Breaking News

Kabinet Jokowi Diisi Para Pemburu Rente, Kembalikan Tim Ekonomi Ke Rizal Ramli

Kabinet Jokowi Diisi Para Pemburu Rente, Kembalikan Tim Ekonomi Ke Rizal Ramli.

Presiden Jokowi diminta untuk mengembalikan Tim Ekonominya kepada Ekonom Rizal Ramli. Soalnya, sampai saat ini, perekonomian Indonesia malah jauh dari harapan rakyat, dan tim ekonomi yang ada di dalam lingkaran Kabinet Kerja saat ini banyak diisi oleh para pemburu rente.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Serikat Rakyat Indonesia (Serindo) Jones Batara Manurung menyampaikan, politik kerakyatan yang didengungkan Jokowi melalui Tri Sakti dan Nawa Cita, ternyata malah jauh dari rakyat.

Politik kerakyatan harus sejalan dengan ekonomi kerakyatan, sebagaimana diharapkan masyarakat dengan janji-janji Jokowi pada Pilpres 2014 lalu.

“Presiden Jokowi membutuhkan tim ekonomi yang beridentitas profesional progresif yang dapat memecahkan kebuntuan tata kelola ekonomi yang masih dikuasai segelintir kelompok dan dikelilingi para pemburu rente,” tutur Jones Batara Manurung, di Jakarta, Rabu (20/09/2017).

Dia mengungkapkan, model ekonom seperti Rizal Ramli dapat menjadi salah satu yang bisa diharapkan dalam tim ekonomi yang memiliki kapasitas dan keberanian (profesional progresif) dalam misi pembangunan kembali ekonomi kerakyatan Indonesia.

Dijelaskan Jones, Rizal Ramli memang sudah pernah terlibat di Kabinet Kerja Presiden Jokowi, sayangnya Rizal Ramli keluar tanpa reserve dari Kabinet Kerja.

“Karakter layaknya seorang aktifis progresif, yang suka “ngepret” membuat seorang Rizal Ramli harus digeser karena dianggap “mengganggu” kepentingan pihak tertentu,” ujar Jones.

Dikatakan Sekjen Relawan Duta Jokowi ini, dengan Tim Ekonomi yang berjiwa kerakyatan (profesional progresif) dapat menjadi stimulus bagi upaya penuntasan agenda Jokowi sebagaimana janjinya pada masa kampanye. Tim ekonomi tersebut yang diharapkan dapat membuka jalan yang lebih mudah untuk periode kedua Jokowi.

“Tim Ekonomi profesional progresif ini memiliki tugas membangun kembali pondasi sistem ekonomi kerakyatan Indonesia untuk bisa menyingkirkan politik identitas dan memenangkan politik kerakyatan,” ujar Jones.

Jones Batara Manurung yang merupakan Direktur Eksekutif Nasional Rumah Tani Indonesia (RTI) ini juga menilai sosok Rizal Ramli pada saat menjabat menteri di Kabinet Kerja memberi corak tersendiri. Rizal Ramli merupakan sosok yang berani berbeda pendapat dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla terkait proyek pembangkit listrik 35.000 megawatt. Terkait kontrak freeport, Rizal Ramli juga berseberangan dengan Sudirman Said pada saat itu. Demikian pula dengan kebijakan Pemerintah Propinsi DKI Jakarta tentang reklamasi teluk Jakarta, Rizal Ramli juga berseberangan.

Dalam kasus papa minta saham Rizal Ramli berpendapat bahwa pertengkaran yang terjadi hingga ke dalam parlemen melalui sidang Majelis Kehormatan Dewan merupakan sebuah sandiwara. Menurut Rizal Ramli, pertengkaran itu hanya perkelahian antar geng dan rebutan saham.

“Rizal Ramli yang pernah menjadi menteri Kabinet Indonesia hingga detik ini tetap setia di garis Jokowi. Sangat berbeda dengan menteri-menteri lain yang terkena reshuffle seperti Sudirman Said, secara kasat mata berseberangan dengan garis Jokowi. Kesetiaan Rizal Ramli dalam “gerbong politik” Jokowi dibuktikannya dengan sikap yang selalu memberikan pandangan-pandangannya tentang berbagai kebijakan pemerintah. Pasca di-reshuffle meski kadang kala memberikan kritik pedas, tak jarang Rizal Ramli mengapresiasi kebijakan-kebijakan pemerintah,” ungkap Jones.

Diterangkan Jones, salah satu pandangan Rizal Ramli menyikapi kebijakan pemerintah terkait agresifnya pemerintah dalam mengejar penerimaan pajak patut diapresiasi, namun menurut Rizal Ramli agresifitas pemerintah dalam mengejar penerimaan pajak membuat kalangan dunia usaha terganggu yang membuat aktivitas investasi tertunda dan menghambat pertumbuhan sektor lainnya.

Pajak akan naik dengan sendirinya apabila ekonomi bergeliat. Dalam situasi saat ini Rizal Ramli menganjurkan agar pemerintah menggunakan skema Build Operate Transfer (BOT) dan Build Own Operate (BOO) yang dapat menarik investor.

“Rizal Ramli dengan kapasitas yang tidak diragukan lagi dalam bidang perekonomian dan sikap tegak lurus (setia) dengan Presiden Jokowi sangat diharapkan dapat kembali ke kabinet dalam tim ekonomi Presiden Jokowi,” ujarnya.

Hal ini sangat penting mengingat masa pemerintahan Jokowi pada periode pertama ini tinggal dua (2) tahun lagi dengan beban ekspektasi pertumbuhan ekonomi dapat bergerak dari 5.1 % ke angka 6.5 %.

“Ekspektasi ini tentunya dapat terwujud jika hanya Tim Ekonomi Jokowi-JK adalah Tim yang profesional progresif,” ujarnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*