Breaking News

Kepala Panti Malah Tunjukkan Lembar Sertifikat ISO, Menteri Sosial Diminta Turun Tangan Bongkar Kebobrokan di Panti Sosial

Kepala Panti Malah Nantangin DengnTunjukkan Lembar Sertifikat ISO, Menteri Sosial Diminta Turun Tangan Bongkar Kebobrokan di Panti Sosial.

Menteri Sosial (Mensos) Agus Gumiwang Kartasasmita diminta turun tangan untuk membersihkan berbagai dugaan pelanggaran dan kebobrokan di Pantai Sosial Karya Wanita Mulia Jaya.

Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum Edukasi dan Advokasi Masyarakat Indonesia (LBH Lekasia) Charles Hutahaean menyatakan, laporan dan dugaan yang sudah disampaikannya, malah dianggap sepele.

Charles yang mendampingi delapan perempuan belia yang menjadi korban kriminalisasi atas dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) oleh pengusaha bisnis hiburan malam di Kawasan Kota Wisata Cibubur itu meminta Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita sebaiknya melakukan sidak atau pun investigasi bersama wartawan untuk membuktikan bahwa perilaku dan berbagai penyimpangan di panti itu telah terjadi sejak lama.

“Sebaiknya Pak Menteri Sosial buka mata, buka telinga dan lakukan tindakan tegas. Soalnya, para petugas sosial di Panti, termasuk Kepala Pantinya, nampaknya bebal dan terus-terusan berusaha menutup-nutupi berbagai kebobrokan dan pelanggaran hukum serta Hak Asasi Manusia di dalam panti,” tutur Charles Hutahaean, di Jakarta, Senin (08/10/2018).

Dia mengatakan, pihaknya akan terus melakukan tindakan meminta keadilan agar para penghuni panti yang dikriminalisasi itu dibebaskan. Serta meminta pemerintah menindak tegas para pekerja di level bawah yang sudah semakin kurang ajar.

“Sudah tak ada takut-takutnya para oknum peksos di tingkat bawah. Demikian juga para oknum penegak hukum di tingkat bawah pun melakukan hal yang sama. Jeritan masyarakat bawah malah selalu dianggap angin lalu. Keadilan dan hukum jangan tajam ke bawah terus,” pintanya.

Charles menyatakan, pelayanan pekerja sosial di panti sosial karya wanita dinilai bobrok. Selain itu, berbagai jenis kejahatan dianggap terus langgeng terjadi di dalam panti yang dikenal tertutup ke publik itu.

Dia menyampaikan, beberapa temuannya, perilaku dan perbuatan aparat penegak hukum yang berkomplot dengan para petugas panti menjadi kejahatan yang harus dibongkar tuntas.

Charles menerangkan, perempuan-perempuan yang dimasukkan ke dalam panti sering diintimidasi, dipaksa, dipukuli dan bahkan dihamili dan di-duitin.

“Harus dibongkar tuntas itu. Banyak kejahatan dan komplotan penjahat berkedok pejabat dan petugas bermain dan mengendalikan panti sosial begitu. Bayangkan saja, kami mendapat informasi, ada dua orang perempuan yang ditangkap dan dimasukkan dengan alasan tak jelas ke dalam panti, lalu terungkap dihamili, entah siapa yang menghamili,” tutur Charles Hutahaean.

Charles menurutkan, delapan orang perempuan belia, yang rata-rata masih di bawah umur jadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) malah ditahan di Panti Sosial Karya Wanita Mulia Jaya, Dinas Sosial, Pasar Rebo, tanpa kejelasan status.

Awalnya, kedelapan perempuan yang bekerja sebagai therapist di Yuk’s Massage And Longue, Kota Wisata Cibubur, Kabupaten Bogor itu diduga dikriminalisasi oleh oknum kepolisian.

Menurut dia, tadinya, anggota Kepolisian dari Kepolisian Resort (Polres) Cibinong, Bogor, melakukan razia di Ruko Sentra Blok B14, Jalan Boulevard, Kota Wisata, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Target mereka hendak menertibkan tempat-tempat hiburan siang malam di wilayah itu.

“Kedelapan orang tersebut mejadi korban dari anggota polisi yang diduga berkomplot dengan pejabat sipil setempat bersama pengusaha dan pengacara pemilik hiburan malam itu. Tadinya, mau minta jatah kepada pengusaha tempat hiburan malam itu, eh malah para perempuan itu yang dikorbankan,” beber Charles.

Pada selasa malam, 24 Juli 2018, oknum polisi dari Polres Cibinong  Bogor melakukan Razia disalah satu hiburan malam di Ruko Sentra Blok B14, Jalan Boulevard, Kota Wisata, Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor.

Dia juga mengatakan, kompleks-kompleks perumahan mewah dan tertutup seperti Kota Wisata Cibubur itu harus dibersihkan dari praktek-praktek bisnis haram dan bisnis esek-esek. Soalnya, lanjut dia, selain Yuk’s Massage And Longue,  dia sendiri menemukan di wilayah itu puluhan tempat hiburan malam dan dugaan bisnis esek-esek bertebaran.

“Tidak tahu kita apakah itu diizinkan di kompleks perumahan begitu? Siapa yang memberi izinnya? Apa pengelola kawasan tahu dan memberi izin? Apa aparat dan pejabat yang membiarkan itu menjamur di sana? Semua itu harus dibersihkan dan dibongkar,” tuturnya.

Kepala Panti Sosial Karya Wanita Mulia Jaya, Dinas Sosial, Pasar Rebo, Sarino menyampaikan, pihaknya menampik adanya pelayanan buruk di tempat penampungan wanita tuna susila yang dikepalainya.

Bukti bahwa kinerja Panti Sosial Karya Wanita Mulia Jaya sangat baik, lanjut Sarino, adalah dengan adanya selembar sertifikat ISO 9001:2015 yang diberikan ke mereka.

“Pelayanan rehabilitasi sosial terhadap Wanita Tuna Susila dan KPO mendapat sertifikat berstandar internasional KZA (konsultan Karya Zata Amani-Red) beberapa hari yang lalu,” tutur Sarino, kepada wartawan, Senin (08/10/2018).

Meski begitu, Sarino tetap menutupi desakan agar dilakukan pemeriksaan terhadap berbagai laporan pelanggaran yang terjadi di Panti Sosial Karya Wanita Mulia Jaya itu.

“Sertifikat ISO KZA itu adalah bukti pelayanan di panti kami tidak buruk. Ada sertifikatnya standar internasional,” ujarnya.

Menurut Sarino, pihak luar tidak perlu mengawasi kinerja di Panti. Sarino mengatakan, pihaknya sendiri akan menindak oknum petugas di tempatnya jika memang ada pelanggaran.

“Soal ada peksos (Pekerja Sosial) di panti yang melakukan tindakan melanggar hukum, seperti menghamili, silakan sebutkan saja namanya ke kami. Saya dan Direktur Panti Kementerian Sosial, Pak Sony tetap berkomitmen untuk melakukan tindakan tegas,” tutur Sarino lagi.(JR/Nando)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*