Breaking News

Kritisi Saudi Arabia, Kuota Haji Diseminarkan di Jakarta

Kritisi Saudi Arabia, Kuota Haji Diseminarkan di Jakarta.

Sejarah, persoalan penyelenggaraan ibadah haji hingga kuota haji di Saudi Arabia masih menyisakan berbagai persoalan.

 

Persoalan-persoalan ini dibahas dan diseminarkan di Jakarta. Untuk mengakhiri dominasi Saudi dalam pelaksanaan haji dipilih sebagai topik pembicaraan dalam Konferensi Internasional Haji yang di selenggarakan  di Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia (25/1). Konferernsi ini terselenggara terselenggara atas kerjasama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan Garda Suci Merah Putih dan Haramain Watch.

 

Intelektual Muslim Sayuti Asyathri menjelaskan, haji memiliki dimensi sosial dan politik. Jika mengacu pada peristiwa Khaibar (benteng tebesar Yahudi pada jaman Rasulullah yang dikalahkan oleh panglima Sayyida Ali Bin Abi Thalib).

 

“Maka kita bisa belajar bahwa pengaruh internasional dan intrik politik pada zaman kenabian bahkan ada sebelum kemunculan Nabi Muhammad SAW,” tutur Sayuti saat menjadi pembicara dalam Konferensi Internasional Haji itu, di UI Jakarta.

 

Dia menyampaikan, dengan mengingat peristiwa lahirnya Nabi Muhammad yang dibarengi dengan hancurnya pasukan gajah yang dipimpin Abrahah, maka konteks saat ini Mekkah, Madinah dan penyelenggaraan Haji tak lepas dari turbulensi politik yang terjadi di dunia.

 

Menaggapi apa yang disampaikan oleh Sayuti Asyatri, di sela konferensi, Mujtahid Hashem selaku Sekjen Garda Suci Merah Putih yang juga salah satu pembicara, mempertegas bahwa dalam konteks kekinian, Khaibar adalah Israel dan ekpedisi Abrahah adalah militer Amerika dan NATO yang mengamankan negara-negara Teluk.

 

“Memang Amerika tidak berusaha menghancurkan Kakbah secara fisik, namun ikut menjaga jangan sampai Haji digunakan untuk melawan kepentingannya di dunia Islam,” ujar Mujtahid.

 

Sementara Presiden Muslim Student Association, India, Shujaat Ali menyoroti peninggalan sejarah Islam yang dihancurkan oleh Saudi. Peninggalan sejarah yang mengingatkan pada kehidupan Rasulullah banyak dihancurkan, bukan karena ketidaktahuan, namun karena kesengajaan Saudi dengan alasan melebarkan kompleks haji atau membangun hotel dan restoran McD.

 

“Hanya sedikit muslim yang sadar bahwa kebijakan yang dilakukan Saudi sengaja menghilangkan peninggalan sejarah Islam, karena memang Saudi anti Islam. Mengklaim Islam tapi perilaku politiknya anti Islam, mengaku pelayan haji tapi sebenarnya anti haji dengan menghilangkan tujuan agung ibadah Haji,” kata Shujaat.

 

Wakil Rektor Universitas Islam Ibnu Kholdun, Farizal Marlius lebih banyak berbicara dalam ranah kesalehan individual orang yang berhaji setelah kembali dari ibadah haji dan tidak mengkritik kuota Haji Saudi karena kuota telah dibicarakan besama di OKI.

 

Menanggapi statemen wakil Rektor Ibnu Khaldum, di sela-sela konferensi, Mujtahid Hashem menjelaskan bahwa bisa saja kuota haji dibicarakan Saudi dengan negara-negara Islam, namun ketika berbicara kuota menunjukkan ketidakmampuan Saudi menyelanggarakan Haji.

 

“Coba bayangkan ormas Jammah Tabligh bisa selenggarakan international gathering 5 juta orang, Ziarah Arbain Karbala dengan panitia rakyat Najaf dan Karbala bisa menerima 40 juta peziarah. Saudi 100 tahun lebih berkuasa tapi membatasi orang berhaji dengan istilah kuota. Ini tidak masuk akal bagi orang yang berfikir merdeka,” tegas Mujtahid.

 

Lebih jauh Mujtahid memberikan ilustasi kepada peserta, jika dibangun mesjid yang bisa menampung 1000 orang untuk shalat, lalu di tahun kedua ternyata jamaah membludak sampai 2000 orang, apakah panitia layak memberikan visa buat si A hari ini visa shalat si B hari berikutnya?

 

“Pasti Anda akan cepat berfikir memperluas. Saudi tidak kekurangan uang, karena miliaran dolar masuk ke kas Saudi dari Visa saja. Tidak ada penjelasan lagi kecuali memang Saudi anti penyelenggaraan Haji karena bisa menggangu dominasinya di Makkah dan Madinah,” ujar Mujtahid.

 

Konferensi yang sempat dibatalkan di UIN karena tekanan Kedutaan Saudi ini dilesenggarakan kerjasama Himpunan Mahasiswa Islam, Garda Suci Merah Putih dan Haramain Watch diakhiri dengan komitmen bersama menggalang dukungan untuk menghentikan politisasi Haji oleh keluarga Saud.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*