Breaking News

Hanya Untuk Konsumsi Orang Dewasa, Jangan Sesatkan Informasi Aturan Perokok

Hanya Untuk Konsumsi Orang Dewasa, Jangan Sesatkan Informasi Aturan Perokok.

Penyesatan informasi tentang ketentuan bagi perokok jangan dilakukan. Anak-anak di bawah umur atau yang belum berusia 18 tahun ke atas hendaknya tidak dicecoki dengan informasi sesat.

Penasehat Komunitas Perokok Bijak Afif menyampaikan, pelajar yang mulai merokok biasa dari mulai coba-coba, mencuri-curi waktu dan tempat, serta mengikuti tren di kalangan teman-temannya, sehingga masuk sebagai perilaku dan gaya hidup sebagai orang dewasa.

Kebiasaan rasa ingin tahu, lanjut Afif, dan pemahaman yang minim serta kurangnya informasi bahwa merokok di bawah umur 18+ di larang, dan jelas tercantum dalam iklan tembakau/rokok, sesuai dengan PP 109 Tahun 2012.

Afif mengatakan, kebiasaan merokok pada dasarnya merupakan hal sangat tidak dianjurkan, karena rokok hanya diproduksi untuk konsumsi orang dewasa atau berusia 18+.

“Kami berharap para pedagang rokok tidak melayani penjualan rokok pada anak-anak,” kata Afif dalam keterangan persnya, Sabtu (02/04/2016).

Meski Afif sangat menyayangkan jumlah perokok dari kalangan pelajar yang lumayan besar, yakni disebut mencapai 58.472 siswa saat ini menjadi perokok aktif, akan tetapi Afif juga mempertanyakan kebenaran data tersebut.

“Kalau benar ada 58.472 pelajar yang menjadi peroko aktif, kami sangat meyanyangkan, tapi apakah data tersebut valid, itu adalah pertanyaan berikutnya,” ujar dia.

Menurut dia, para pelajar baik banyak siswa sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) yang merokok tanpa merasa bersalah harus dihentikan.

“Sebenarnya dengan sanksi dari sekolah, cukup untuk menekan angka perokok remaja,” ujar dia.

Komunitas Perokok Bijak, lanjut dia, juga mendukung larangan tegas merokok bagi pelajar (anak-anak dan remaja) di bawah umur 18+.  Misalnya, lanjut Afif, data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID-Kota Bekasi), bahwa perokok aktiv pelajar di Kota Bekasi 30 persen dari jumlah 194.907 siswa pelajar Bekasi. Apabila itu benar, lanjutnya, maka jelas ini adalah bagian yang harus menjadi perhatian serius orang tua dan guru.

Menurut Afif, perilaku orang tua dan pendidik sering kali bertentangan. Seperti, menyuruh anak tidak membeli rokok, tapi guru merokok di lingkungan sekolah, adalah bagian yang menunjukkan mereka bukanlah perokok bijak.

“Perokok bijak itu harus tahu adab dan etika, Perokok harus memberi edukasi pada anak bahwa rokok adalah produk untuk orang dewasa dan guru tidak merokok di lingkungan pendidikan, itu salah satu bukti sikap bijak dari perokok,” jelas Afif.

Karena itu, Afif meminta agar semua pihak tidak mengeksploitasi informasi dan aturan tentang perokok menjadi salah kaprah. Dia juga menyampaikan, bahwa data dan informasi tentang perokok anak pun harus dibuat valid.

“Kami berharap, data yang disampaikan adalah valid, bukan sekedar agenda mendorong aturan kawasan tanpa rokok yang berlebihan dalam penerapnya. Kawasan tanpa rokok adalah pengaturan, bukan pelarangan” tutup Afif.

Sebelumnya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Bekasi menyebut, sebanyak 30 persen pelajar sekolah menengah pertama dan atas di wilayah setempat menjadi perokok aktif.

“Sebagian besar, merokok masih mengenakan seragam sekolah,” kata Ketua KPAID Kota Bekasi, Syahroni, Senin (28/3/2016).

Jumlah pelajar yang menjadi perokok aktif tersebut sekitar 30 persen dari seluruh pelajar di Kota Bekasi, yakni 194.907. Rinciannya SMP 83.204 orang, sedangkan siswa SMA sederajat mencapai 111.703.

Mayoritas perokok yang masih berstatus pelajar itu menganggap hal biasa merokok di tempat umum. Bahkan, tak jarang dari mereka merokok di sekitar lingkungan sekolah di luar pagar. Misalnya, di sejumlah warung kecil yang menjual rokok eceran atau per batang.

Menurut dia, pelajar cenderung menjadi perokok aktif karena lemahnya pengawasan orang tua siswa. Soalnya, para orang tua kerap memberikan keleluasaan terhadap anaknya berkumpul bersama teman-temannya seusai pulang sekolah.

“Anak-anak tidak langsung pulang, melainkan nongkrong dulu,” kata Syahroni.

Hal ini, lanjutnya, dapat mempengaruhi para pelajar tersebut mencoba sesuatu hal yang negatif, seperti merokok. Awalnya, anak hanya meniru dan mencoba-coba, lalu menjadi kecanduan. Padahal, ucap dia, seharusnya anak seusai sekolah langsung pulang ke rumah.

“Di rumah tugas orang tua mendidik, sehingga terhindar dari kegiatan negatif,” ujarnya.

Untuk meminimalisasi perokok aktif di kalangan pelajar, menurut dia, orang tua melakukan pendekatan dengan anak, sehingga anak cenderung membuka diri kepada orangtuanya mengenai masalah yang dihadapi.

Kepala Bidang Bina Program pada Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Agus Enap, tak menampik. Menurut dia, pelajar leluasa membeli rokok karena tak ada sanksi bagi penjual yang menjajakan rokoknya ke anak. Seharusnya, kata dia, ada peraturan yang mengetatkan tata cara pembelian rokok.

“Sehingga tak semua orang bisa beli rokok,” kata Agus.

Menurut dia, guru kesulitan melakukan pengawasan terhadap anak didiknya. Sebab, jumlah guru di Kota Bekasi juga terbatas, lagi pula tugasnya hanya di lingkungan sekolah seperti mengajar.

“Tidak mungkin guru juga mengawasi pelajar di luar sekolah. Tapi jika kebetulan kedapatan anak didiknya merokok pasti guru menegur,” ujarnya.

Agus mengatakan untuk menekan penyalahgunaan rokok di kalangan pelajar, pihaknya memberlakuan larangan merokok bagi kalangan guru dan pegawai sekolah. Selain itu, siswa yang kedapatan merokok diskors atau dipanggil orangtuanya.

“Sejauh ini belum ada yang kedapatan merokok di lingkungan sekolah. Kalau di luar kami akui ada,” kata Agus.(JR-1)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*