Breaking News

Jenazah Korban KM Sinar Bangun Tidak Dievakuasi, Aktivis Dipukuli, Jutaan Ikan Mati Mendadak di Danau Toba; Kabasarnas Kepala Batu, Pemerintah Kok Tidak Bertanggung Jawab!

Jenazah Korban KM Sinar Bangun Tidak Dievakuasi, Aktivis Dipukuli, Jutaan Ikan Mati Mendadak di Danau Toba; Kabasarnas Kepala Batu, Pemerintah Kok Tidak Bertanggung Jawab!

Bencana besar kembali terjadi di Danau Toba. Setelah ratusan penumpang Kapal Motor Sinar Bangun tewas mengenaskan karena tenggelam tanpa evakuasi memadai sejak Juni 2018 lalu, dalam pekan ini jutaan ikan juga mendadak mati di danau vulkanik terbesar di dunia itu.

Sekretaris Eksekutif Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) Jhohannes Marbun atau yang akrab disapa Joe mengatakan, sejauh ini tidak terlihat upaya serius pemerintah dalam melakukan penyelamatan dan menyelesaikan berbagai persoalan bencana yang terjadi di Danau Toba.

Bukan hanya tidak bertanggung jawab, menurut Joe, pemerintah terutama Kepala Badan SAR Nasional (Kabasarnas) pun sejak awal sudah terlihat ogah-ogahan melakukan evakuasi korban.

“Semua bencana di Danau Toba itu akan kian menjadi-jadi akibat pemeritah yang sangat tidak bertanggung jawab. Bukan hanya tidak bertanggung jawab, sekelas Kabasarnas-nya saja kepala batu. Terkesan bebal, tidak bertanggung jawab, malah hendak berlindung dengan argumentasi yang dibuat-buat. Dasar kepala batu,” tutur Joe, Minggu (26/08/2018).

Bayangkan saja, lanjut aktivis lingkungan dan budaya itu, sejak tenggelamnya KM Sinar Bangun pada Senin sore,18 Juni 2018 lalu, kini sudah terhitung 54 hari sejak persitiwa itu Basarnas tidak berbuat apa-apa, malah sengaja membiarkan jenazah korban masih bergentayangan di dasar danau.

Oleh karena itu, menurut Joe, masyarakat di Kawasan Danau Toba (KDT) pun percaya, selagi jenazah para korban KM Sinar Bangun tidak dievakuasi, maka bencana demi bencana sebagai peringatan dan menuntut tanggung jawab pemerintah dan Basarnas akan terus terjadi.

“Arwah para korban KM Sinar Bangun yang dibiarkan saja oleh Basarnas begitu di dasar Danau Toba tidak ihklas, tidak ridho. Masyarakat percaya itu. Maka matinya jutaan ikan di Danau Toba juga dianggap sebagai lanjutan dari bencana, arwah-arwah itu ngamuk karena dibiarkan begitu saja,” tutur Joe.

Joe menegaskan, apapapun dan bagaimana pun caranya, Basarnas dan pemerintah harus melakukan upaya apapun untuk mengangkat dan evakuasi jenazah para korban itu. “Harus diangkat itu,” ujarnya.

Jika tidak, berbagai bencana bisa akan terjadi kembali. Untuk melakukan kerja-kerja yang bertanggung jawab, lanjut Joe, sebaiknya Kabasarnas dan jajarannya diganti saja dengan yang gigih dan mau bertanggung jawab.

Bukan hanya jenazah korban KM Sinar Bangun yang tenggelam serta jutaan ikan mati mendadak yang menjadi bencana di sana, Joe mengungkapkan, dirinya dan salah seorang aktivis lingkungan Sebastian Hutabarat pun babak belur dipukuli oleh kaki tangan penguasa di Samosir.

Padahal, keduanya tengah melakukan advokasi lingkungan di KDT. Dikarenakan membongkar kebobrokan Bupati di Samosir, maka keduanya dihajar habis-habisan. Hingga saat ini, proses hukum tidak jelas arahnya. Masyarakat di KDT dibungkam dan dicecoki dengan argumentasi-argumentasi basi.

“Itu kami alami dan terjadi bebera bulan sebelum KM Sinar Bangun tenggelam. Sebelum ini juga sudah pernah beberapa kali ikan mati massal mendadak di Danau Toba, waktu itu diprediksi mencapai ribuan ton ikan mati,” ungkap Joe.

Rententan peristiwa bencana itu, lanjut Joe, tidak boleh didiamkan begitu saja. Harus diperbaiki dan harus diselesaikan.

“Pemerintah, termasuk Basarnas diyakini juga sebagai Wakil Tuhan di muka bumi, dan keluarga korban berharap pada Tuhan, seharusnya pemerintah menuntaskannya, bukan malah menyetop keberlanjutan evakuasinya,” pungkas Joe.

Sejak Rabu (22/08/2018), diberitakan jutaan ekor ikan dalam Keramba Jaring Apung (KJA) yang dipelihara mati di Danau Toba, tepatnya di Pangururan, Samosir.

Bangkai-bangkai ikan yang mengambang itu menjadi pemandangan menyedihkan bagi masyarakat sekitar.

Para pemilik KJA, sejak sore sibuk mengumpulkan bangkai-bangkai ikan ke dalam karung. Semampu mereka, bangkai-bangkai itu diangkut memakai perahu ke daratan untuk dikuburkan.

