Breaking News

Tidak ‘Gurih’ (lagi), Kembali ke Tanah Air, 4 WNI Korban Penculikan Abu Sayyaf Disambut Dingin

4 WNI bebas dari penyanderaan Abu Sayyaf, tidak gurih.

Berbeda dengan proses bebasnya 10 Warga Negara Indonesia (WNI) terdahulu, yang disandera oleh Kelompok Separatis Islam Abu Sayyaf di Filipina Selatan, kepulangan 4 WNI sepi dari hiruk pikuk.

Tidak ada pesawat khusus milik pesohor Indonesia yang membawa mereka, dan tidak terlihat adanya klaim mengklaim kesuksesan penyelamatan.

Jika pada pemulangan 10 WNI yang pertama disandera, sangat heboh dan banyak pihak meng-klaim sebagai hasil operasi dan kerja-kerja mereka, kini 4 WNI lainnya hanya disambut oleh Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi bersama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Bahkan, sebelumnya, terjadi perang klaim oleh sejumlah pihak dengan Pemerintah RI yang di-publish besar-besaran oleh media massa nasional Indonesia.

Kedatangan 4 WNI di Tanah Air, setelah dibebaskan karena telah membayar uang tebusan sebesar 50 juta Peso ke pihak penyandera yakni Abu Sayyaf, diterima di Bandara Halim Perdanakusuma, Jumat (13/05/2016) pada pukul 10.25 WIB.

Kedatangan 4 WNI yang merupakan Anak Buah Kapal (ABK) Kapal Tunda TB Henry itu disambut dingin, tidak se-gurih penyambutan 10 WNI terdahulu.

“Kami mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah memungkinkan terjadinya pembebasan ini,” ujar Menteri Luar Negeri Retno ketika menunggu kedatangan para sandera.

Keempatnya pun segera di bawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) untuk mengecek kondisi kesehatan mereka.

“Keempat saudara kita itu akan menjalani cek kesehatan di RSPAD Gatot Subroto, untuk nantinya diserahkan kepada keluarga masing-masing,” ujarnya.

4 sandera ini dibebaskan pada Rabu (11/05) malam setelah hampir sebulan menjadi tawanan oleh Kelompok Separatis Abu Sayyaf di Selatan Filipina.

Sebelumnya, 10 ABK asal Indonesia juga disandera oleh kelompok yang sama dan sudah dibebaskan. Dalam pembebasan para sandera tersebut, pemerintah Indonesia menegaskan upaya pembebasan dilakukan melalui kerja sama dengan Pemerintah Filipina.

Kelompok Separatis Abu Sayyaf yang berbasis di Selatan Filipina itu kerap melakukan penculikan terhadap warga asing yang kemudian meminta uang tebusan untuk membebaskan para sanderanya.

Kelopok tersebut tidak segan untuk memenggal tawanannya jika permintaan uang tebusan tidak diberikan. Seperti WN Malasaia dan WN Kanada yang sudah menjadi korban akibat tidak di tebus.(Tornando)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*