Breaking News

Jokowi Disarankan Segera Reshuffle Sembilan Menteri Ini

Jika Memang Mau Reshuffle, Jokowi Disarankan Segera Mengganti Sembilan Menteri.

Presiden Jokowi disarankan segera mempertimbangkan sembilan pos di kementerian untuk dibenahi, melalui pergantian Menteri yang menduduki pos itu.

 

Ketua Umum Aliansi Pemuda Nasional (APN) Abdullah Amas, kesembilan menteri saat ini kurang bagus kinerjanya adalah Menteri Perhubungan (Menhub), Menteri Pertanian (Mentan), Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans), Menteri Keuangan (Menkeu), Menteri Agama (Menag), Menteri Dalam Negeri (mendagri), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP), serta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf).

 

Menurut Amas, ada sejumlah catatan hitam yang tak bisa ditelorir dari kinerja para menteri tersebut.

 

“Menteri Perhubungan, misalnya, gagal membuat pelayanan transportasi murah untuk rakyat. Seperti di kereta api, makanan untuk penumpang mahal-mahal di sana, padahal itu katagori kereta api ekonomi. Pada saat hari raya, masyarakat kecil susah mencari angkutan murah dan layak,” ujar Abdullah Amas, dalam keterangan persnya, kemarin.

 

Menurut dia, menteri seperti itu tidak melihat realitas yang terjadi di lapangan. Meskipun ada menteri yang tampak turun ke lapangan, namun fakta-fakta dan kondisi sebenarnya tidak dilihat dan tidak dirasakan.

 

Sedangkan, untuk Mendikbud, lanjut dia, tidak bersikap tepat dalam menerapkan program full day school.

 

“Harusnya ada narasi re-ivinting pendidikan yang hakiki, yang lebih radikal dan lebih baik, misal pengembangan sekolah alam. Sedangkan full day school atau FDS itu hanya membebani siswa. Inu bukanperang antara NU versus Muhammadiyah. FDS harus ditentang semua elemen, karena ini kebijakan yang kurang arif dan perlu dipikirkan ulang,” ujar Amas.

 

Abdullah Amas berharap, Presiden Jokowi memanfaatkan sisa waktu sebaik-baiknya. Di sisa masa pemerintahan yang tinggal sekitar dua tahun lagi ini, kata dia, mesti ada perubahan yang mendasar ke arah yang lebih baik.

 

“Seperti di pos Kelautan dan Perikanan, Menteri Kelautan misalkan, terobosan apa yang dia lakukan? Tidak jelas. Lalu, ada juga Menteri Pariwisata Arief Yahya kok promosi ke luar negeri kurang masif. Kok kalah dengan Malaysia yang benar-benar mempromosikan sektor pariwisatanya dengan maksimal,” ujarnya.

 

Abdullah Amas juga menyampaikan, jika pun Presiden Jokowi akan melakukan reshufle kabinetnya, mesti berhati-hati agar tidak dijadikan ajang partai politik menyusupkan orang-orangnya.

 

“Parpol harus diwaspadai. Parpol sering bermanuver untuk mempromosikan kader-kadernya mengisi kursi di kabinet untuk mengeruk APBN demi kepentingan partainya. Jangan sampai jadi ajang fund raising atau penggalangan dana buat kampanye 2019,” tutur dia.

 

Menurut dia, ada gelagat partai-partai rakus untuk berebut lahan basah di kabinet.

 

“Mereka adalah partai-partai yang sudah tidak penting lagi bagi rakyat untuk membawa agenda perbaikan di negara ini,” katanya.

 

Abdullah Amas berharap, kabinet diganti atau tidak, menteri-menterinya harus berorientasi pada agenda-agenda strategis pemerintah.

 

“Apa yang bisa dilakukan di sisa waktu ini? Dua setengah tahun lagi adalah waktu yang amat singkat. Kalau tidak serius, maka reshuffle pun tidak akan performance menolong Kabinet Kerja untuk lebih baik di ahdapan rakyat,” pungkasnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*