Breaking News

Juga Geruduk Kejagung, Satgas Anti Diskriminasi Hukum Minta HM Prasetyo Batalkan Deponeering BW

Juga Geruduk Kejagung, Satgas Anti Diskriminasi Hukum Minta HM Prasetyo Batalkan Deponeering BW.

Dalam satu hari, Kejaksaan Agung digeruduk puluhan orang anggota LSM Satgas Anti Diskriminasi Hukum. Mereka menuntut Jaksa Agung HM Prasetyo agar mencabut dan membatalkan kembali keputusan deponeering yang dikeluarkan tanggal 3 Maret 2016, dalam perkara pidana atas nama tersangka Bambang Widjojanto (BW).

Tak hanya itu, demonstran juga meminta agar Kejaksaan melimpahkan perkaranya ke pengadilan untuk diadili sesuai ketentuan hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Hal itu sebagai bentuk penegakan prinsip Equality Before The Law.

Koordinator LSM Satgas Anti Diskriminasi Hukum, Budi mengatakan, keputusan deponeering diduga tidak melalui prosedur yang benar, sebagaimana yang diwajibkan oleh Undang-undang harus mengacu pada keputusan  Mahkamah Konstitusi Nomor: 29/PUU-XIV/2016,  yang pada intinya menyatakan putusan deponeering wajib melalui proses konsultasi dan membutuhkan pertimbangan dari Ketua DPR, Ketua Mahkamah Agung, dan Kepala Kepolisian RI (Kapolri).

“Keputusan deponeering Jaksa Agung tanpa melalui konsultasi dan tidak memilki pertimbangan dari Ketua DPR dari segi uraian argumen telah terpenuhinya unsur keterwakilan kepentingan umum, dari Ketua MA segi yuridisnya, dan dari Kapolri pada aspek mekanisme penyidikannya,” katanya, di depan Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (12/10/2018).

Dia menjelaskan, Bambang Widjojanto dalam kedudukannya sebagai kuasa hukum Ujang Iskandar, calon bupati Kotawaringin Barat pada tanggal 23 Januari 2015 telah ditetapkan menjadi tersangka oleh Bareskrim Polri, dalam  perkara dugaan menyuruh saksi Ratna Mutiara  memberi keterangan palsu, pada sidang Mahkamah Konstitusi tahun 2010, terkait sengketa Pemilihan Kepala Daerah.

Pada tanggal 25 Mei 2015, berkas perkara atas nama Bambang Wdjojanto dinyatakan lengkap (P21) oleh Jaksa Penuntut Umum dan telah dilakukan pelimpahan Tahap ke-II pada 18 September 2015 untuk siap disidangkan.

Akan tetapi, lanjut Budi, atas desakan dan rekayasa yang dibangun oleh kawan-kawan tersangka yang tergabung dalam beberapa NGO, Jaksa Agung dengan dalih menggunakan hak prerogatif yang diberikan pasal 35 huruf C Undang-undang No.16 tahun 2004 tentang Kejaksaan Agung, memutuskan menerbitkan penetapan deponeering atas perkara tersebut.

“Apa yang diberikan Ketua MA, Ketua DPR dan Kapolri pada waktu itu bukanlah sebuah pertimbangan sebagaimana yang dimaksud keputusan  Mahkamah Konstitusi Nomor: 29/PUU-XIV/2016. Namun hanya sekadar statement biasa yang pada pokoknya menyerahkan sepenuhnya kelanjutan perkara tersangka Bambang Widjojanto kepada Jaksa Agung,” ujarnya.

Disinggung soal faktor yang mendukung pertimbangan tuntutan pencabutan deponeering, Budi mengatakan, Bambang Widjajanto tidak memiliki kualifikasi secara yuridis dan moral untuk mendapatkan keistimewaan deponeering, setelah adanya temuan dugaan melakukan manipulasi pidana pajak dan TPPU selama menjalankan profesi sebagai pengacara “Senior Partner di Widjojanto, Sonhaji, & Assciates” yang merugikan Negara mencapai puluhan milyar rupiah.

