 tanggal 2 November 2018 ditanda-tangani Direktur Penyidikan. Usai ditangkap, tersangka SFW langsung diterbangkan dari Semarang menggunakan pesawat City Link tujuan Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur dan dibawa  ke Gedung Bundar Kejaksaan Agung untuk diperiksa penyidik. Usai menjalani pemeriksaan tersangka SFW langsung dilakukan penahanan.

Penahanan tersangka selama 20 hari terhitung sejak 6 November hingga 25 November 2018 berdasarkan surat perintah penahanan Nomor: Print-35/F.2/Fd.1/11/2018 tanggal 6 November 2018.

Diketahui, dalam kasus ini awalnya penyidika menetapkan dua orang tersangka yakni mantan PNS di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Wilayah Jakarta Selatan Jajun Junaedi dan mantan Pejabat Kantor Pelayanan Pajak Madya Gambir Jakarta Pusat Agoeng Pramoedya yang saat ini sudah dalam proses persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Selanjutnya, penyidik melakukan pengembangan dan menetapkan satu tersang baru yakni Mantan Pejabat Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Kebayoran Lama, yang kini bertugas di KPP Semarang, Berinisial PAW. Saat ini sudah dalam proses pemberkasan dan tersangka PAW sudah dilakukan penahanan.

PAW ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dalam menerima gratifikasi penjualan faktur pajak tahun 2007-2013.

Tersangka PAW diduga telah menerima suap sebesar Rp4,6 miliar dari pihak swasta yang diduga melakukan pengemplangan pajak.

Dugaan praktik suap ini memakai modus menggunakan perantara security perumahan, tukang jahit, Office Boy KPP Madya. Selama kurun waktu itu, para tersangka  Jajun Junaedi dan Agoeng Pramoedya  menerima uang haram dari pemberi suap di sejumlah rekening sebesar Rp14.162.007.605.

Uang diduga hasil korupsi itu digunakan antara lain untuk membuka deposito atas nama lain dan bersama-sama PAW membeli aset berupa tanah/bangunan atas nama sendiri maupun nama orang lain.

Tim penyidik Pidsus dalam kasus ini menyangkakan tersangka melanggar pasal 3 ayat (1) huruf a, pasal 3 ayat (1) huruf b, pasal 3 ayat (1) huruf c Undang-Undang (UU) Nomor 25 Tahun 2003 jo pasal 55 ayat (1) KUHP dan pasal 3 dan pasal 4 UU Nomor 8 Tahun 2010 jo pasal 55 ayat (1) KUHP. (JR)

 

Leave a comment

Your email address will not be published.


*