Breaking News

Kian Terjepit, Pemasok Senjata Dari Filipina Ke Kelompok Teroris Santoso Di Poso Sudah Ditangkap

Pemasok senjata dari Filipina ke kelompok teroris Santoso di Poso sudah tertangkap.

Operasi Tinombala yang dilakukan aparat gabungan TNI-Polri saat ini sudah mengepung kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipimpin Abu Wardah alias Santoso di Poso, Sulawesi Tengah. Jumlah anggota dari kelompok tersebut diperkirakan berkisar 25-30 orang.

Posisi dari kelompok MIT ini sudah diketahui dan semakin terjepit setelah dilakukannya perburuan selama bertahun-tahun. Aparat gabungan berhasil menggempur kelompok tersebut hingga keluar dari tempat persembunyannya dan yakin dalam waktu dekat dapat menangkap kelompok tersebut.

“Santoso bersama kelompoknya yang diperkirakan berjumlah sekitar 25-30 orang sudah kita kepung. lokasinya masih kita rahasiakan, yang jelas bukan lagi di Gunung Biru. Dalam waktu dekat pasti akan kita tuntaskan,” kata Kepala Operasi Tinombala Komisaris Besar Polisi Leo Bona Lubis, Jumat (4/3/2016).

Selain itu, Leo mengatakan, aparat gabungan akan mengambil sikap tegas jika kelompok teroris Santoso tersebut memberikan perlawanan.

“Kalau tidak berhasil, mau tidak mau kita harus ambil sikap tegas harus tuntaskan agar situasi keamanan Poso kembali kondusif,” ujar Leo.

Aparat gabungan saat ini sudah melakukan pengetatan penjaggaan untuk mengantisipasi adanya ancaman dari kelompok Santoso yang ingin mencoba melarikan diri keluar dari kepungan aparat gabungan.

Selain itu, Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Rudy Sufahriadi mengatakan, kelompok Santoso diduga memiliki hubungan dengan pecahan dari kelompok Moro Islamist Liberation Front (MILF) yang berbasis di Moro, Filipina.

“Informasi yang kami peroleh dari salah satu teroris yang sudah tertangkap yakni Iron, bahwa senjata yang dipasok ke Santoso itu berasal dari kelompok Anshorut Khilafah, salah satu pecahan kelompok MILF di Filipina,” kata Brigjen Rudy Sufahriadi, Minggu (3/4/2016).

Santoso dan kelompoknya diduga mendapatkan senjata tersebut dari Abu Syarifah yang menjadi Amir Anshorut Khilafah Filipina. Senjata tersebut kemudian dibawa masuk oleh Abu Fatas, salah satu WNI yang menjadi anggota dari Abu Syarifah beserta denga logistik lainnya. Hal ini terungkap setelah tertangkapnya salah satu anak buah Santoso pada saat ingin melakukan transit menuju Filipina.

“Kemudian dibawa oleh kurir Abu Sahle dan 9 orang anggota Abu Syarifah. Dan di Indonesia dibawa oleh Iron selaku kurir Santoso,” ujarnya.

Atas informasi dan kerja sama dengan Densus 88 Antiteror Polri, beberapa anggota kelompok Anshorut Khilafah ditangkap kepolisian Filipina, pasca penangkapan Iron.

Sebelum tertangkap, Iron berhasil menyelundupkan pasokan senjata api kepada Santoso yang saat ini besembunyi di hutan Poso. Senjata api dan sejumlah logistik lainnya, yang pernah ia pasok di antaranya sepucuk M16 baby berikut 4 magasen, 200 butir peluru senjata M16, sepucuk senjata Barret 50 Sniper SN No 241586, 20 butir peluru M50, satu buah granat nanas, 1 buah roket mini Bukttap dengan kode Ava 0069-89, 16 butir amunisi yang ukurannya lebih kecil dari amunisi FN 45.

Sebelum membawa senjata tersebut ke Poso,Iron mengemas senjata api yang dibongkar terlebih dahulu dan kemudian dibungkus menggunakan karton dan dimasukkan ke dalam karung. Sementara amunisi dan bahan peledak dimasukkan kedalam tas ransel yang dicampur dengan pakaian.

Iron yang berhasil ditangkkap oleh Densus 88 Anti Teror divonis 6,5 tahun di Pengadilan Negeri Jakarta Timur.(Tornando)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*