Breaking News

Kawal Kebhinnekaan dan Pancasila, Mahasiswa Ajak Elemen Bangsa Tidak Egois

Kawal Kebhinnekaan dan Pancasila, Mahasiswa Ajak Elemen Bangsa Tidak Egois.

Mahasiswa sepakat bahwa Indonesia saat ini sedang mengalami ancaman terhadap kebhinnekaan. Karena itu, seluruh elemen masyarakat yang berbeda-beda di Indonesia diajak untuk berhenti memaksakan sikap egois sektoral, dengan tetap berpegang teguh pada konstitusi dan Pancasila sebagai landasan berbangsa dan bernegara Indonesia.

 

Direktur Eksekutif Badan Kordinasi Nasional Lembaga Konsultasi bantua Hukum Mahasiswa Islam Indonesia (Bakornas LKBHMI) Tengku Mahdar Ardian menyampaikan, Pancasila sudah menjadi komitmen sebagai landasan Bangsa Indonesia, yang dijadikan falsafah dan pandangan hidup dalam berbangsa dan bernegara di Indonesia.

 

“Oleh karena itu,Pancasila dengan Kebhinnekaan harus menjadi landasan pijak dalam kehidupan bernegara tanpa tendensi ataupun pemahaman dan pemikiran sempit yang mengarahkan kita pada ego suku dan agama yang berimbas pada disintegrasi bangsa,” tutur Tengku Mahdar Ardian, saat menjadi pembicra dalam Diskusi Publik yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Jakarta (BEM FH UIJ), di Aula Lantai 3, Universitas Islam Jakarta (UIJ), Kamis (30/11/2017).

 

Selain itu, Tengku Mahdar mengingatkan, dalam operasionalnya, kehidupan berbangsa dan bernegara, Indonesia juga memiliki landasan hukum sebagai panglima dalam setiap gerak langkah bernegara dan bermasyarakat.

 

“Dan negara merupakan penjamin hak agar masyarakat merasa terlindungi untuk melaksanakan haknya dalam bingkai kemajemukan atau pluralisme. Itu juga diletakkan sebagai dasar oleh para founding fathers  kita di dalam Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945, di mana mereka sadar bahwasanya pluralisme telah ada dan menjadi bagian dari bangsa ini. Dengan adanya pluralitas itulah menciptakan kesadaran bangsa ini untuk bersatu,” terang dia.

 

Ketua Bidang Aksi Pelayanan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Jakarta (GMKI Jakarta) Donni Manurung menyampaikan, ancaman terhadap pluralisme di Indonesia bukan isapan jempol. Karena itu, sebagai wujud komitmen generasi muda, terutama mahasiswa dan pemuda, maka memperteguh ikatan persaudaraan dan kebangsaan berlandaskan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 harus terus dijaga dan digelorakan di masyarakat.

 

“Bhinneka Tunggal Ika kita perlahan mengalami keterkikisan. Mahasiswa sebagai kaum terdidik, sebagai kaum intelektual, harus membuktikan dirinya menjaga pluralisme dan keteguhannya terhadap Pancasila dan UUD 1945. Yang lebih nyata yang bisa dilakukan mahasiswa yaknui dengan fokus belajar dan kuliah, serta memainkan perannya nantinya di masyarakat yang sesuai Pancasila dan UUD 1945. Pera inilah menjadi pembeda mahasiswa dengan unsur masyarakat yang lain, mempelajari mana yang benar dan salah, memahami yang baik dan buruk, mahasiswa harus meningkatkan kepekaan sosial,” tutur Donni Manurung.

 

Selain fokus pada kuliahnya, lanjut dia, mahasiswa harus melaksanakan pengabdian pada masyarakat “Seperti menggalang bantuan bagi yang memerlukan, serta meningkatkan solidaritas. Karena itulah yang selalu dijunjung tinggi mahasiswa ketika berada di bangku universitas, sebagaimana komitmen Tridarma Perguruan Tinggi, yakni Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian,” ujar Donni.

 

Pengurus Dewan Pimpinan Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) Sedek Rahman Bahta menyampaikan, Kebhinnekaan adalah hal yang mutlak atau kodrati bagi manusia. Demikian pula dengan Indonesia, kebhinnekaan juga tidak akan mungkin terlepas dari bangsa Indonesia.

 

“Kebhinnekaan adalah wujud mutlak bangsa Indonesia itu sendiri, yang memang sudah pluralisme atau majemuk dengan adanya perbedaan suku, ras, budaya, agama, warna kulit dan bahasa. Indonesia yang didasarkan oleh ideologi Pancasila dengan nilai persatuannya sangat menjujung tinggi kebhinnekaannya, yakni berbeda-beda tetapi tetap satu,” tutur Sedek Rahman.

 

Bicara peran mahasiswa dalam menjaga kebhinnekaan Indonesia, lanjut dia, bisa diwujudkan dalam bentuk social control,  kebhinekaan itu sendiri, berbeda-beda tetap satu, adapun peran mahasiswa dan pemuda sebagai sosial of control, agent of change, dan iron stock untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.

 

“Itu untuk menjaga keutuhan NKRI dalam kehidupan berbangsa dan bernegara agar tidak terjadi perpecabelahan. Karena itulah dalam kehidupan sosial kita tidak boleh kaku. Harus dinamis di dalam kehidupan bersosial, karena yang kita jujung adalah nilai kebhinnekaan itu sendiri berbeda-beda dan tetap satu,” ujarnya.

 

Ketua Generasi Muda Nusantara Anti Narkotika (Genetika) DKI Jakarta Kurniadi Nur, menyampaikan bahwa kebhinnekaan itu harus menimbulkan kenyamanan dan kecocokan antara unsur yang satu dengan lainnya yang berbeda-beda.

 

“Kebhinnekaan itu harus nyaman dan saling cocok satu sama lainnya. Contohnya, ketika seorang wanita dan pria memilik perasaan yang sama, maka itulah yang dikatakan Bhinneka Tunggal Ika, perbedaan yang tetap satu,” ujar Kurniadi.

 

Dia menekankan, berbicara mengenai Kebhinnekaan adalah berbicara tentang persamaa rasa. “Adapun masalah lain yang  membombardir kehidupan bermasyarakat ayau adanya problematika yang kerap muncul ke permukaan, seringkali mengancam kebhinnekaan bangsa,” ujarnya.

 

Menurut dia, isu agama, ras, dan suku sering dijadikan sumber konflik oleh oknum-oknum tertentu. “Untuk itulah kebhinnekaan menjadi spirit penyatu antara masyarakat yang satu dan masyarakat lainya. Karena kejahatan yang paling buruk bahkan bisa dikatakan sebuah penghianatan adalah ketika Bhinneka Tunggal Ika digunakan hanya untuk kepentingan politik. Intinya adalah berbicara Bhinneka Tunggal Ika berbicara soal rasa,” ujarnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*