Breaking News

Kemiskinan Itu Memang Nyata, Wakil Rakyat Dan Pemerintah Diketuk Pintu Hatinya Untuk Menolong Warga Miskin

Kemiskinan Itu Memang Nyata, Wakil Rakyat Dan Pemerintah Diketuk Pintu Hatinya Untuk Menolong Warga Miskin.

Pemerintah dan Wakil Rakyat di DPRD dan DPR RI diminta untuk tidak menutup mata atas kemiskinan yang terjadi di masyarakat.

 

Ketimpangan yang nyata pun masih terjadi hingga saat ini, tanpa upaya serius dari para pemangku kepentingan untuk menanganinya.

 

Ketua Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia (SPRI) Bandar Lampung, Badri mengetuk dan meminta para pemangku kepentingan, terutama pemerintah dan wakil rakyat untuk menolong warga dan anak yang sangat miskin.

 

Badri mengungkapkan, nilai kemanusiaan kian redup, dan kepedulian para pemangku kepentingan kian dingin kepada warganya. Seperti yang terjadi kepada keluarga bocah berusia 11 tahun bernama Indra Lesmana yang merupakan anak berkebutuhan khusus, karena secara fisik buta dan tuli.

 

Dalam kesempatan mendatangi dan mencoba membantu keluarga yang sangat miskin yang beralamat di Desa Jatimulya, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan itu, Badri dan teman-temannya dari Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia (SPRI) Bandar Lampung terhenyak dan trenyuh menemukan dan menyaksikan salah satu kemiskinan yang nyata di Provinsi yang dikenal memiliki lahan subur dan kaya raya itu.

 

“Hati siapa yang tidak akan sedih dan kasihan jika melihat secara langsung kehidupan seorang bocah berusia 11 tahun, sejak lahir mengalami kebutaan dan tuli. Bocah berkebutuhan khusus ini, sudah selayaknya tumbuh dan hidup dalam perawatan khusus.  Karena lahir dari keluarga miskin, bocah tersebut tidak dapat tumbuh layak,” tutur Badri, Sabtu (25/11/2017).

 

Badri menerangkan, bocah bernama Indra Lesmana itu sejak lahir sudah mengalami kebutaan dan tuli. Saat berusia 2 tahun ibunya meninggal dunia. Sejak lahir, dia dibesarkan oleh Ayah serta Neneknya yang hidup miskin.

 

“Ayahnya tidak berkerja karena sakit. Neneknya sudah berusiah sepuh. Tidak memiliki tanah untuk bertani. Hidup hanya mengadalkan jatah uang pensiun sebesar lima ratus ribu rupiah,” ungkap Badri.

 

Karena hidup dalam keadaan miskin, Indra tidak mampu bersekolah di Sekolah berkebutuhan khusus. Indra tidak bisa tumbuh dengan baik.

 

“Untuk kebutuhan makan saja, keluarga Indra serba kekurangan apalagi untuk bisa sekolah. Disaat musim panen, tetangganya yang merasa kasihan suka memberikan hasil kebun,” tuturnya.

 

Keluarga Indra tercatat sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH), namun sangat disayangkan komponen bantuan yang diterima tidak sesuai kebutuhan. Bantuan PKH yang diterima digunakan untuk biaya sekolah  kakak tirinya.

 

Indra sebagai anak berkebutuhan khsusus tidak tercatat dalam komponen bantuan PKH yang harusnya diterima. Hal ini disebabkan Indra tidak termasuk dalam kartu keluarga neneknya.

 

Karena terbelit oleh kemiskinan, Nenek dan Ayahnya pernah berusaha mengajukan agar Indra diasuh dipanti asuhan.

 

“Tetapi ditolak karena Indra masih memiliki orang tua,” ujar Badri.

 

Seperti diketahui, sampai saat ini Dinas Sosial Provinsi Lampung tidak memiliki program untuk anak-anak berkebutuhan khusus yang lahir dalam keluarga miskin.

 

Sejak tahun 2009, Samsudin yakni ayah dari Indra, tidak bekerja dan mengalami sakit stroke, diabetes dan asam urat. Samsudin hanya mampu berobat di Puskesmas.

 

“Oleh karena sakit, Samsudin tidak dapat bekerja mencari uang. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga Indra hanya mengadalkan jatah uang pensiun neneknya sebersar lima ratus ribu rupiah,” tuturnya.

 

Hidup dengan uang sebesar lima ratus ribu rupiah untuk tiga orang, merupakan sesuatu yang sangat memprihatinkan. Apalagi diketahui, setiap hari Indra biasa makan sepuluh kali.

 

“Jika lapar Indra sering ngamuk dan marah-marah. Untuk mensiasati agar kebutuhan makan sehari-hari cukup,  terkadang Nenek dan Ayahnya terpaksa harus berpuasa menahan lapar,” tutur Badri.

 

Indra bocah berkebutuhan khusus yang hidup dengan Ayah dan Neneknya merupakan potret kemiskinan di Lampung. Keluarga Indra sudah seharusnya mendapat perhatian dari Gubernur, Bupati, Anggota DPRD dan seluruh Elite di Lampung.

 

“Sebagaimana diperintahkan oleh Undang-undang Dasar 1945 bahwa fakir miskin dan anak terlantar adalah tanggung jawab negara,” katanya.

 

Badri pun meminta Gubernur, DPRD dan Bupati Lampung Selatan bertanggung jawab atas kemiskinan yang dialami oleh keluarga Indra.

 

“Gubernur, DPRD, Bupati Lampung Selatan harus segera bertindak kongret menyelamatkan Keluarga Indra dari derita kemiskinan,” pintanya.

 

Selain itu, Badri mendesak Dinas Sosial Lampung segera menyediakan program bagi anak-anak berkebutuhan khusus seperti Indra.

 

“Kami juga berseru kepada seluruh warga lampung untuk bersama-sama memberian solidaritas, bantuan kemanusiaan kepada keluarga Indra.

 

Kami juga berseru kepada seluruh warga lampung untuk bersama-sama bersolidaritas memberikan tekanan kepada Gubernur, DPRD, Bupati Lampung Selatan dan seluruh Elite Politik di lampung untuk segera menyelesaikan kemiskinan di Lampung,” ujarnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*