Breaking News

Kasus Penyekapan Anak Selama 10 Tahun Dari Hotel ke Hotel, LBH Serindo Ingatkan Polisi Tidak Asal-Asalan

Kasus Penyekapan Anak Selama 10 Tahun Dari Hotel ke Hotel, LBH Serindo Ingatkan Polisi Tidak Asal-Asalan.

Aparat penyidik Kepolisian diingatkan untuk tidak sembrono atau asal-asalan dalam menetapkan seseorang sebagai tersangka.

Kinerja aparat kepolisian dalam mengungkap dan mengusut sebuah perkara sedang disoroti oleh masyarakat, karena itu, modus mentersangkakan seseorang yang tidak terlibat jangan sampai terjadi lagi dan lagi.

Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum Serikat Rakyat Indonesia (LBH Serindo) Julianus Ancon Halashon Nainggolan menyoroti kinerja penyidik yang seperti membabibuta hendak mentersangkakan sejumlah orang dalam kasus penyekapan lima orang anak selama 10 tahun.

“Kalau saksi ya saksi, tersangka ya tersangka, dan kalau tidak kuat bukti ya jangan dipaksa harus jadi tersangka. Proses hukum jangan dibelok-belokkan, masyarakat melihat dan mengikuti proses yang terjadi loh,” tutur Julianus Ancon, usai mendampingi pemeriksaan saksi di Polda Metrojaya,  Rabu (28/03/2018).

LBH Serindo mendampingi pemeriksaan saksi yang berinisial Y atas kasus dugaan eksploitasi lima anak adopsi yang dilakukan CW (60).

Julianus Ancon mengatakan, pendampingan saksi yang berinisial Y dimintai keterangan terkait dugaan penelantaran yang dilakukan oleh CW. Dia ingin memastikan agar saksi tidak semena-mena diintimidasi dan malah dijebloskan menjadi tersangka.

“Kita hanya dimintai keterangan terkait proses penelantaran karena klien kami merupakan orang yang sempat merawat anak yang berinisial FA yang melarikan diri,” ujar Julianus.

Dia mengatakan bahwa anak berinisial FA lari dari hotel dan menemui Y yang sempat merawatnya dari umur 1 hingga umur 2 tahun.

Dijelaskan dia, sekitar bulan April 2017, pada malam hari FA mendatanginya kediaman Y, dan FA mengaku takut kembali ke hotel dikarenakan FA disuruh membeli spnier oleh CW.

“Namun semua toko mainan sudah tutup dan enggan kembali ke hotel dengan alasan takut dimarahi,” kata Julianus.

Dia menerangkan, anak FA pernah sekolah namun hanya beberapa bulan saja. Sejak penyekapan hingga saat ini tidak pernah bersekolah lagi.

“Saya hanya pernah mengetahui bahwa FA sekolah pada tingkat Taman Kanak-kanak (TK) itupun hanya beberapa bulan setelah itu FA tidak pernah sekolah lagi,” ungkap Julianus Ancon.

Julianus Ancon menegaskan, posisi Y bukan sebagai asisten rumah tangga dari terlapor CW, melainkan Y adalah orang yang sering menerima anak untuk dijaganya.

“Klien kami sering menerima anak dan dititip tetangga untuk dijaga. Bukan hanya CW, melainkan anak yang berada disekitaran tempat dia tinggal,” kata dia.

Chandri Widarta, perempuan yang diduga menyekap dan melakukan kekerasan terhadap anak adopsinya, diketahui melakukan modus pindah dari hotel ke hotel dalam penyekapannya.

Selama 10 tahun, Chandri tinggal di beberapa hotel berbintang di Jakarta bersama lima anak adopsinya selama 10 tahun.

Ia mengaku tinggal di hotel karena rumahnya di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, pernah terendam banjir besar. “Rumah pernah kebanjiran pas 2007,” kata Chandri Widarta di Polda Metro Jaya, Jumat, 16 Maret 2018.

Menurut keponakan Chandri, Riska, perempuan yang dia panggil oma itu bukan orang susah. Suami Chandri adalah dokter. Sedangkan Chandri berprofesi sebagai ahli pengobatan tradisional.

“Dia itu mengobati orang dengan doa. Orang bilang itu bahasa bekennya pengobatan tradisional. Jadi dia mengobati dengan doa,” kata Riska, yang ikut mendampingi Chandri dalam pemeriksaan.

Selain memperoleh penghasilan dari keahliannya, kata Riska, perempuan 60 tahun itu mendapat sumbangan dari Gereja untuk kehidupannya sehari-hari.

Chandri membantah bila dia dituding tidak menyekolahkan kelima anak angkatnya. Menurut dia, kelima anak itu ikut homeschooling di hotel tempatnya tinggal.

