Breaking News

Kehidupan Perempuan Nelayan Indonesia Tragis, Kapan Negara Serius Berikan Perlindungan?

Kehidupan Perempuan Nelayan Indonesia Tragis, Kapan Negara Serius Berikan Perlindungan?

Pemerintahan Jokowi kembali didesak untuk segera memberikan perlindungan yang memadai kepada para perempuan Nelayan Indonesia.

Sebab, selama ini, kehidupan perempuan nelayan secara khusus, masih sangat memprihatikan, bahkan tragis.

Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Susan Herawati mengungkapkan, sampai saat ini, keberadaan perempuan nelayan belum mendapatkan perlindungan dan pemberdayaan dari negara.

Padahal, tercatat 39 juta perempuan nelayan yang terlibat dalam aktivitas perikanan di Republik ini.

“Mereka adalah pahlawan protein bangsa yang berjasa menghadirkan ikan ke meja makan penduduk Indonesia,” tutur Susan, di Jakarta, Senin (28/08/2017).

Susan menyampaikan, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) dan Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) menemukan sejumlah fakta menarik, yang menunjukkan betapa tragisnya kehidupan nelayan perempuan Indonesia, antara lain’ pertama, setelah ayahnya meninggal, Nurlina (29 Tahun), seorang perempuan nelayan asal Pulau Sabangko, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, sejak kecil sudah melaut untuk mencari nafkah.

Jika ada bantuan mesin dan kapal, ia tidak pernah mendapat hanya karena ia perempuan. “Padahal ia sudah melaut lebih dari 20 tahun. Selain digunakan untuk melaut, perahu tersebut digunakan untuk mengantar sekolah temannya ke Pulau Salemo serta digunakan untuk mengantar perempuan yang sakit ke puskesmas pembantu di Pulau seberang,” ungkap Susan.

Kedua, Iswatun Khasanah (27 Tahun), seorang perempuan nelayan di Desa Pangkah Wetan, Kecamatan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, telah melaut sejak 17 tahun lalu.

“Setelah sang ayah tak kuat lagi menangkap ikan di perairan paling utara di perairan Jawa, ia memutuskan menjadi tulang punggung keluarganya. Tak jarang ia harus menghadapi gelombang tinggi sendirian,” lanjutnya.

Ketiga, puluhan perempuan nelayan di Desa Tambak Polo Kabupaten Demak, Jawa Tengah, pergi melaut untuk menangkap ikan. Aktivitas ini rutin dilakukan setiap hari. Perempuan nelayan di desa ini sangat berjasa bagi kedaulatan pangan keluarga mereka sehingga tidak tergantung kepada pihak di luar mereka.

“Fakta-fakta tersebut di atas menunjukkan bahwa perempuan nelayan memiliki kontribusi besar bagi perekonomian keluarga dan masyarakat sampai dengan seratus persen,” ujar Susan.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) Masnuah mendesak pemerintah untuk segera mengakui dan memberikan perlindungan, serta menyediakan skema pemberdayaan bagi perempuan nelayan di seluruh Indonesia.

“Perempuan nelayan mesti diakui dengan diberikan kartu nelayan,” katanya.

Ia mendesak pemerintah Indonesia untuk memberikan pengakuan dalam bentuk pemberian kartu nelayan beserta seluruh program bantuannya.

“Sampai hari ini kami baru menemukan 10 perempuan nelayan yang baru diberikan kartu nelayan. Angka ini masih jauh dari harapan,” ujar Masnuah.

Berdasarkan temuannya, Masnuah menyatakan, perempuan nelayan yang telah memiliki kartu nelayan pun masih belum mendapatkan fasilitas bantuan pemerintah.

“Kami adalah pahlawan kedaulatan pangan. Sudah saatnya kami diakui,” pungkasnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*