Breaking News

Kaum Pribumi Indonesia Serukan Lawan Politik Pecah Belah

Kaum Pribumi Indonesia Serukan Lawan Politik Pecah Belah.

Kaum pribumi Indonesia yang tergabung dalam Gerakan Pribumi Indonesia (Geprindo) menyerukan perlawanan terhadap politik pecah belah yang sedang dimainkan oleh sejumlah pemilik kepentingan yang tidak ingin adanya kebangkitan pribumi di Nusantara.

 

Presiden Gerakan Pribumi Indonesia (Geprindo) Bastian P Simanjuntak menyampaikan, saat ini ada upaya yang serius untuk terus melakukan pecah belah terhadap masyarakat Indonesia. Hal itu terlihat dari adanya upaya merenggangkan masyarakat yang berbeda agama dan pribumi dengan masyarakat Indonesia lainnya.

 

“Kami menyerukan kepada rakyat Indonesia untuk tidak mudah dipecah belah oleh pihak-pihak yang tidak ingin kita bersatu. Kebangkitan kelompok Islam dan kelompok nasionalis pribumi merupakan momentum harus kita jaga bersama jangan sampai momentum yang sudah baik ini dihancurkan oleh pihak-pihak yang ingin menguasai Indonesia,” tutur Bastian, dalam siaran persnya, Selasa (07/11/2017).

 

Dia mengatakan, saat ini upaya memecah umat Islam  Indonesia yang dibenturkan dengan Islam, pribumi dipecah-belah lagi dan juga dibenturkan dengan sesama pribumi terus terjadi.

 

“Politik pecah belah akan selalu digunakan oleh bangsa lain agar kita terbagi menjadi kelompok-kelompok kecil sehingga kita lemah dan mudah dikalahkan,” ujarnya.

 

Bastian pun mengingatkan, adanya kekuatan asing dan kekuatan aseng yang bisa masuk melalui kelompok mana saja, baik itu organisasi kemasyarakatan maupun organisasi keagamaan.

 

“Mereka akan terus menerus menebarkan permusuhan antar sesama anak bangsa, provokasi, isu, sehingga pada akhirnya kita akan saling curiga satu sama lain. Jika sudah demikian bangsa kita akan sulit untuk bersatu.  Kita harus waspada akan hal itu agar kita tidak dijadikan alat pecah belah maupun adu domba tanpa kita sadari,” tutur dia.

 

Untuk membedakan yang mana provokator yang mana bukan, lanjut dia, Indonesia bisa menganalisa dampaknya. Apakah ajakan itu untuk mempersatukan atau malah untuk mencerai-beraikan?

 

Bastian mengatakan, Indonesia harus belajar dari sikap para ulama besar, dalam peristiwa aksi 212, dimana para ulama memberikan contoh yang baik yaitu sikap teguh untuk tidak terprovokasi meskipun para pendemo ditembaki gas air mata oleh aparat kepolisian.

 

“Itu tandanya para ulama  mengerti akan keberadaan pihak-pihak  yang menginginkan pertikaian antar sesama anak bangsa, para ulama  tidak ingin bangsa Indonesia  terpecah belah dan masuk dalam perangkap adu domba,” katanya.

 

Menurut dia, masyarakat juga bisa melihat contoh perangkap adu domba dan pecah-belah yang pernah terjadi pada peristiwa 98 dimana masyarakat diajak oleh sekelompok orang yang tidak dikenal untuk melakukan penjarahan bahkan dimunculkan sikap saling benci antara mahasiswa dengan PAM Swakarsa, yang pada akhirnya terjadi kerusuhan besar yang mengakibatkan Undang-Undang Dasar 1945 diamandemen, ditambah lepasnya Timor Timur dari pangkuan Ibu Pertiwi.

 

Oleh karena itu, lanjut dia, Bangsa Indonesia harus bersatu dan jangan terprovokasi, dan jangan sampai ada tindakan saling membenci antar sesama kelompok Islam.

 

“Jangan hanya karena satu orang pada akhirnya kita bertikai antar sesama anak bangsa. Mari kita kuatkan kembali tekad kita dan mengenali musuh kita yang sebenarnya. Siapa yang berkepentingan di lingkaran elit sana untuk terus menciptakan polemik antar masyarakat,” ujarnya.

 

Yang pasti, lanjut Bastian, koruptor masih tetap merajalela dan ada, antek-antek asing aseng yang terus berupaya memperlemah negara Indonesia, dan penyusupan Neo-imperialisme dan neokolonialisme asing masih terus berlangsung.

 

“Hegemoni asing dan aseng tengah berlangsung, dan mereka tidak ingin kelompok Islam dan kelompok Nasionalis Pribumi bersatu, karena jikalau kita bersatu maka “moncong senjata”  kita akan mengarah mereka yaitu para penjajah gaya baru dan para kompradornya,” pungkasnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*