Breaking News

Jaksa Tak Kunjung Tetapkan Bupati Munahasa Utara Vonnie Anneke Panambunan Sebagai Tersangka

Jaksa Tak Kunjung Tetapkan Bupati Munahasa Utara Vonnie Anneke Panambunan Sebagai Tersangka.

Jaksa penyidik tidak kunjung menetapkan Bupati Minahasa Utara (Minut) Vonnie Anneke Panambunan (VAP) sebagai tersangka dalam kasus korupsi proyek Pemecah Ombak di Desa Likupang II.

Meski dalam sejumlah fakta persidangan, semua saksi dan pengakuan sudah menunjukkan peran Bupati yang sangat jelas, namun mantan terpidana korupsi itu tak jua ditetapkan sebagai tersangka.

Sebagaimana tergambar dalam persidangan lanjutan kasus ini, di Pengadilan Negeri Manado, Kamis (17/05/2018). Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara yang dikomandani  Bobby Ruswin menghadirkan 3 saksi, salah satunya yakni Meike Pantouw. Meike dihadirkan sebagai saksi A De Charge  atau saksi meringankan terdakwa RM alias Robby (47) selaku pelaksana proyek.

Mieke menerangkan, dirinya tidak terlibat dalam proyek pemecah ombak , saksi hanya sebatas orang kerja, bekerja dengan Bupati Minut – VAP. “Saya tidak ada kaitannya dengan proyek, saya bekerja sejak ibu (VAP) belum menjabat sebagai bupati Minut, 30 tahun lamanya ikut ibu,” ucap Saksi di hadapan majelis hakim Vincentius Banar dkk.

Mieke juga membeberkan jika sering diajak Bupati ke lokasi pemecah ombak di desa Likupang II. Dan beberapa kali melihat Rio Permana di lokasi tersebut.

“Pernah lihat proyek pemecah ombak dengan ibu. Disana, Ada pak Rio Permana , mantan kapolresta. Waktu itu juga , lia lia ada bapak Decky , kenal lia dilokasi. Dengar dengar pak Maukar kontraktor,” ujar saksi menjawab pertanyaan Penasehat Hukum (PH) terdakwa, Reynald Pangaila dan Reza Sofyan, jika saat berada di lokasi proyek, saksi ada melihat Rio Permana.

Selanjutnya saksi menerangkan sebagaimana yang dilihat, aktifitas Rio di lokasi proyek, “Pak Rio cuma bajalan jalan, kasana kamari (mondar mandir,red), cuma itu saja,”.

Saksi juga menceritakan apa yang dialaminya langsung, soal slip pengiriman uang sejumlah Rp5.2 Miliar, bahwa saksi-lah yang menulis isi slip berdasarkan ejaan dari Bupati Minut-VAP. “Saya tidak tau sumber doi, kita cuma disuruh, suruh tulis, ibu yang ejah,” ungkap saksi. Dia mengatakan, jika saat itu dirinya bersama ada Robby dan satu orang lainnya.

Saksi kemudian diperlihatkan bukti slip yang dimaksud, oleh JPU, dan di hadapan majelis hakim, saksi mempertegas juga membenarkan slip tersebut lah yang ditulisnya.

Dalam slip saksi menulis, “Sumber dana proyek, untuk pembelian barang baku,” jelasnya, menuliskan atas ejaan Bupati . Saksi melihat cek juga waktu itu, baik slip dan cek sudah terklip satu. Dan saksi memang sudah beberapa kali dimintai tolong menuliskan hal serupa.

Diketahui, JPU Bobby Ruswin sudah melakukan pemanggilan terhadap Bupati Minut VAP untuk bersaksi sudah kedua kali, kembali VAP tidak dapat menghadiri sidang, dengan pemberitahuan, sedang keluar kota menghadiri suatu kegiatan.

Begitu juga dengan saksi Kombespol Rio Permana, bahkan sudah tiga kali dipanggil , tidak ada pemberitahuan sama sekali ke JPU , atas ketidak-hadirannya memenuhi panggilan jaksa untuk bersaksi dalam sidang. Dimana saksi dianggap penting untuk didengar keterangannya, agar kasus ini tuntas dan terang.

Kasus ini baru bisa menjerat tiga terdakwa, yaitu RT alias Rosa mantan Kepala BPBD selaku kuasa pengguna anggaran (KPA), SHS alias Steven selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan RM alias Robby, selaku pelaksana pekerjaan yang juga merupakan Direktur PT Manguni Makasiouw Minahasa (MMM).

Mereka pun dijerat pidana oleh JPU dengan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 juncto (jo) Pasal 18 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dan ditambahkan dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999, jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*