Breaking News

Jenderal Moeldoko: Petani Butuh Densus, Hama Meneror Pertanian

Jen deral Moeldoko: Petani Butuh Densus, Hama Meneror Pertanian.

Tak hanya Detasemen Khusus Anti Terorisme (Densus Anti Teror) dan Detasemen Tindak Pidana Korupsi (Densus Tipikor) yang harus hadir di Indonesia, tetapi juga perlu Densus Anti Hama. Mengapa? Sebab pertanian dan para petani Indonesia kini terus-terusan dihajar oleh hama sebagai teror yang meruntuhkan sektor pertanian.

 

Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) yang juga Mantan Panglima TNI, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko menyampaikan, saat ini petani Indonesia sudah kian menyusut dan redup. Kondisi itu akan sangat berbahaya bagi masa depan bangsa Indonesia. Sebab, kebutuhan akan pangan tidak pernmah berhenti. Ketahanan dan kedaulatan pangan bisa menjadi ancaman serius saat ini, apabila petani dan pertanian Indonesia tidak dibenahi dengan sungguh-sungguh.

 

“Jumlah petani Indonesia kian kecil. Bahkan, perlahan sudah tak ada lagi generasi muda yang mau jadi petani,” ujar Moeldoko saat menjadi pembicara dalam Serial Dikusi INDONESIA RUMAH KITA Menyambut SUMPAH PEMUDA, bertema, Semangat Sumpah Pemuda Tumbuhkan Cinta NKRI, di Gedung Joeang 45, Jalan Menteng Raya Nomo 31, Jakarta Pusat, Sabtu (21/10/2017).

 

Dalam dikusi yang dihadiri ratusan elemen kaum muda itu hadir sebagai pembicara Senior Golkar Akbar Tanjung, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) yang juga Mantan Panglima TNI, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Mayjen Pol (Purn) Sidarto Danusubroto, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo, Mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora)/Kwartir Nasional Pramuka Dr Adhyaksa Dault, Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagubsu) Brigjen TNI (Purn) Dr Nuhajizah Marpaung , Wakil Bupati Halmahera Selatan Ihwan Hasim, dipandu oleh Wartawan Senior yang kini menjadi Direktur Eksekutif TMT Production, Tiurmaida Tampubolon.

 

Menurut Moeldoko, ruang dan lahan serta kemampuan petani Indonesia kian sempit dan kesulitan. Seharusnya, masyarakat dan anak-anak muda bisa memiliki kesempatan yang besar untuk menjadi petani yang sukses.

 

“Jika anak-anak muda hendak berperan mewujudkan petani dan nelayan yang sejahtera, banyak peluang. Saya mau mengajar dan mengajak anak-anak muda untuk bertani, bertani yang lebih bagus dan lebih sejahtera,” ujarnya.

 

Dia menerangkan, awalnya dirinya terjun ke dunia pertanian setelah pensiun dari Panglima TNI. Moeldoko melihat ada ancaman yang besar bagi Indonesia, jika petani dan pertanian tidak dikembangkan dengan baik. Ancaman kelaparan, ancaman terhadap barang-barang impor pertanian dan bahan makanan, serta ancaman disintegrasi bangsa jika ketahanan dan kedaulatan pangan tidak diwujudkan.

 

Bagi Moeldoko, persoalan sektor pertanian bukan hanya urusan lahan yang kian menyusut, bukan juga karena ketidakmampuan masyarakat Indonesia, tetapi ada juga persoalan cultural dan teknologi yang tidak sinkron selama ini.

 

“Ada juga persoalan kultur dan teknologi. Teknologi harus bisa kita hubungkan dengan kultur kepada masyarakat agar pertanian kita tidak stagnan atau malah mati. Dengan teknologi dan kultur bertani yang berkembang mestinya petani akan maju dan sejahtera,” tuturnya.

 

Buktinya, lanjut dia, setelah dirinya menjadi Ketua Umum HKTI ada sejumlah pengembangan teknologi dan kultur yang dikembangkan dia. Seperti adanya kemandirian melakukan pembibitan atau benih padi. Moeldoko mengakui jenis padi temuannya yang diberinama M-400 dan M-700 misalnya, adalah hasil pengembangan ilmu pengetahuan oleh para sarjana pertanian bersama masyarakat petani.

