Breaking News

KLHK Belum Punya Data Laju Krisis Sosial Ekologis

KLHK Belum Punya Data Laju Krisis Sosial Ekologis.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) belum memiliki data yang valid mengenai laju krisis sosial ekologis yang terjadi di sejumlah daerah.

Padahal, meluasnya industri ekstraktif di pesisir selatan Jawa Timur saja, terus memicu laju krisis sosial-ekologis yang meningkat tajam dalam bentuk yang kompleks dan rumit.

Krisis sosial-ekologis diduga dipicu oleh pertambangan Tumpang Pitu-Banyuwangi. Sejak beroperasinya kegiatan industri pertambangan di bukit Tumpang Pitu, yang dilakukan oleh PT Bumi Suksesindo (PT BSI) dan PT Damai Suksesindo (PT DSI) sejak tahun 2012, beragam krisis sosial-ekologis dan sejumlah persoalan keselamatan ruang hidup rakyat dapat terlihat di 5 desa.

Desa adalah Sumberagung, Pesanggaran, Sumbermulyo, Kandangan, dan Sarongan. Salah satu bencana yang disebabkan adalah bencana lumpur yang terjadi pada Agustus 2016 silam di daerah Sumberagung, Bantul, Yogyakarta.

Direktur Kerusakan Lahan Akses Terbuka Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLAT-KLHK), Sulistyowati mengaku tidak mengetahui masalah krisis sosial-ekologis yang diduga dipicu oleh pertambangan Tumpang Pitu-Banyuwangi itu.

“Saya belum punya data terkait kasus itu, sekarang sedang berkordinasi dengan Dinas terkait untuk mendapatkan data,” ungkap Sulistyowati saat dikonfirmasi, Rabu (18/07/2018).

Ia menambahkan, perusahaan PT Bumi Suksesindo (PT BSI) dan PT Damai Suksesindo (PT DSI) dari sejak tahun 2012, tidak ikut dalam program peringkat kinerja Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL KLHK).

“Perusahaan dimaksud tidak ikut dalam program peringkat kinerja, yang merupakan program ditjen PPKL, sehingga kami tidak punya data terkait perusahaan tersebut,” pungkasnya.

Dampak secara ekonomi akibat kerusakan ini adalah pendapatan nelayan, petani dan pegiat pariwisata rakyat Desa Sumberagung dan sekitarnya mengalami penurunan secara drastis.

Selain telah merusak sebagian besar kawasan pertanian warga, bencana lumpur tersebut juga telah menimbulkan beberapa persoalan penting lainnya, yakni telah membuat kawasan pesisir pantai Pulau Merah dan sekitarnya berada dalam kondisi yang sangat mengenaskan.

Bahkan baru-baru ini, karena kerusakan tersebut ditemukan sejumlah fakta bahwa beberapa jenis kerang, ikan dan beberapa biota laut lainnya mulai menghilang dari pesisir Sumberagung dan sekitarnya.(Nando)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*