Breaking News

Kaum Muda Harus Rebut Posisi di Kabinet

Diskusi Publik bertajuk “Kebinet Muda 2019; Peluang, Tantangan atau Fiksi?” yang digelar Digital Culture Syndicate, di Bakoel Koffie Cikini, Jakarta (9/5).

Indonesia membutuhkan kaum muda untuk mengisi jajaran kabinet mendatang. Bonus demografi dan revolusi industri 4.0 disebut sebagai eranya kaum muda untuk mengaktualisasikan dan mengabdi kepada bangsa dan masyarakatnya.

Co Founder Digital Culture Syndicate Mickael B Hoelman mengatakan, di 2019 mendatang, komposisi kabinet yang diisi oleh kaum muda sangat diperlukan untuk optimalisasi pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

Kabinet dengan kaum-kaum muda yang berbakat dan loyal, lanjut dia, diprediksi akan bisa mengolah bonus demografi menjadi aset dan pertumbuhan ekonomi inklusif, dengan mengangkat kaum muda laki-laki dan perempuan sebagai penggerak utama.

Hal itu disampaikan Mickael dalam diskusi publik bertajuk “Kebinet Muda 2019; Peluang, Tantangan atau Fiksi?” yang digelar Digital Culture Syndicate, di Bakoel Koffie Cikini, Jakarta (9/5).

“Revolusi Industri 4.0 dan bonus demografi pada 2019 akan membutuhkan 2-3 juta angkatan kerja terampil tiap tahun. Dan itu, kaum mudalah sebagai motor pembangunan Indonesia paska infrastukrtur. Kabinet mendatang harus diisi oleh kaum-kaum muda,” tutur Mickael, dalam rilisnya.

Menurut dia, Presiden Jokowi harus konsisten dalam optimalisasi pembangunan SDM ke depan. Jokowi, kata Mickael, harus memastikan pendidikan yang siap mengantisipasi revolusi Industri 4.0.

“Juga harus memastikan manfaat yang bisa dipetik oleh Indonesia, di mana angkatan kerja mengisi semua jenis dan lapangan kerja yang tersedia, memastikan angkatan kerja yang low skill menjadi middle skill dan high skill,” ujarnya.

Langkah transformatif tersebut, menurut pria yang akrab disapa Choki, bukan tanpa pertimbangan. Karena di sanalah jalan dan peluang utama bagi generasi milenial atau generasi muda Indonesia.

“Bonus demografi Indonesia diolah, ditumbuhkembagkan dari angka angka statistik potensial menjadi lapangan kerja, profesi, dan warga negara berdaya beli tinggi,” ujarnya.

Mickael mengatakan, saat ini saja ada sejumlah nama kaum muda yang layak menduduki kabinet mendatang. Dia menyebut figur muda seperti Arie Sujito, Najwa Shihab, Yoyok Riyo Sudibyo dan Nadiem Makariem, sebagai orang-orang yang layak dipertimbangkan masuk kabinet.

“Ari Sujito misalnya mewakili figur cendekia. Dia aktivis yang memiliki kompetensi dan rekam jejak kecakapan politik yang mumpuni. Dia adalah mantan tokoh utama pergerakan Dewan Mahasiswa 98. Ia juga pemrakarsa lahirnya Undang Undang Desa,” kata Mickael.

Di tempat yang sama, politisi muda Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Tsamara Amany mengatakan, partai politik juga harus membuka peluang seluas-luasnya bagi kaum muda untuk masuk ke dalam sektor politik dan pemerintahan.

“Partai politik harus mampu memfasilitasi generasi muda yang mumpuni untuk tampil. Generasi muda jangan hanya sebagai objek politik saja,” ujar Tsamara.

Kaum muda yang bisa mengisi pemerintahan, termasuk kabinet, lanjut dia, tentu harus memiliki kompetensi dan kemampuan menjalankan tugas dan kewajibannya secara profesional.

“Jadi, harus berdasar prinsip meritokrasi. Bukan semata politik dinasti,” ujar Tsamara.

Presiden yang terpilih nanti, kata dia, harus memastikan bahwa kalangan muda yang profesional itu diberi ruang mengabdi di kabinet.

“Ini adalah jembatan generasi muda masuk dalam politik dan pemerintahan. Tinggal bagaimana kita merespon peluang. Jangan sampai di era revolusi teknologi, masih digunakan cara lama berpolitik dengan membiarkan dinasti-dinasti politik berkuasa melebihi kebutuhan faktual,” ujarnya.

Pemimpin  ke depan, lanjutnya, mesti memahami realitas zaman yang berubah cepat seiring revolusi teknologi informatika. Dia setuju, sektor ini harus dikuasai dan dikendalikan secara efektif.

“Indonesia ke depan harus berbasis teknologi. Salah satu bentuk kesadaran dan kepeduliannya adalah membuat roadmap Making Indonesia 4.0.,” kataTsamara.

Jangan lupa, dia pun menambahkan, pembangunan ekonomi masyarakat Indonesia juga bisa berbasis digital. Bagi Tsamara, salah satu roda penggerak ekonomi Indonesia ke depan bertumpu pada revolusi industri ini.

“Dan ini hanya bisa digerakkan oleh anak-anak muda dengan ide-ide besar seperti Go-Jek dan Bukalapak, misalnya,” ucapnya.

Sementara itu, Sosiolog Universitas Gajah Mada (UGM) Arie Sujito menilai, kecepatan dan kreatif merupakan nilai lebih generasi milenial saat ini.

“Mereka butuh arena politik. Sistem rekrutmen dan de-birokratisasi dibutuhkan agar anak-anak muda yang masuk dalam pemerintahan tidak mengalami penuaan dini. Agar tidak terjebak pada pola pikir lama yang lamban dan gagap inovasi,” tutur Arie.

Arie mengingatkan, jika masuk di kabinet, selain cepat dan kreatif, kaum muda juga harus progresif. “Muda adalah konstruksi ide-ide baru. Harus membongkar, misalnya, bobroknya birokrasi yang masih kental kungkungan politik lama yang berbelit dan tidak efektif. Generasi muda harus mampu mendetoksifikasi birokrasi yang masih sarat dengan kultur orde baru,” ujarnya.

Menurut Arie, kaum muda harus memastikan bahwa masuk di kabinet itu tidak sekedar fiksi. “Terutama partai politik yang ada saat ini, harus mau dan mampu mereformasi dirinya,” pungkasnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*