 

“Seperti benih padi jenis M-700 itu, dalam waktu 700 hari, bisa menghasilkan padi yang berkualitas bagus dan hasil panen yang besar,” ujarnya.

 

Selain itu, kini ada dikenal Teknologi Moeldoko, yakni teknologi pertanian untuk mengembangkan pemberantasan terhadap hama pertanian.

 

Moeldko menyampaikan, untuk Indonesia bukan hanya Detasemen Khusus Anti Teroris dan Detasemen Khusus Tipikor yang diperlukan, tetapi juga Densus Anti Hama.

 

“Hama itu kini menjadi teror yang mengerikan bagi petani Indonesia. Kita butuh Densus Anti Hama yang bisa mengatasi persoalan hama yang menyerang petani,” ujarnya.

 

Paling tidak, menurut dia, ada lima titik persoalan utama yang dihadapi Indonesia dalam mengembangkan sektor pertania. Pertama, persoalan lahan dan ketersediaan tanah. Menurut Moeldoko, bukan hanya tanah pertaniannya yang kian menyusut, tetapi juga kualitas tanah di Indonesia sudah buntet alias keras karena bahan-bahan pestisida.

 

“Persoalan kedua, modal. Modal ini menjadi perlu bagi pengembangan lahan, bibit, pupuk mengatasi hama dan pengembangan lainnya,” ujarnya.

 

Ketiga persoalan teknologi pertanian. Indonesia memiliki banyak sarjana pertanian dan sarjana teknik yang mampu membuat teknologi pertanian yang jitu, namun sering kali terbentur pada kurangnya minat, keterbatasan anggaran dan juga persoalan-persoalan lainnya yang berefek pada tertinggalnya pengembangan teknologi itu sendiri.

 

“Keempat, persoalan manajemen. Petani dan pertanian juga membutuhkan manajemen yang canggih yang bisa dikembangkan di Indonesia. Kelima, persoalan pasca panen. Harga dan penyaluran hasil panen sering kesulitan. Petani berhadapan dengan tengkulak dan para mafia, ini harus diberantas. Salah satu solusinya, petani harus memiliki koperasi. Koperasi ini yang menjaga dan melindungi petani dari mulai awal masa tanam hingga pasca panen,” ujarnya.

 

Jadi, lanjut dia, persoalan benih, pupuk, anti hama, harga padi yang harus menguntungkan petani serta upaya serius mengatasi para tengkulak, bisa dilakukan jika anak-anak muda juga kini banyak bergabung dan bergerak di sektor pertanian.

 

“Bayangkan, anak-anak muda banyak yang tidak mau jadi petani. Ini salah satu kelemahan, maka sekarang saya ajak semua orang, terutama anak-anak muda, ayo bersama-sama membangun pertanian kita. Saya siap mengajar dan membimbing dan bersama-sama mengolah lahan pertanian,” ujarnya.

 

Sedangkan Wakil Bupati Halmahera Selatan Ihwan Hasim menyoroti budaya yang kurang baik yang masih berkembang di masyarakat. Menurut Hasim, para orang tua pun mendorong dan meminta anak-anaknya untuk tidak menjadi petani.

 

Hasim mencontohkan, seorang bapak yang hidupnya sebagai petani atau nelayan malah meminta anaknya untuk maju tetapi tidak sebagai petani.

 

“Ini persoalan serius. Para pemuda kita tidak mau menjadi petani. Lalu mau berharap kepada siapa lagi mengembangkan pertanian Indonesia? Harus ada yang mau jadi petani, tetapi bertaninya tidak seperti cara orang-orang tua kita dulu lagi. Sekarang, petani harus pintar dan sejahtera,” ujarnya.

 

Hasim mengatakan, menjadi petani harus menjadi kebanggaan bagi generasi muda. Perubahan cara berfikir dan cara mengolah lahan serta mengembangkan pertanian pun harus terus dilakukan pemerintah. “Jadi petani harusnya menjadi kebanggaan,” pungkasnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*