Breaking News

Korban KM Sinar Bangun Tidak Terurus, Jutaan Ekor Ikan Mati di Danau Toba, Aparat Hukum Harus Tindak Tegas Pengusaha Nakal

Korban KM Sinar Bangun Tidak Terurus, Jutaan Ekor Ikan Mati di Danau Toba, Aktivis Minta Aparat Hukum Tindak Tegas Pengusaha Nakal.

Aktivis Lingkungan Kawasan Danau Toba (KDT) mendesak aparat hukum dan aparat pemerintah segera menindaktegas para pengusaha dan pihak-pihak yang secara sengaja dan sadar membiarkan kerusakan lingkungan di Danau Toba.

Belum selesai urusan evakuasi korban Kapal Motor Sinar Bangun di Danau Toba pada Juni lalu, kini di danau vulkanik terbesar di dunia itu kembali terjadi matinya jutaan ikan.

Sekretaris Eksekutif Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) Jhohannes Marbun alias Joe menyampaikan, semua itu menunjukkan betapa pemerintah di tingkat pusat hingga ke daerah tidak serius mengurusi lingkungan, terutama di Kawasan Danau Toba (KDT).

Padahal, menurut aktivis lingkungan ini, sudah berkali-kali gugatan masyarakat kepada para pengusaha yang tidak mempedulikan Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) dalam menangkarkan ikan-ikannya di Keramba Jaring Apung (KJA) di permukaan Danau Toba, tetapi tidak digubris.

Berbagai persoalan ekologis dan lingkungan yang berujung pada bencana, termasuk meninggalnya para penumpang KM Sinar Bangun dan jutaan ikan dari KJA menjadi bangkai merupakan sebuah kesinambungan yang tidak pernah diusut tuntas oleh aparat hukum dan aparatur pemerintahan.

“Aparat hukum harus menunjukkan giginya untuk menindaktegas para penguasaha nakal yang merusak ekosistem, lingkungan dan juga tatanan kehidupan di Kawasan Danau Toba. Demikian juga aparat pemerintahan, dari pusat dan daerah, jangan bermain mata dengan para pengusaha nakal. Semua harus ditindak tegas. Miris selama ini tidak ditindaklanjuti,” tutur Joe Marbun, di Jakarta, Kamis (23/08/2018).

Selain tugas dan tanggung jawab aparat penegak hukum yang teledor serta tidak berpihak kepada masyarakat dan KDT, menurut Joe Marbun, alam itu sendiri pasti akan bereaksi dengan caranya jika tidak diperbaiki dengan semestinya.

“Bencana demi bencana bisa akan terus terjadi. Ini peringatan keras dari alam kepada manusia. Ini sekaligus peringatan keras kepada aparat hukum dan pemerintahan, termasuk peringatan keras bagi manusia di sekitar KDT,” ujar Joe.

Lemahnya penegakan hukum, kata dia, sudah terbukti sampai saat ini tidak ada pihak-pihak yang bertanggung jawab yang diberi sanksi. “Ini konyol sekali. Tidak ada yang bertanggung jawab, tetapi korban dan bencana yang karena disengaja malah terus terjadi. Tolong ini harus segera disikapi dan diusut tuntas,” tegas Joe.

Kemarin, Rabu (22/08/2018), diberitakan jutaan ekor ikan dalam Keramba Jaring Apung (KJA) yang dipelihara mati di Danau Toba, tepatnya di Pangururan, Samosir.

Bangkai-bangkai ikan yang mengambang itu menjadi pemandangan menyedihkan bagi masyarakat sekitar.

Para pemilik KJA, sejak sore sibuk mengumpulkan bangkai-bangkai ikan ke dalam karung. Semampu mereka, bangkai-bangkai itu diangkut memakai perahu ke daratan untuk dikuburkan.

Saut Simanjorang, seorang pengelola keramba, mengatakan ikan-ikan awalnya satu per satu mengapung ke permukaan. Kejadian itu berlangsung sejak pagi. Tepat tengah hari, pemandangan sorenya mulai terlihat di keramba-keramba lain. “Awalnya mengapung satu per satu, lalu bermatian. Kami sedih,” tuturnya.

Jenis ikan yang mati beragam ukuran dan jenis. Ikan yang gampang mati yakni ikan mas. Ikan mujahir dan nila juga bermatian. Kematian itu diduga karena kekeruhan air Danau Toba beberapa hari terakhir. Sehingga, ikan kekurangan oksigen.

Hingga malam, pemilik keramba ikan sibuk. Sejumlah alat berat diturunkan mengangkut bangkai-bangkai. Warga juga bergotong-royong membantu membersihkan danau.

Sementara itu, beberapa hari lalu air Danau Toba terlihan berubah kecokelatan. Fenomena aneh terjadi pada Perairan Danau Toba,di Samosir hingga Sabtu, (18/8/2018) tengah hari. Warna air di danau tektovulkanik yang awalnya biru terlihat kecokelatan.

Pemandangan ini terjadi di sekitar kaki Gunung Pusuk Buhit, tepatnya di Tanjung Bunga, dan wilayah danau sekitar Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir. Warna air danau coklat kekuning-kuningan.

Bulat Limbong, warga Desa Boho Kacamatan Sianjur Mula-mula mengatakan, fenomena tersebut jarang terjadi. Menurut mereka, apabila ada tanda alam seperti itu biasaya akan terjadi kemarau berkepanjangan di Kawasan Danau Toba.

“Biasanya kalau ada tanda-tanda begini akan ada terjadi kemarau panjang,” ujar pria yang sehari-hari menjadi Nelayan di Danau tersebut.

Menurut pengalaman mereka, akibat angin kencang maka gelombang danau meningkat. Kemudian, arus air di dalam danau mengguncang lumpur yang selama ini mengendap.

Di sisi lain, dia juga bercerita tentang fenomena lain di daerah tersebut. Ada kalanya, pada waktu tertentu muncul gelombang udara sebesar kepalan tangan dari dasar danau dengan jumlah yang banyak disertai air keruh seperti mengandung minyak.

Menurutnya, jika fenomena ini terjadi musim kemarau bisa berlangsung hingga 6 bulan lebih. Akibat kekeruhan air tersebut, ikan yang mereka tangkap pakai jaring (doton) mati seketika.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*