Breaking News

Kapolri Kunjungi Sumut, Warga Pertahankan Tanahnya Malah Digebukin Brimob, Tito Karnavian Belum Pro Rakyat

Kapolri Kunjungi Sumut, Warga Pertahankan Tanahnya Malah Digebukin Brimob, Tito Karnavian Belum Pro Rakyat.

Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Tito Karnavian diminta bertindak tegas kepada anak buahnya yang melakukan tindak kekerasan kepada warga masyarakat yang mempertahankan haknya.

Kapolri diingatkan agar bersungguh-sungguh melakukan reformasi di tubuh Kepolisian dengan mengutamakan keselamatan rakyat Indonesia, bukan malah berpihak kepada para pengusaha yang merampas tanah warga.

Aktivis Badan Kamtibmas Indonesia, E Rambe mengatakan, di saat kunjungan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, di Tanah Karo, Sumatera Utara, sekaligus pemberian penghargaan kepada 11 personil Polda Sumatera Utara, pada Kamis 24 Agustus 2017,  malah ternoda dengan tindakan oknum aparat yang melakukan kekerasan terhadap masyarakat, di Kabupaten Tapanuli Selatan.

Rambe yang didampingi aktivis masyarakat Adat Tapanuli Selatan Ardiyansyah Tanjung, mengecam tindakan yang terjadi di Kabupaten Tapanuli Selatan.

“Padahal, Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam kunjungannya ke Sumut,  mengintruksikan dengan agar semua Anggota Polri lebih mengedepankan langkah persuasif dan preventif. Jika kita melihat komitmen Kapolri Tito Karnavian sangat bertolak belakang dengan langkah represif yang dilakukan anak buahnya. Untuk itu, kita minta kepada Kapolda Sumut Irjen Paulus Waterpau dan Kapolri supaya mengevalusi kinerja Kapolres Tapsel, jika memang terbukti ada pelanggaran  hukum dari pihak aparat dan pihak-pihak lainnya, agar langkah strategies terhadap Kapolresnya,” tegasnya Endar Rambe, Jumat (25/8/2017).

Terlepas dari siapa yang melakukan tindakan kekerasan, lanjutnya,  di Negeri ini tidak dibenarkan ada praktek-praktek hukum rimba, karena bangsa Indonesia memiliki konsensus hukum yang harus ditaati semua pihak.

“Kita mengapresiasi kebijakan-kebijkan strategis Kapolri dan Kapolda Sumut, namun jika praktek itu masih ada berarti ada yang tindakan  lost control,” ujar Rambe.

Dia pun meminta Kapolri dan Kapolda Sumatera Utara agar melindungi masyarakat dari kekerasan dan perampasan hak yang dilakukan oleh pengusaha.

Pada hari yang bersamaan, telah terjadi kekerasan fisik terhadap warga di Tapanuli Selatan (Tapsel). Peristiwa itu terjadi tepatnya di Desa Bulu Payung , daerah Luat Lombang, Kamis 24 Augustus 2017.

Warga yang mempertahankan Hak Atas Tanah Adat yang di atasnya akan dibangun PLTA Simarboru (Wilayah Sipirok, Marancar dan Muara Batangtoru) mengalami kekerasan aparat.

Sebanyak 3 mobil truk Brimob Tapsel dikerahkan ke lapangan untuk mengamankan pengukuran lahan yang masuk dalam pemetaan PLTA tersebut.

Sebanyak 3 orang warga menjadi korban kekerasan atas perlawanan mereka mempertahankan tanah adat mereka. “Itu harus diusut tuntas,” pungkas Rambe.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*