Untuk biaya homeschooling lima anak adopsinya, perempuan yang menjalani pemeriksaan atas dugaan penelantaran dan kekerasan terhadap anak itu mengaku mendapatkan guru secara cuma-cuma. Guru itu didatangkan dari sekolah Santa Theresia.

“Kalau homeschooling, gurunya juga tidak mau dibayar. Pakai guru Santa Theresia, datang ke hotel,” ujar Riska.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono menyampaikan, dalam keterangannya yang disampaikan kepada penyidik, alasan Chandri mengasuh karena masing-masing orangtua kandung tak mau merawat anak-anaknya.

“Ada anak anak yang orang tuanya tidak bertanggung jawablah,” kata Argo. Ia juga menceritakan penyebab masing-masing orangtua kandung menyerahkan anak-anaknya kepada Chandri.

“Ada yang hamil di luar nikah, ada yang sakit, anaknya PSK (Pekerja Seks Komersial). Dipeliharalah sama dia (Chandri),” kata dia.

Soal pengadopsian anak tersebut, polisi masih menelusuri apakah ada indikasi pelanggaran administrasi yang dilakukan Chandri. Ia hanya memberikan bukti berupa pernyataan keluarga soal penyerahan hak asuh kelima anak tersebut dan foto saat proses pengasuhan berlangsung.

“Sedang kami cek (dugaan pelanggaran administrasi) karena ada pernyataan orangtuanya, namanya dia bilang saya bantu orang tua menelantarkan bayi boleh saja toh pak,” kata Argo.

Sebelumnya, Kapolres Jakarta Pusat Kombes Roma Hutajulu mengatakan dalam kasus ini sudah sebelas saksi yang diperiksa, yaitu tiga pegawai hotel tempat CW dan kelima anak yang diadopsinya tinggal, warga berinisial Y yang merupakan mantan pengasuh dan bekerja dengan CW, dan RW yang merupakan rekan Y.

Lima anak adopsi CW berinisial FA (14), RW (14), OW (13), EW (10), dan TW (8), dan CW, juga diperiksa sebagai saksi.

Roma belum bisa mengungkapkan seluruh kesaksian 11 saksi tersebut karena masih dilakukan penyelidikan. Namun, kelima anak adopsi tersebut mengaku pernah mendapat kekerasan hingga penganiayaan saat tinggal bersama CW.

“Saat pemeriksaan ada (diperlakukan kasar),” ujar Roma.

Roma mengatakan, kelima anak tersebut tidak mengingat siapa orangtua mereka karena CW mengasuh kelimanya sejak bayi.

Adapun Polres Jakarta Pusat telah melakukan gelar perkara dengan Bareskrim Polri dan Polda Metro Jaya. Mempertimbangkan kasus tersebut berada di tiga lokasi yang berbeda, maka kasus akan dilimpahkan ke Polda Metro Jaya.

“Karena TKP-nya ada tiga, dua di hotel Jakarta Barat dan satu di Jakarta Pusat, maka kami akan tarik ke Polda. Kalau tidak hari ini, besok akan kami limpahkan,” ujar Roma.

Polisi mengamankan CW dan empat orang anak di salah satu hotel di Jakarta Pusat. Sebelumnya, polisi mendapat laporan dari warga bernama Y bahwa ada dugaan CW melakukan eksploitasi terhadap anak-anak tersebut.

Y mengetahui hal itu dari FA, salah satu anak yang pernah tinggal dengan CW. FA melarikan diri dari CW karena mendapat perlakuan kasar hingga tindakan penganiayaan.

Mendapat laporan tersebut, polisi kemudian mendatangi hotel yang dimaksud. Di dalam satu kamar hotel, polisi menemukan CW dan empat anak lainnya. Keempat anak tersebut berinisial, RW (14), OW (13), EW (10), dan TW (8).

CW mengaku mengadopsi lima anak tersebut dari orangtua yang berbeda. Kelima anak tersebut dirawat sejak kecil. Dari pemeriksaan kelima anak, mereka mengaku kerap mendapatkan tindak kekesaran hingga penganiayaan.

Tak jarang jika dianggap bersalah, kelima anak tersebut mendapat hukuman termasuk tidur di kamar mandi hotel dan makan makanan basi.

Saat ini kelima anak dirawat di rumah aman Kemensos di Jakarta Timur. CW mengaku tinggal di tiga hotel yang berbeda selama 10 tahun. Kemudian, 9 tahun di dua hotel yang berbeda di Jakarta Barat, dan 1,5 tahun di hotel berbintang di Jakarta Pusat.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*