Breaking News

Jikapun Harus Dinaikkan, Please.. BBM Untuk Nelayan Jangan Dipersulit

Jikapun Harus Dinaikkan, Please.. BBM Untuk Nelayan Jangan Dipersulit.

Rencana pemerintah untuk kembali menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) membuat nelayan kecil kian was-was.

Meskipun nantinya akan dinaikkan lagi harga BBM, nelayan berharap tidak akan mencabut subsidi dan tidak akan mempersulit nelayan.

Koordinator Bidang Hubungan Antar Lembaga Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Siswaryudi Heru menyampaikan, harapan nelayan Indonesia, kiranya BBM bagi nelayan tetap terpenuhi dengan harga yang tidak ikut-ikutan naik.

Selain itu, menurut Siswaryudi Heru, pemenuhan kebutuhan BBM bagi nelayan Indonesia diharapkan tetap terpenuhi.

“Mengingat kondisi perekonomian dunia dan Indonesia yang sedang tidak stabil, hendaknya ada kebijakan yang tetap melindungi nelayan. Seperti tidak mencabut subsidi bagi nelayan kecil serta tidak menaikkan harga BBM khusus nelayan. Jadi, please jangan dipersulit nelayan Indonesia,” tuturnya, di Jakarta, Selasa (09/10/2018).

Menurut pria yang juga Ketua Maritim dan Nelayan Projo ini, fluktuasi harga Dolar Amerika yang mempengaruhi berbagai sektor, termasuk BBM, hendaknya mampu diatasi dengan tidak menjadikan nelayan kian berkorban banyak.

Ketua Bidang Kelautan dan Perikanan Pengurus Pusat Dewan Ekonomi Indonesia Timur (DEIT) ini melanjutkan, perlindungan atau langkah memperkuat kehidupan nelayan harus tetap dilakukan.

Langkah itu adalah langkah yang sangat mungkin dilakukan. “Apalagi saat ini Indonesia banyak diterpa gelombang yang tidak biasa. Gempa dan bencana yang membuat nelayan kita berhenti melaut. Maka perlu langkah strategis untuk tetap melindungi nelayan,” tutur Siswaryudi.

Dikatakan Wakil Bendahara Umum Bidang Pertanian, Perkebunan, Kelautan, Kehutanan, Perikanan dan Pengan Dewan Pimpinan Pusat Partai Hati Nurani Rakyat (DPP Hanura) ini, isu akan terjadinya lagi kenaikan harga BBM sudah kian santer.

Sebagai langkah antisipasi, menurut Siswaryudi Heru, pemerintah mesti diberikan warning atau aba-aba bahwa nelayan jangan dipersulit, jika pun langkah menaikkan harga BBM itu menjadi keharusan yang akan dilakukan. “Nelayan kecil kita harus tetap kita lindungi,” pungkasnya.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mengeluarkan hasil survei konsumennya pada Juli 2018 lalu. Dari hasil survei itu, tergambar adanya peningkatan tekanan kenaikan harga pada 3 bulan ke depannya, yakni sejak Oktober 2018.

Hal ini disebabkan kekhawatiran responden terhadap kenaikan harga BBM non-subsidi, yang tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) 3 bulan yang akan datang sebesar 172,7 meningkat dari 171,0 bulan sebelumnya.

“Secara spasial, peningkatan IEH 3 bulan mendatang terjadi di 10 kota, tertinggi di Surabaya,” papar BI dalam keterangan tertulisnya, Senin (6/8/2018).

Konsumen pun juga memperkirakan tekanan kenaika harga pada 6 bulan mendatang, yakni Januari 2019. Hal ini disebabkan peningkatan permintaan pada periode tahun baru, terindikasi dari IEH 6 bulan mendatang sebesar 178,3 lebih tinggi dari 173,2 bulan sebelumnya.

Data survei BI menunjukkan, tekanan kenaikan tertinggi terjadi di Surabaya, yakni sebesar 20,6 poin.

Adapun terkait dengan pendapatan konsumen, rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang digunakan untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) menurun dari 67,1 persen menjadi 66,7 persen. Rasio pembayaran cicilan (debt to income ratio) pun juga turun dari 13,5 persen menjadi 13,4 persen.

Hal ini, sebut BI, sejalan dengan penurunan persepsi terhadap penghasilan pada Juli 2018 dan telah berlalunya periode Idul Fitri.

“Sementara rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) pada Juli 2018 sedikit meningkat dari 19,4 persen menjadi 19,9 peren,” sebut BI.

BI pun menjelaskan, simpanan bank masih menjadi sarana favorit konsumen untuk menyimpan sisa pendapatannya. Sebanyak 46 persen responden akan menempatkan kelebihan pendapatannya dalam kurun waktu 12 bulan mendatang atau sampai dengan Juli 2019, dalam bentuk tabungan atau deposito.

“Preferensi penempatan kelebihan dana responden rumah tangga selanjutnya adalah dalam bentuk emas atau perhiasan sebesar 22,6 persen, dan properti sebesar 18 persen,” tulis BI.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*