Breaking News

Kinerja Investasi BPJS Ketenagakerjaan Belum Maksimal

Kinerja Investasi BPJS Ketenagakerjaan Belum Maksimal.

Kinerja Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS Naker) untuk lima bulan pertama di 2018 dianggap belum maksimal.

Meski BPJS Naker melaporkan dan mengklaim telah menorehkan keberhasilan, namun hingga akhir tahun ini diprediksi masih bisa dimaksimalkan.

Koordinator Advokasi BPJS Wacth Timboel Siregar menuturkan, meski ditargetkan hasil investasi bisa mencapai Rp 32 triliun di tahun ini, namun dalam 5 bulan awal ini BPJS Ketenagakerjaan mendapatkan hasil Rp 13.24 triliun.

“Ini artinya target hasil investasi tidak tercapai sebesar Rp 90 milyar selama 5 bulan ini, karena seharusnya target sampai dengan mei 2018 adalah 13,3 Triliun,” ujarnya, dalam rilisnya, Senin (02/07/2018).

Dia mengtakan, dengan target Rp. 32 Triliun, seharusnya rata-rata sebulan harus tercapai Rp 2,66 Triliun. Sayangnya, dalam lima ini bulan ini rata-rata sebulan hanya tercapai Rp. 2.64 triliun (= 13.24 T : 5 bulan).

Bahkan, menurut Timboel, dengan adanya peningkatan 7 Days repo rate BI menjadi 5.25%, diharapkan agar Manajemen BPJS Ketenagakerjaan, khususnya Direktorat Pengembangan Investasi, dapat mengambil momentum tersebut dan melakukan perubahan kajian-kajian alokasi aset investasi yang dapat meningkatkan imbal hasil untuk diberikan kepada peserta.

“Sehingga momentum penurunan IHSG yang pada saat ini berada pada kisaran 5600-5800 tidak bisa dijadikan alasan untuk menurunkan imbal hasil kepada peserta,” ujar Timboel.

Dengan adanya nomenklatur yang berbunyi pengembangan investasi, kiranya manajemen BPJS Ketenagakerjaan benar-benar mengembangkan investasi dana peserta yang dapat langsung di nikmati oleh tenaga kerja.

“Jadi,  tidak hanya berkutat pada capital market, misalnya pengembangan rumah pekerja yang sampai sekarang belum optimal atau belum dirasakan oleh tenaga kerja,” ujarnya.

Dikatakan dia, masih ada 7 bulan ke depan untuk menciptakan gain investasi yang lebih baik lagi. Oleh karena itu, lanjutnya, diharapkan ada kerja cerdas dan cermat dari Direktorat Pengembangan Investasi sehingga harapan mendapat hasil investasi dua digit bisa tercapai.

BPJS Ketenagakerjaan baru merilis laporan tentang kinerja investasi selama 5 bulan pertama di tahun 2018 ini. Dengan  jumlah dana yang dikelola sebesar Rp. 327.66 Triliun hingga akhir Mei 2018 ini, Yield on Investment (YoI) yang diraih sebesar 9.86% dengan nilai nominal sebesar Rp. 13.24 Triliun.

Adapun perincian pengelolaan dana pada instrumen investasi saat ini adalah Surat Utang 61%, Saham 19%, Deposito 9%, Reksadana10% dan 1 % pada instrumen investasi langsung.

Hasil investasi ini didukung oleh jumlah tenaga kerja yang terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan sebanyak 47.49 juta orang dan dan tenaga kerja aktif sebanyak 27.69 juta pekerja.

Adapun hasil investasi selama tahun 2018 ditargetkan Rp. 32 triliun dengan dana kelolaan sebesar Rp. 367.88 Triliun.

Dengan hasil selama lima bulan ini, Manajemen mengklaim pencapaian kinerja tersebut sudah apik karena BPJS Ketenagakerjaan tepat membaca kondisi perekonomian dan kebutuhan liabilitas perusahaan.

Tentunya kinerja investasi BPJS Ketenagakerjaan sudah baik, namun diharapkan kinerja investasi harus terus digenjot lagi hingga diharapkan bisa mencapai hasil dua digit, sehingga imbal hasil JHT di tahun ini bisa mencapai minimal 10% seperti capaian di tahun tahun sebelumnya yaitu sebesar 10.55%.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*