Breaking News

Jalani Kemoterapi Sebanyak 6 Kali, Penderita Kanker Parah Ditelantarkan Rumah Sakit, Negara Harus Bertanggungjawab

Jalani Kemoterapi Sebanyak 6 Kali, Penderita Kanker Parah Ditelantarkan Rumah Sakit, Negara Harus Bertanggungjawab.

Pihak Rumah Sakit dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) dianggap bertanggung jawab atas penelantaran pasien peserta BPJS Kesehatan yang mengalami sakit parah.

Selain itu, pemerintah dituding masih masa bodo dengan berbagai keluhan dan laporan para peserta BPJS Kesehatan atas pelayanan buruk yang dialaminya.

Seperti yang dialami keluarga Boy Kemboy Silaban. Ibunya yang sudah renta mengalami sakit kanker getah bening stadium I. Namun, pihak rumah sakit menelantarkannya.

“Kami hanya disuruh menunggu hasil diagnosa operasi kedua, paling cepat satu minggu ke depan nanti kata pihak Rumah Sakit. Kami harus membawa Ibu pulang ke rumah. Hanya dikasih obat pengurang rasa sakit. Saya tak kuat melihat kondisi Mama. Kami disuruh bawa pulang,” ujar Boy Silaban, saat bertemu di sekitar Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, Selasa (10/07).

Boy mengaku, ibunya adalah peserta BPJS Kesehatan Kelas I. Saat dia meminta agar Ibunya yang bernama Rauna Simarmata itu diberikan perawatan dan menginap di RSCM, petugas menyampaikan sebaiknya dibawa pulang saja sebab kamar penuh.

“Padahal, saya mengecek kamar Kelas I masih ada yang kosong,” ujarnya.

Menurut Boy, mereka akan semakin lama menanggung penderitaan dan melihat ibunya yang kian tak berdaya, mengerang dan terus menerus kesakitan. Jika harus menunggu hasil diagnosa lagi, menurut dia, dia khawatir akan terjadi hal-hal yang fatal kepada Ibunya.

“Mama butuh dirawat secara intensif. Kami cemas sekali. Dan menurut saya, itu hasil diagniosa yang dibilang pihak rumah sakitu itu akan sangat lama keluar. Keadaan Mama ini udah enggak memungkinkan kalau tidak secepatnya ditangani. Takutnya kalau lebih lama lagi tak ditangani, akan jadi semakin parah penyakit Mama ini, bang,” tuturnya.

Dia menuturkan, Ibunya sudah sempat menjalani kemoterapi sebanyak 6 kali. Saat itu, penyakit ibunya masih stadium 1.

“Jadi saat menjalankan kemo ke 4, sempat benjolan mulai hilang tapi di kemo ke 5 benjolan itu mulai timbul lagi sampe selesai kemo ke 6 tetap enggak ada perubahan,” ujarnya.

Dia pun bingung dengan setiap laporan atau keluh kesah mereka yang tidak ditanggapi rumah sakit. “ Tiap kita mengeluarkan keluh kesah tentang keadaan mama enggak ditanggapi,” ujar Boy.

Malah, lanjutnya, Ibunya disarankan lagi untuk melanjutkan kemoterapi dengan jenis Kemo Sesi 2. Nah, untuk sesi ini, harus terlebih dahulu dilakukan operasi lagi.

“Tetapi pas mau pasca operasi ini malah diperlambat dari pihak rumah sakit, sampai keadaan mama sekarang udah makin parah, benjolannya malah semakin membesar,” tuturnya.

Koordinator Advokasi BPJS Watch Timboel Siregar menyampaikan, pihak rumah sakit, dalam hal ini RSCM, BPJS Kesehatan dan Kementerian Kesehatan harus bertanggung jawab.

Dia menegaskan, penelantaran pasien peserta BPJS Kesehatan dan sedang mengalami sakit parah adalah kesalahan yang tidak bisa ditolerir.

“Pihak Rumah Sakit, BPJS Kesehatan, dan Pemerintah, ya Negara jangan ngasal dong. Mereka harus bertanggung jawab. Tidak boleh ditolak itu pasien. Negara ini harus bertanggungjawab,” tutur Timboel.

Dia pun mengatakan, kejadian seperti ini kok masih terus saja terjadi tanpa adanya rasa tanggung jawab dari masing-masing pihak terkait. Timboel pun mendesak BPJS Kesehatan segera berkoordinasi dengan Pimpinan RSCM agar segera menangani pasien itu. “Jangan telantarkan pasien dong,” pungkasnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*