Saut Simanjorang, seorang pengelola keramba, mengatakan ikan-ikan awalnya satu per satu mengapung ke permukaan. Kejadian itu berlangsung sejak pagi. Tepat tengah hari, pemandangan sorenya mulai terlihat di keramba-keramba lain. “Awalnya mengapung satu per satu, lalu bermatian. Kami sedih,” tuturnya.

Jenis ikan yang mati beragam ukuran dan jenis. Ikan yang gampang mati yakni ikan mas. Ikan mujahir dan nila juga bermatian. Kematian itu diduga karena kekeruhan air Danau Toba beberapa hari terakhir. Sehingga, ikan kekurangan oksigen.

Hingga malam, pemilik keramba ikan sibuk. Sejumlah alat berat diturunkan mengangkut bangkai-bangkai. Warga juga bergotong-royong membantu membersihkan danau.

Sementara itu, beberapa hari lalu air Danau Toba terlihan berubah kecokelatan. Fenomena aneh terjadi pada Perairan Danau Toba,di Samosir hingga Sabtu, (18/8/2018) tengah hari. Warna air di danau tektovulkanik yang awalnya biru terlihat kecokelatan.

Pemandangan ini terjadi di sekitar kaki Gunung Pusuk Buhit, tepatnya di Tanjung Bunga, dan wilayah danau sekitar Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir. Warna air danau cokelat kekuning-kuningan.

Bulat Limbong, warga Desa Boho Kacamatan Sianjur Mula-mula mengatakan, fenomena tersebut jarang terjadi. Menurut mereka, apabila ada tanda alam seperti itu biasaya akan terjadi kemarau berkepanjangan di Kawasan Danau Toba.

“Biasanya kalau ada tanda-tanda begini akan ada terjadi kemarau panjang,” ujar pria yang sehari-hari menjadi Nelayan di Danau tersebut.

Menurut pengalaman mereka, akibat angin kencang maka gelombang danau meningkat. Kemudian, arus air di dalam danau mengguncang lumpur yang selama ini mengendap.

Di sisi lain, dia juga bercerita tentang fenomena lain di daerah tersebut. Ada kalanya, pada waktu tertentu muncul gelombang udara sebesar kepalan tangan dari dasar danau dengan jumlah yang banyak disertai air keruh seperti mengandung minyak.

Menurutnya, jika fenomena ini terjadi musim kemarau bisa berlangsung hingga 6 bulan lebih. Akibat kekeruhan air tersebut, ikan yang mereka tangkap pakai jaring (doton) mati seketika.

Matinya ikan di KJA yang tepatnya berada di kawasan Pintusona, Pangururan, Kabupaten Samosir ini, mengulang kembali peristiwa kelam awal Mei 2016. Saat itu, jutaan ikan di keramba di Haranggaol, Simalungun, kawasan Danau Toba, mati tiba-tiba.

  1. Naibaho, pemilik keramba ikan di Pangururan, mengatakan empat hari terakhir dia melihat keanehan dari gerakan ikan di kolamnya. Terlebih, sepekan terakhir air Danau Toba yang awalnya jernih berubah keruh. Dia dan pengusaha keramba lainnya menduga, air keruh disebabkan naiknya lumpur.

Senin pagi, saat dia dan para pekerja memberi makanan, tidak terlihat ikan-ikan naik ke permukaan. Tambahan oksigen pun diberikan untuk mengantisipasi keadaan. Namun, ikan-ikan tidak kunjung juga menyembul.

Hingga akhirnya, satu-persatu ikan muncul tapi dalam kondisi mati, mengambang. “Jika ditaksir, modal saya tidak kembali. Nilainya ratusan juta Rupiah,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan M. Nadeak, peternak ikan jaring apun di kawasan Danau Toba, Samosir. Menurut dia, akibat kematian ikan di sepanjang jalur keramba yang ada di wilayah ini, kerugian ditaksir mencapai Rp5 miliar.“Perekonomian kami semua terganggu, termaksud dampak sosial. Kami ingin ada kejelasan hasil uji laboratorium, apa penyebabnya. Sebab, pada 2014 di kawasan Pangururan pernah terjadi hal serupa lalu di Haranggaol, Simalungun pada 2016,” jelasnya.

Nadeak menyatakan, perputaran bisnis ikan keramba di Pangururan, Samosir ini setiap harinya mencapai Rp1 milar. Terkait kejadian ini, menurut dia, para petani ikan siap dibina pemerintah dan bersedia membayar pajak sesuai peraturan gubernur maupun pemerintah kabupaten.

Kepala Bidang Perikanan, Dinas Pertanian Pemerintahan Kabupaten Samosir Jhunellis Sinaga menjelaskan, dari pemeriksaan dan analisis awal menunjukkan, dugaan sementara penyebab kematian ikan-ikan adalah perubahan suhu dari dasar perairan ke permukaan. Akibatnya, oksigen untuk ikan tidak maksimal. “Kotoran atau limbah ikan yang naik ke permukaan, menyebabkan kematian massal terjadi.”

Jhunellis mengatakan, sejak Selasa, pihaknya telah menghitung dampak kejadian tersebut. Diperkirakan, petani ikan merugi hingga 4 miliar Rupiah dengan jenis ikan yang mati adalah mujair dan mas sebanyak 180 ton.

“Pelaku usaha diharap membersihkan kotoran yang ada dibawah jaring, kemudian menjemurnya. Sampel air, bangkai ikan dan lainnya tengah diperiksa di laboratorium,” terangnya.

Sepanjang hari Kamis, para pekerja dibantu warga sekitar tampak mengangkut bangkai ikan-ikan. Menggunakan alat berat, bangkai dikubur di lokasi yang telah disiapkan.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*