Berdasarkan hasil investigasi LSM Satgas Anti Diskriminasi Hukum, sebagai pengacara dan pemilik law firm Widjojanto, Sonhaji, & Assciates, Bambang Widjojanto pada tahun 2009-2010 diperkirakan berhasil meraih pendapatan sebesar Rp300 miliar, dengan asumi tanpa pandang bulu, tarif jasa yang  harus dibayar kliennya minimal rata-rata sebesar Rp10 miliar,  setelah tanda tangan surat kuasa.

Sebagai contoh, meskipun menjadi seorang korban mafia hukum seperti Jonny Abbas sekalipun, tetap wajib membayar Rp10 miliar kepada Bambang, yang hanya mendampingi dalam persidangan di PN Jakarta Pusat, pada Februari 2011. Bahkan oleh majelis hakim PN Jakarta Pusat, Jonny Abbas dihukum 1,8 tahun penjara.

Lalu tercatat berturut-turut Bambang Widjojanto pernah menjadi pengacara Bupati Morotai Rusli Sibua, tersangka dugaan suap 2,9 miliar terhadap mantan Ketua MK Akil Mochtar, Rusli Zaenal, mantan Gubernur Riau, Bupati Tapanuli Tengah, Bupati Kotawaringin Barat, Ujang Iskandar, dan LPS yang melahirkan bailout Bank Century.

Meskipun memiliki kekayaan ditaksir minimal sekitar Rp150 miliar, Bambang Widjojanto menjelang mengikuti pemilihan Ketua KPK melaporkan dan memberikan keterangan hanya memiliki harta sebesar Rp4,8 miliar, berdasarkan data LHKPN tahun 2012.

Laporan itu disebut dikualifikasikan sebagai keterangan palsu, sekaligus terindikasi Bambang Widjojanto melakukan dugaan pidana manipulasi pajak dan TPPU selama menjadi Senior Partner di Widjojanto, Sonhaji, & Associates, yang merugikan keuangan Negara puluhan miliar rupiah.

“Ia seorang hipokrit, berpura-pura hidup sederhana, dengan bergelantungan di kereta api Depok-Jakarta saban hari. Naik ojek mengajar di kampus Universitas Trisakti,” tegasnya.

Karena itu, Budi meminta agar Jaksa Agung mencabut dan membatalkan kembali keputusan deponeering perkara atas nama tersangka Bambang Widjojanto. “Sekaligus mengusut atas terjadinya dugaan pidana manipulasi pajak dan TPPU yang terjadi ditubuh  Widjojanto, Sonhaji,  & Associates,” tutupnya.

Sementara, Jaksa Agung HM Prasetyo yang dikonfirmasi soal permintaan pencabutan deponering BW, mengatakan pencabutan deponeering harus ada pertimbangan untuk kepentingan umum. Kepentingan umum itu harus dilakukan pengkajian terlebih dahulu.

“Terus maunya apa, oh dibuka kembali, kita harusnya lihat dulu dong, pada saat kita putusan deponering alasannya adalah demi kepentingan umum. Nah sekarang kita lihat dulu ada enggak kepentingan umum yang mendasari untuk dibuka kembali,” katanya.

Untuk itu, kata Prasetyo, jika deponering dibuka kembali maka apakah ada kepentingan umum yang perlu di buka kembali deponering tersebut.

“Dulu kepentingan umumnya demi tuntutan masyarakat dalam pemberantasan korupsi itu kepentingan bersama, kita kan enggak mau korupsi merajalela,” jelasnya.

Disinggung soal apakah untuk mengetahui kepentingan umum BW bisa dipanggil kejaksaan?.” bisa iya bisa tidak,” singkatnya.

Lalu soal dugaan korupsi restitusi pajak, Prasetyo mengatakan jika hal tersebut berbeda halnya dengan deponeering. “Lain lagi kalau pajak persoalannya,” tutupnya.(Richard)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*