Breaking News

KLHK Kembangkan Sistem Agroforestri Bagi Petani Indonesia

KLHK Kembangkan Sistem Agroforestri Bagi Petani Indonesia.

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sedang mengembangkan Sistem Agroforestri sebagai salah satu program pemerintah untuk memaksimalkan potensi sumber daya alam untuk dimanfaatkan petani.

Sistem agroforestri diperuntukkan bagi petani yang menggarap lahan hutan milik negara, dengan syarat proses bercocok tanamnya harus berbasis ramah lingkungan.

Pengembangan dan pengenalan agrofrestri terus dilakukan di tingkat tapak sehingga masyarakat bisa lebih sejahtera dan hutan lestari.

Seperti yang dilakukan oleh Balai Litbang Teknologi Agroforestry (BP2TA) Ciamis dengan terus mendiseminasikan hasil penelitian dan pengembangannya. Diseminasi dilakukan, salah satunya melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Agroforestri di Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Lingkup Balai Pengelolaan Hutan Produksi (BPHP) Wilayah XII Palu di Palu, beberapa waktu lalu.

Kepala BP2TA, Bagus Novianto mengatakan, Konsep dan Aspek Teknologi Agroforestri untuk Mendukung Pengelolaan Sumber Daya Alam.

“Kami juga berhasil menerapkan model agroforestri tanaman hutan penghasil sumber pangan (umbi-umbian) dalam mendukung program ketahanan pangan lokal di Garut, Jawa Barat dan KPHP Yogyakarta, serta adopsi penerapan model agroforestri bambu dalam rangka rehabilitasi hutan dan lahan oleh BPDAS-HL Citanduy, Jawa Barat,” kata bagus dalam keterangan press release-nya, Jumat (8/6/2018).

Sementara itu, Peneliti BP2TA Ciamis, Aditya Hani, mengatakan bahwa keberhasilan agroforestri berkaitan dengan pemilihan jenis tanaman, pengaturan ruang tumbuh, dan pemeliharaan.

Menurut Aditya, untuk meningkatkan produktivitas agroforestri dapat dilakukan melalui variasi komoditas yang ditanam di bawah tegakan kanopi, dan rehabilitasi lahan pertanian sebagai bagian dari menjaga hutan yang tersisa melalui penerapan pertanian organik.

Sementara itu, dengan memaksimalkan penggunaan yang bijaksana dari pengendalian secara biologi, pengendalian hama penyakit terpadu, dan sistem pengelolaan biaya rendah.

“Litbang silvikultur agroforestri yang dilakukan BP2TA Ciamis diantaranya kombinasi sengon dan cabai, manglid dengan berbagai jenis umbi-umbian, manglid dengan tanaman semusim (jagung dan kedelai), nyamplung dan tanaman semusim, dan agroforestri bambu,” ujar Aditya saat membagikan pengalamannya kepada para peserta.

Kegiatan ini dihadiri oleh 48 orang peserta dari 12 KPHP di 3 Provinsi, yaitu 3 KPHP dari Gorontalo, 1 KPHP dari Sulawesi Utara, dan 8 KPHP dari Sulawesi Tengah. Masing-masing KPHP mengirimkan 4 orang perwakilan yang terdiri dari 1 orang pendamping dari KPHP dan 3 orang dari Kelompok Tani Hutan (KTH).

Beberapa materi yang disampaikan yaitu peran BP2TA dalam pengembangan teknologi agroforestry, dan IPTEK dasar hasil penelitian agroforestry.

Bagus juga menyampaikan sejumlah keberhasilan Litbang BP2TA tahun 2015 – 2018 terkait KPH seperti kegiatan peningkatan produktivitas lahan dengan pola agroforestri berbasis kayu energi di KPHP Batulanteh, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Kegiatan seperti ini penting dilakukan mengingat praktik agroforestri yaitu bertani di kawasan hutan yang selama ini dilakukan masyarakat khususnya di KPHP belum optimal. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan wawasan dan pengetahuan bagi KPHP dan Kelompok Tani Hutan (KTH) dalam pengembangan agroforestri.(Nando)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*